Shiroh

Muhammad Sang Yatim: Janji Kemenangan yang Dinanti

Kelahiran, Penyusuan, dan Masa Pertumbuhan Nabi.

Sosok yang agung dan pemimpin yang hebat akan terlihat dari sejak masa awal kelahirannya, itulah yang terjadi pada sosok Nabi Muhammad. Sang Yatim, sosok yang sudah terlihat keistimewaannya semenjak masih berada dalam kandungan.

Nabi Muhammad lahir di Mekkah tepatnya pada hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal pada tahun 570 Masehi yang dikenal dengan sebutan tahun gajah, yaitu tahun kedatangan pasukan gajah ke Mekkah di bawah pimpinan Raja Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah. Tentu sangat bahagia ibunda Aminah ketika lahirnya sang pujaan, namun kebahagiaan itu berubah menjadi kesedihan dan keperihan hati ketika mengingat sang suami yang tidak pernah lagi mendampinginya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam sejak dalam kandungan sudah ditinggal ayahnya, lebih tepatnya masih dua bulan dalam kandungan ibunda Aminah. Di saat perjalanan pulang ke Mekkah Abdullah jatuh sakit dan meninggal, dan akhirnya dikubur di Madinah. Menurut Riwayat Az-Zuhri: “Abdul Muthallib mengutus Abdullah mengurus kurma yang dibawa dari Yastrib lalu Abdullah meninggal dunia dalam perjalanan. Dari sepeninggal Abdullah, Muhammad menjadi seorang anak yatim.

Dalam tradisi Arab, pengasuhan anak yang baru lahir mengharuskan untuk dirawat oleh bani lain. Nabi Muhammad diasuh di kabilah Bani Sa’ad. Ibu susu yang menyusui beliau bernama Halimah as-Sa’diyyah, sebagaimana yang yang telah diriwayatkan dengan sanad shahih. Beliau tinggal di kabilah tersebut selama dalam penyusuan Halimah, kurang lebih selama empat tahun.

Siti Aminah wafat di saat nabi Muhammad masih berumur enam tahun, beliau kemudian menjadi anak sang yatim piatu. Setelah Siti Aminah meninggal dunia, Abdul Muthallib bertanggung jawab dan merawat Nabi Muhammad. Namun dua tahun kemudian sang kakek meninggal dunia. Maka tanggung jawab selanjutnya beralih pada pamannya yaitu Abu Thalib.

Semasa remaja, Nabi Muhammad terbiasa hidup mandiri dan pekerja keras, beliau mengembala kambing milik pamannya dan juga berdagang. Semasa dalam pengasuhan Abu Thalib, beliau sudah diajari berdagang.

Masa Kenabian

Disaat Nabi berumur 40 tahun beliau menerima wahyu yang bertepatan pada bulan Ramadhan, di gua Hira. Peristiwa pertama yang dialami Nabi Muhammad adalah pengukuhan kenabian. Allah SWT menyuruh beliau untuk memberikan peringatan kepada kaumnya dan mengajak untuk beribadah kepada Allah semata.

Sebagaimana firman Allah, “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS, Muddattsir: 1-4)

Turunnya ayat tersebut membuat Nabi Muhammad tidak berhenti dalam melaksanakan tugas dakwah, berupa peringatan-peringatan yang beliau sampaikan kepada penduduk mekkah yang masih musyrik pada kala itu. Dalam menyampaikan dakwahnya Nabi Muhammad mendapatkan tantangan dari kaum Quraisy, mulai dari perlawanan, pelecehan, sampai berusaha untuk membunuh beliau dan para sahabatnya.

Setelah mengalami berbagai macam tantangan dari kaum Qurasiy, umat muslim memilih untuk berhijrah ke Madinah dikarenakan kaum kafir Quraisy Mekkah tidak lagi menerimanya. Nabi kemudian tinggal di Madinah bersama orang yahudi yang sangat membenci Islam, adapun tantangan yang dihadapi Nabi Muhammad selama di Madinah adalah peperangan. Perang tersebut ialah perang Badar, perang pertama umat Islam melawan kaum kafir Quraisy.

Kemenangan yang Dinanti

Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadan tahun 2 Hijriah atau tahun 624 Masehi. Tujuan utama umat muslim melakukan perang Badar adalah untuk mempertahankan dan menegakkan eksistensi dari agama Islam, serta untuk mengambil hak-hak orang muslim yang dulu dirampas oleh kaum Quraisy.

Peperangan badar diawali dengan duel satu lawan satu. Dalam duel ini kaum kafir Quraisy mengalami kekalahan, dan akhirnya mereka pun menyerang pasukan kaum muslimin. Rasulullah bersabda: “Apabila mereka telah mendekat, panahilah mereka dan dahului mereka dengan anak panah kalian”. Kemudian, kedua pasukan terlibat dalam pertempuran yang hebat sehingga terbunuhlah beberapa orang pembesar dari kaum Musyrikin. Diantaranya abu jahal.

Perang badar ini berhasil ditaklukkan oleh kaum muslimin yang membuat banyak terbunuhnya pasukan kaum Musyrikin, hingga jumlah yang tewas dari pihak mereka mencapai 70 orang, dan jumlah yang tertawan juga 70 orang. Peperangan ini menjadi viral dikalangan kaum kafir Quraisy. pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Pertempuran Badar sangatlah berarti karena merupakan bukti pertama bahwa kaum Muslim berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Kemenangan ini juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahwa suatu kekuatan baru telah bangkit di Arab, serta memperkokoh otoritas Muhammad sebagai pemimpin atas berbagai golongan masyarakat Madinah.

Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangun persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah. Dengan demikian, kekuatan agama Islam pun dimulai. Dan perang ini bisa disebut dengan kemenangan yang dinanti.

Dari kisah diatas bisa disimpulkan bahwa Nabi Muhammad ditinggal ayahnya saat berada di dalam kandungan dan ditinggal Siti Aminah pada umur enam tahun. Nabi Muhammad pada masa remaja sudah hidup mandiri di bawah asuhan Abu Thalib selaku pamannya. Pada masa kenabian, Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di gua hira. Pada masa itu Nabi Muhammad diutus untuk memberi peringatan kepada kaumnya, sehingga banyak tantangan dan penolakan dari kafir Quraisy, namun Nabi Muhammad tetap menjalankan tugasnya untuk memberi peringatan.

Tantangan kafir Quraisy membuat Kaum Muslim melakukan Hijrah ke Madinah untuk menghindari serangan kafir Quraisy yang ingin membunuh Nabi, sahabat dan keluarganya. Dan selama di Madinah tantangan yang didapat salah satunya ialah perang, perang pertama umat muslim yang dinamakan perang badar. Perang badar ini kemudian dimenangkan oleh Kaum Muslim.

Penulis: Mohammad Nuril Barqul Fuadi


admin

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *