ARTIKEL

Penerapan Teori Empirisme dalam Pondok Pesantren

Anak muda zaman sekarang termasuk gen Z, yaitu mereka yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012 dan sekiranya mereka berumur 11-26 pada tahun 2023 ini. Pada umur ini mereka sangat membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang sangat banyak untuk masa depannya. Mereka mendapatkannya dengan pembelajaran formal seperti di dalam kelas kemudian mereka akan mengamalkan apa yang telah diajarkan oleh guru, ataupun dengan melihat perilaku orang-orang di sekitarnya. Dengan cara itu mereka akan mencontoh perilaku tersebut. Namun, itu tetap kembali pada setiap individu, entah mereka akan berperilaku yang baik ataupun yang kurang baik. Itu semua sering terjadi di pondok pesantren.

Berikut dalil tentang wajibnya menuntut ilmu:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadalah:11)

Pondok pesantren ialah lembaga pendidikan seperti pada umumnya. Namun, di dalamnya hanya berisi orang-orang Islam yang berkegiatan belajar dan mengajar. Komponen yang ada di dalamnya adalah santri sebagai muridnya, guru atau ustadz sebagai pembina santri-santrinya, serta kyai yang mendirikan pondok pesantren tersebut atau pun anak turun dari pendirinya. Pondok pesantren khusus untuk santri-santri yang rela menghabiskan masa mudanya hanya untuk mencari ilmu di tempat tersebut serta mempelajari dan mengamalkan ilmu-ilmu kehidupan.

Guru atau biasa disebut ustadz yang menjadi pembina santri-santri, biasanya sudah lebih banyak menguasai ilmu-ilmu yang sedang dipelajari oleh seorang santri. Sehingga apabila santri-santri menanyakan sesuatu kepadanya maka akan dijawab pertanyaan itu dengan mudah. Mereka juga bertugas membina santri-santri yang ada di pondok pesantren serta membentuk karakter yang baik pada setiap santri. Di sisi lain para pembina harus mengetahui perkembangan setiap santri sehingga dapat melaporkannya pada wali santri dan kyai di pondok tersebut.

Metode pembelajaran pada pondok pesantren sebenarnya ada banyak sekali. Namun, bisa digolongkan menjadi dua, yang pertama dengan metode pembelajaran formal. Metode pembelajaran formal ialah metode dengan cara guru yang menerangkan pelajaran dan murid yang mendengarkan, dan dalam bahasa pesantren disebut dengan bandongan. Metode yang kedua yakni metode non formal. Metode ini sangat banyak contohnya, salah satunya ada diskusi atau musyawarah yang saling mengajukan argumen-argumen yang benar menurutnya. Selain itu ada juga bahtsul masail. Bahtsul masail dilakukan dengan membuat forum yang membahas atau menyelesaikan suatu permasalahan.

Namun tidak hanya itu, walau di dalam kelas tidak diajarkan, sesungguhnya banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dan diamalkan dari kehidupan sehari-hari yang biasa dilihat dengan panca indra. Baik itu dari perilaku kyai, ustadz, kakak kelas, bahkan dari teman sendiri. Dalam teori filsafat, teori seperti ini biasa disebut dengan teori empirisme.

Teori empirisme ialah teori atau suatu cara untuk memperoleh pengetahuan yang dihasilkan dari pengalaman indera manusia sendiri. Baik itu dengan melihat yang biasa disebut dengan pengamatan atau dengan melakukan pergerakan dengan tubuh kita. Definisi ini diambil dari kata empiris sendiri yang artinya pengalaman. Dalam KBBI V, kata empirisme diartikan dengan teori yang mengatakan bahwa semua pengetahuan didapat dengan pengalaman.

Secara tidak sadar teori ini sangat cocok dengan kehidupan-kehidupan yang ada di pesantren. Karena di pondok pesantren mereka hidup bersama-bersama 24 jam. Sehingga mereka sering kali melihat secara langsung pengetahuan-pengetahuan yang baru dengan mengamati keadaan yang terjadi di pondok pesantren tersebut. Pengetahuan baru ini menimbulkan perilaku-perilaku yang bisa dicontoh dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan dari perilaku tersebut termasuk perilaku yang positif atau baik. Sehingga wali santri akan senang dan bahagia Ketika mengetahui perkembangan anaknya antara sebelum tinggal di pondok pesantren dan ketika tinggal di pondok pesantren dalam hal berperilaku.

Contoh-contoh penerapam teori empirisme di dalam pondok pesantren sangat banyak sekali. Namun, di sini hanya mengambil beberapa saja. Berikut contoh-contoh penerapan teori empirisme di dalam pondok pesantren:

  1. Ketika ada santri baru melihat kakak kelasnya yang beberapa kali menata sandal kyai dan para dzuriyah. Kemudian dia berfikir ini adalah pengetahuan baru bahwa menata sandal kyai dan dzuriyah itu perilaku yang baik. Sehingga dia akan melakukannya di kemudian hari.
  2. Ketika ada kyai atau sesepuh pondok pesantren hendak mengimami di masjid, para santri yang ada di masjid berhenti dan menunduk atau menunjukkan sifat tawadhu’nya kepada kyai tersebut. Dan di dalam situasi tersebut ada santri yang kurang faham dengan ini. Tetapi, dia
    tetap mengikutinya. Kemudian dia berfikir bahwa hal tersebut suatu perilaku yang baik. sehingga dia akan mengamalkannya Ketika bertemu dengan beliau.
  3. Terkadang di pondok pesantren laki-laki, kakak kelasnya sudah mahir menggunakan sarung dengan rapi, mereka mengenakannya di depan para santri baru. Sehingga para santri baru melihat serta akan mencobanya di lain waktu.
  4. Ketika santri melihat sang guru berbuat baik, atau juga mengamalkan apa yang diajarkan. Maka, tidak sedikit santri yang akan meniru kehidupan guru tersebut.
  5. Seorang santri mengetahui bahwa kyai mereka juga mendukungnya secara batin yakni dengan mendoakannya setiap hari. Maka, seorang santri tersebut akan juga selalu mendoakan kyainya. Dan masih banyak lagi contohnya.

Setelah mengetahui bahwa teori filsafat juga bisa diterapkan dalam pondok pesantren, yakni teori empirisme, karena itu mengapa akhlak seorang santri kebanyakan baik dikarenakan mereka melakukannya dengan melihat guru ataupun kyainya ketika melakukan hal baik juga. Serta mereka juga melihat teman-temannya melakukan hal yang baik pula, sehingga mereka akan merasa sungkan apabila tidak melakukannya.

Berawal dari sifat seperti itu dimana mereka merasa terpaksa untuk melakukannya, sedikit demi sedikit akan terbiasa dengan perilaku baik. Karena mereka memiliki prinsip Fastabiqul Khoirot yang artinya berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Sebenarnya teori ini juga bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Seperti halnya seorang anak melakukan sesuatu dengan mencontoh orang tuanya melakukan suatu perbuatan tersebut. Sehingga apabila orang tua berperilaku jelek maka seorang anak tidak jauh akan menirunya. Begitu juga sebaliknya.

Penulis: Lyna Syahnuriyah Al-Hamdany

admin

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *