BISA MEMBACA, BELUM TENTU MEMAHAMI: INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN TAFSIR AL-QUR’AN BAGI GENERASI DIGITAL
Membaca Al – Qur’an merupakan praktik umum di kalangan masyarakat Muslim . Sejak kecil , banyak orang yang mulai mengenal huruf hijaiyah, membaca ayat demi ayat, dan bahkan menghafal beberapa surah untuk keperluan ibadah. Namun , kemampuan melafalkan dengan baik tidak selalu berarti seseorang memahami isi dan maknanya. Banyak yang bisa melafalkan ayat , namun belum mampu menjelaskan pesan yang terkandung di dalamnya. Di zaman modern ini , terdapat berbagai cara untuk mempelajari Al – Qur’an (Ayuni dkk. 2024). Generasi muda saat ini dapat menyaksikan video kajian, melihat infografik, memanfaatkan aplikasi Al – Qur’an, atau mengakses informasi keislaman melalui ponsel mereka . Sayangnya, kemudahan akses ini tidak selalu membuat orang lebih memahami isi Al – Qur’an. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang mengasyikkan dan dapat membantu pembaca memahami makna ayat sangatlah penting. Dengan cara ini, Al – Qur’an tidak sekedar dibaca tetapi juga dipahami dan dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari -hari (Al – Mizān, nd). Keterampilan membaca Al – Qur’an adalah langkah awal dalam mempelajari kitab suci, namun perjalanan tidak harus berhenti sampai di situ . Membaca dan menghafal memang penting, tetapi pemahaman juga harus diutamakan
Ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Shad [38]: 29, yang menyatakan bahwa Al – Qur’an hadir sebagai kitab yang penuh berkah agar manusia dapat memikirkan ayat – ayatnya dan mengambil pelajaran darinya . Ayat tersebut menekankan bahwa Al – Qur’an tidak hanya ditujukan untuk dibaca, tetapi juga untuk direnungkan maknanya. Dalam hal ini, tafsir memiliki peran yang krusial —membantu pembaca memahami ayat pesan melalui penjelasan bahasa, konteks, dan sudut pandang para mufasir. Namun sering kali, proses belajar lebih banyak fokus pada aspek membaca dan menghafal, sehingga diskusi mengenai makna menjadi kurang. Padahal, aspek ketiga ini dapat dilakukan secara bersamaan. Membaca menjadi fondasi , menghafal ayat berfungsi untuk mengingat, dan memahami membantu individu dalam mengambil pelajaran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari- hari mereka.
Generasi muda masa kini berkembang di tengah kemajuan teknologi yang membuat akses informasi menjadi lebih mudah (Sukmaningtyas et al. 2024). Dengan menggunakan smartphone, mereka dapat menjelajahi beragam video pembelajaran , aplikasi Al-Qur’an, dan konten keislaman tanpa perlu pergi ke tempat belajar secara langsung (Salam et al. 2024). Situasi ini sebenarnya memberikan peluang besar untuk pengembangan pembelajaran tafsir Al-Qur’an. Meski begitu , cara menyampaikan materi tafsir yang sering bergantung pada ceramah yang panjang dan teks yang padat terkadang membuat beberapa pembelajar merasa perlu cara lain yang lebih efektif untuk memahami materi . Di sisi lain, banyaknya informasi yang tersebar di web juga menghadirkan tantangan tersendiri. Misalnya , potongan ayat yang beredar di media sosial bisa disampaikan tanpa penjelasan konteks yang memadai.
Belum lagi adanya konten keagamaan yang tidak mencantumkan sumber yang jelas sehingga berpotensi memicu kesalahpahaman (Firman Maulidna dkk. 2025). Oleh karena itu, teknologi seharusnya tidak dipandang sebagai penghambat dalam mempelajari Al-Qur’an. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan materi dengan cara yang menarik, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sini media pembelajaran yang relevan berperan penting dalam menjembatani pemahaman tafsir Al-Qur’an bagi generasi digital.
