Peringati Sumpah Pemuda, Aliansi Solo Gelar Aksi Bertajuk “Surakarta Sadar”
ISLAMIKAONLINE.com, UMS – Aliansi mahasiswa dan masyarakat menggelar aksi bertajuk “Surakarta Sadar” di Perempatan Gatot Subroto, Surakarta, Rabu (28/10/26). Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, aksi tersebut menjadi ruang penyampaian kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak kepada masyarakat, khususnya dalam persoalan ekonomi, kesejahteraan, dan kebebasan sipil.
Dalam pernyataan sikapnya, massa menilai kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah saat ini masih menyisakan berbagai persoalan. Mereka menyampaikan tujuh tuntutan, yakni penetapan Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di berbagai daerah sebagai bencana nasional, penerbitan peraturan mengenai standarisasi upah minimum guru honorer setara UMP atau UMK, serta efisiensi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) agar dialokasikan sesuai prioritas kebutuhan Masyarakat.
Massa juga menuntut stabilisasi nilai tukar rupiah, audit Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) secara transparan serta pemulihan hak warga yang terdampak kesalahan penentuan desil. Selain itu, mereka mendesak penghentian konflik agraria dan eksploitasi alam yang mengabaikan hak kelola rakyat, serta menjamin ruang sipil yang aman dan bebas dari kekerasan aparat.
Moehajir, perwakilan Aliansi Mahasiswa UNS, menjelaskan bahwa pemilihan Perempatan Gatot Subroto sebagai lokasi aksi didasarkan pada posisinya yang strategis di pusat Kota Surakarta. Menurutnya, lokasi tersebut diharapkan dapat menarik perhatian masyarakat sekaligus memperluas penyampaian pesan aksi.
“Kami melihat Gatot Subroto sebagai titik sentral Kota Surakarta yang dilihat publik. Harapannya, masyarakat bisa mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak baik-baik saja,” ujar Moehajir saat diwawancarai di sela-sela aksi.
Ia menjelaskan, pemilihan lokasi tersebut juga menjadi upaya menghadirkan titik aksi baru setelah sebelumnya massa melakukan aksi di Balai Kota dan kawasan Gladak. Selain itu, momentum Hari Sumpah Pemuda dipilih untuk menegaskan bahwa semangat persatuan tidak hanya menjadi milik pemuda, tetapi juga seluruh masyarakat.
“Momentum 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda karena kami ingin Sumpah Pemuda ini bukan hanya milik pemuda, tetapi milik rakyat,” katanya.
Moehajir menambahkan, aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas dan berupaya terhubung dengan gerakan nasional di sejumlah daerah, termasuk Jakarta dan Yogyakarta. Karena itu, Aliansi Mahasiswa UNS bersama BEM Solo Raya dan kelompok kolektif lainnya berupaya membangun gerakan yang inklusif tanpa sekat almamater maupun identitas golongan. “Kami ingin membawa gerakan ini tetap inklusif, artinya rakyat Solo bisa terlibat tanpa ada sekat-sekat almamater maupun identitas golongan,” ungkapnya.
Melalui aksi tersebut, Moehajir berharap masyarakat semakin menyadari kondisi sosial dan ekonomi yang dihadapi serta terdorong untuk terlibat dalam gerakan bersama. Ia menegaskan bahwa aksi tidak berhenti pada penyampaian tuntutan, tetapi juga bertujuan menumbuhkan kesadaran publik.
“Output yang ingin kami hasilkan adalah memberikan kesadaran kepada masyarakat. Kesadaran itu yang akhirnya menjadi api-api kecil untuk membangun Indonesia ke depan,” tuturnya.
Terkait kemungkinan aksi lanjutan, Moehajir menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi terlebih dahulu untuk menentukan langkah berikutnya. Ia berharap gerakan mendatang dapat melibatkan lebih banyak elemen masyarakat dan mengakomodasi persoalan yang lebih spesifik di tingkat daerah.
Reporter: Inni Fadilatul dan Zulfa Hasanah
Editor: Redaksi

