Memahami Tajwid dari YouTube, Sudahkah Cukup Melancarkan Bacaan Kita?
Pernah bingung membedakan hukum bacaan idzhar, idgham, iqlab, dan ikhfa’ saat membaca Al-Qur’an? Bagi banyak orang dewasa mempelajari kembali materi pelajaran disekolah dulu menjadi hal yang dibutuhkan lagi untuk memahami hal yang sudah terlupakan. Dan YouTube menjadi pilihan yang praktis karena bisa langsung ketik kata kunci, pilih video, lalu belajar kapan saja dan di mana saja.
Padahal, membaca Al-Qur’an dengan tartil adalah perintah wahyu sendiri (QS. al-Muzzammil [73]: 4). Tartil yaitu membaca dengan tenang dan benar sesuai kaidah bacaannya yang disebut kaidah tajwid, (Nurrohim, 2026). Dalam pembelajaran materi tajwid, hukum nun sukun dan tanwin adalah salah satu kaidah pertama yang dipelajari.
Kebiasaan belajar lewat YouTube menjadi salah satu alternatif untuk memahami tajwid seperti yang tampak pada video berjudul “Hukum Nun Mati dan Tanwin (Idzhar, Idgham, Iqlab, Ikhfa’) Tajwid Mudah” dari kanal Al-MUSTARI–Madrasah Online. Pada pengamatan 24 Oktober 2026 dalam rangka menganalisis media pembelajaran Al-Qur’an, video berdurasi 12 menit 8 detik ini telah ditonton 2.218.180 kali, disukai 45 ribu orang, dan dikomentari 1.095 kali (Al-MUSTARI–Madrasah Online, 2021). Sebagian penonton mengaku terbantu karena penjelasannya pelan dan sederhana. Namun, jumlah tanyangan hanya menjadi indikator popularitas, tapi belum membuktikan bahwa media itu sesuai dengan tujuan belajar (Pagarra et al., 2022, dalam Nurrohim, 2026). Jadi, apakah menonton video ini sudah cukup membuat bacaan kita benar?
Kenapa video sangat membantu dalam pembelajaran tajwid?
Tajwid memadukan simbol visual seperti huruf dan harakat, dengan bunyi yaitu dengung dan panjang-pendek, sehingga pembelajarannya membutuhkan dukungan audio dan visual (Nurrohim, 2026). Dalam taksonomi Bretz (1971), kombinasi suara dan gambar ini tergolong media audiovisual. Video Al-MUSTARI memenuhi kebutuhan tersebut dengan menampilkan teks Arab, pembagian hukum bacaan, dan narasi pengajar dalam satu layar.
Tempo bicara pembicaranya yang pelan memberi waktu bagi pemula untuk mencerna istilah baru. Video juga bisa dijeda dan diulang, sejalan dengan ciri media digital yang personal dan terhubung jaringan (Frechette & Williams, 2016, dalam Nurrohim, 2026). Bahkan, beberapa penonton menyebut menontonnya berulang kali. Untuk mengenal dan memahami konsep dasar, yaitu ranah kognitif, video seperti ini layak sangat membantu.
Sisi Kritis: Ada yang Tidak Bisa Diberikan Layar
Pertama, komunikasinya satu arah. Kerangka tujuan belajar yaitu membedakan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik (Nurrohim, 2026). Menerapkan hukum tajwid saat membaca Al-Qur’an termasuk keterampilan psikomotorik, yang sulit dilatih lewat tayangan satu arah. Video ini tidak memiliki kuis maupun latihan terstruktur. Layar ponsel tidak mendengar bacaan kita dan tidak bisa menegur saat lidah terpeleset pada ikhfa’ atau iqlab.
Kedua, pengajar juga bisa keliru. Terdapat kesalahan penyebutan dalam video tersebut, pengajar menyebut idgham bighunnah menjadi idgham bila ghunnah. Ia pun mengoreksinya, namun koreksi tersebut berada di deskripsi dan komentar tersemat, bukan di dalam video. Ketepatan istilah menjadi bagian penting dari kelaikan teknis suatu media. Penonton yang tidak membuka deskripsi maupun kolom komentar berpotensi salah dalam penyebutan hukum tajwid.
Ketiga, kolom komentar tidak menggantikan peran guru. Pertanyaan lanjutan tetap muncul setelah video tersedia, misalnya apakah ikhfa’ dibaca lebih tebal ketika bertemu huruf isti’la. Pembuat menjawab dengan konfirmasi singkat. Jawaban tertulis seperti ini membantu, tetapi tidak dapat menilai kualitas dengung, kejelasan makhraj, atau ketepatan panjang bacaan.
Menempatkan Video pada Porsinya
Dalam tradisi belajar Al-Qur’an, dikenal talaqqi: membaca di hadapan guru dan menerima koreksi langsung. Kerucut Pengalaman Edgar Dale menyusun media dari yang paling konkret hingga paling abstrak, dengan film atau video berada di tingkat tengah (Dale, 1969). Dalam konteks Al-Qur’an, membaca langsung bersama guru berada pada tingkat pengalaman langsung, sedangkan menonton video berada pada tingkat film atau video (Nurrohim, 2026).
Karena itu, video tajwid bukan menggantikan guru ngaji. Tapi, ia sebagai jembatan menuju praktik.
Tiga hal yang harus dilakukan saat memanfaatkan video pembelajaran tajwid
- Tontonlah video untuk memahami konsep dasar materi tajwid dan gambaran dalam mempraktikkannya.
- Kemudian bacalah deskripsi video maupun komentar yang disematkan untuk memastikan tidak ada kesalahan sebelum menarik kesimpulan isi video
- Terakhir, lanjutkan dengan talaqqi, yaitu mempraktikkan bacaan dihadapan guru baik ustadz maupun ustadzah agar dapat dikoreksi dan dipastikan bacaan yang kita praktikkan benar sesuai kaidah tajwid.
Penutup
Video seperti karya Al-MUSTARI telah menolong banyak orang berkenalan dengan tajwid melalui cara yang bersahabat dan mudah dijangkau. Meski demikian, tulisan ini berpijak pada analisis deskriptif kualitatif atas satu video beserta sejumlah komentar yang dapat dilihat, tanpa menakar capaian belajar. Karena itu, kesimpulannya berkaitan dengan kecocokan media, bukan keefektifannya (Nurrohim, 2026). Layar mampu memberi penjelasan, namun hanya guru yang dapat menyimak bacaan dan mengoreksinya. Maka, jadikanlah YouTube sebagai pintu awal, sedangkan guru ngaji menjadi tempat kita sungguh-sungguh belajar membaca.
Penulis : Idatul Marfu’ah