Penggunaan media yang sesuai bisa menjadi salah satu cara untuk membuat pembelajaran tafsir Al-Qur’an menjadi lebih menarik dan mudah dipahami (Sutarmi et al. 2025). Salah satunya adalah melalui video singkat yang memberikan penjelasan ayat dengan narasi, ilustrasi, dan contoh yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya, QS. Al-Hujurat [49]: 6 mengenai tabayyun dapat dihubungkan dengan kebiasaan menyebarkan informasi di WhatsApp tanpa melakukan pemeriksaan kebenarannya terlebih dahulu. Dengan contoh seperti ini, pesan dalam ayat terasa lebih relevan dengan isu yang dihadapi mahasiswa. Selain video, infografik juga dapat dimanfaatkan untuk memperlihatkan inti kandungan ayat, konteks, dan pokok penafsiran melalui tampilan visual yang ringkas. Media ini membantu siswa untuk memahami gagasan utama sebelum menyelami penjelasan lebih dalam. Proses pembelajaran juga dapat ditambah dengan kuis atau permainan interaktif yang mengajak mahasiswa untuk menjawab pertanyaan berdasarkan pemahaman terhadap ayat, bukan sekadar menghafal terjemahannya. Sedangkan podcast dan diskusi daring dapat menjadi wadah untuk membahas isu kontemporer, seperti etika media sosial dan tanggung jawab dalam menyebarkan informasi, dari sudut pandang tafsir. Meskipun demikian, penggunaan media kreatif tetap memerlukan ketelitian dalam pemilihan sumber. Penjelasan ayat harus mengacu pada kitab tafsir dan sumber ilmiah yang terpercaya agar penyampaian yang ringkas tidak mengubah atau menyimpangkan makna. Dengan demikian, teknologi bukan sekedar alat untuk menarik perhatian, melainkan sarana yang membantu proses pemahaman pesan Al-Qur’an secara lebih signifikan.
Meskipun inovasi teknologi memberikan banyak kemudahan dalam mempelajari tafsir Al-Qur’an, penggunaannya tetap memerlukan sikap analitis . Platform digital sebaiknya dijadikan alat bantu , bukan substitusi peran pengajar , dosen, atau pengalaman belajar yang mendalam. Saat menemukan penjelasan suatu ayat melalui video atau postingan di media sosial, siswa harus memverifikasi asal usulnya , memahami konteks ayat tersebut , serta membandingkan interpretasi dari kitab tafsir yang diakui . Tindakan ini penting agar privasi tidak hanya terbentuk dari potongan informasi yang mungkin tidak utuh.
Dalam konteks ini, mahasiswa di bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir berkesempatan untuk berkontribusi dalam menghadirkan konten edukatif yang menarik tanpa mengabaikan kecuali penafsiran. Keberhasilan media pembelajaran tidak hanya diukur dari banyaknya penonton atau jumlah suka, tetapi juga dari seberapa besar media tersebut membantu orang untuk memahami pesan ayat dan menjelaskannya dengan tepat serta menerapkannya secara bijak dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, tantangan dalam pembelajaran Al-Qur’an di zaman digital bukanlah hanya tentang memberikan akses yang mudah, melainkan juga mendukung generasi muda untuk memahami arti dan pesan yang ada di dalamnya. Pemanfaatan video, infografik , atau media interaktif bisa menjadi alternatif untuk membuat pembelajaran tafsir lebih menarik, asalkan tetap didukung oleh sumber yang dapat dipercaya dan bimbingan yang baik . Teknologi memang memberikan banyak kemudahan, namun pemahaman yang mendalam tetap memerlukan proses belajar dan refleksi . Keberhasilan dalam mempelajari Al-Qur’an tidak hanya terlihat dari seberapa fasih ayat yang dibaca atau seberapa menarik konten yang ditampilkan , tetapi juga dari seberapa mendalam pesan- pesan tersebut dipahami dan diterapkan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari
Penulis: MUHAMMAD YOSEFIAN AQILLA
Editor: Redaksi

