OPINI

Menikah Solusi Segala Permasalahan ?

‘Capek banget hidup, pengen nikah aja’. Sudah barang tentu kalimat tersebut tidak asing lagi di telinga atau acapkali terlintas di kolom komentar media sosial.

Entah, apakah ini sebuah wabah atau apalah kata yang sepadan dengan maksudnya, fenomena ini menjangkit hampir seluruh remaja atau ABG-ABG terutama kaum hawa.

Dan bahkan menjadi tren yang segala hal dikaitkan dengan kata ‘pengen nikah’, sedang galau pengen nikah, stres dikit pengen nikah, tidak bisa tidur pengen nikah, sampai keseringan melamun pun ditafsirkan sebagai tanda pengen nikah.

Memang kalimat yang disandingkan dengan kata pengen nikah tersebut bernarasi miring atau hanya sebatas sendagurau anak muda semata, akan tetapi dalam secarik tulisan ini penulis ingin mencoba agak serius dengan sedikit melihat sisi lain dari kata menikah yang katanya solusi dari segala permasalahan.

Tujuan Menikah

Meskipun acapkali kalimat-kalimat yang disandingkan dengan narasi miring, akan tetapi tidak sedikit juga yang kemudian remaja puber akhirnya berlabu di tenda pernikahan.

Setelah penulis telisik cukup jauh di media sosial alasan-alasan yang dilontarkan sangat variatif, ada yang beralasan karena sudah punya pacar dan menjalin kedekatan cukup lama, karena ingin menghindari zina, karena biar bisa ini dan itu secara halal serta masih banyak alasan lainnya. Alasan-alasan tersebut sebenarnya cukup ironis, misalnya saja karena ingin menghindari zina.

Memang ada sisi positifnya, akan tetapi secara disadari atau tidak kalimat tersebut merendahkan derajat laki-laki yang seolah mengatakan bahwa yang ada dalam pikiran laki-laki hanya segs ( bahasa gaul yang bisa bermakna seks atau hal kotor). Atau misalnya menutup aurat agar tidak jadi bahan tontonan laki-laki mata keranjang, hal tersebut seolah positif tapi secara tidak langsung berkedok negatif.

Loh, kok begitu? Hal ini tentu terdapat sebab atau pangkal permasalahannya yang salah satunya ialah kesalahpahaman dalam memaknai kata menikah. Singkatnya, tujuan menikah bukanlah untuk bersenang-senang, atau agar bisa leluasa berbuat ini itu bersama karena sudah halal, apalagi untuk menarik rezeki yang banyak.

Ya, meskipun kenikmatan-kenikmatan tersebut selalu menyertai setelah menikah akan tetapi menikah bukan untuk itu, bukan sekedar sekelumit hayalan di kepala saja. Dan tentu harus beralasan yang jelas, sebagaimana kalimat yang pernah dilontarkan ust. Hamdan Maghrib, M.Phil ‘jika kamu mencintai atau menginginkan sesuatu tanpa alasan yang jelas, makan bersiaplah kehilangan tanpa alasan yang jelas juga’.

Dan jelas, tujuan menikah ialah meraih Ridho Alllah subhanahu wa ta’ala dan bukan yang lainnya, yang lain itu hanyalah bonus. Sebab menikah bukan ibadah sembarangan, bukan seperti salat yang selesai dalam sepuluh menit misalnya, bukan sebagaimana puasa atau haji yang terbatas dan selesai dalam kurun waktu tertentu.

Menikah adalah ibadah yang panjang dan terjal yang durasinya seumur hidup dan bahkan sampai di akhirat. Mengapa terjal? Sebab, setelah menikah harus menjalin kehidupan secara bersama selamanya yang ketika terjadi permasalahan di dalamnya juga harus diselesaikan bersama. Mungkin jika masih tahun-tahun pertama belum begitu terasa, akan tetapi ketika tahun-tahun sesudahnya akan mulai terasa.

Sebagai ilustrasi, mungkin ketika pembaca bertemu dengan guru, kiai, kades, atau orang lain yang jarang sekali ditemui akan sedikit canggung dan menghormati betul orang tersebut, akan tetapi jika sudah terlalu sering bertemu dan berinteraksi sedikit demi sedikit hal tersebut akan pudar. Misalnya saja saat berinteraksi dengan orang tua atau teman sepermainan.

Oleh sebab itu, alasan menikah bukan karena sudah lama menjalin kedekatan, karena sudah umurnya atau yang lainnya, tapi alasan menikah karena sudah mampu secara kapasitasnya.

Menantu Idaman

Selain beberapa pertimbangan di atas, kriteria pasangan idaman juga tak kalah penting untuk diperhatikan. Sebab, untuk menciptakan keluarga yang diharapkan perlu keharmonisan antara satu sama lain.

Penulis yakin, jika pembaca ditanya seperti apa kriteria pasangan idamannya, rata-rata akan menjawab soleh/ha, rupawan, anak konglomerat, anak tunggal. Begitulah tipe pasangan ideal yang diharapkan dan tidak salah, sebab Rasulullah shalawahu ‘alaihi wassalam pun menganjurkan yang demikian, sebagaimana sabdanya:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan (pasangan) itu dinikahi karena empat hal yaitu (1) karena hartanya, (2) keturunannya, (3) kecantikannya dan (4) agamanya. Maka pilihlah yang baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasai, dan Ibnu Majah)

Akan tetapi sadar diri itu penting adanya, dan sudah semestinya tiap diri bertanya kepada dirinya, apakah layak mendapatkan pasangan yang seperti itu? Seandainya seorang rupawan ditanya mau tidaknya sama yang pas-pasan tentu pembaca sudah tahu jawabannya.

Maka, untuk mencapai kriteria tersebut haruslah berusaha ekstra dengan memperbaiki segalanya terutama hubungan dengan Rabb dan saudaranya. Walaupun berparas yang pas-pasan tapi di sisi lain kelebihannya akan menutupi kekurangan-kekurangannya tersebut. Wallahu a’lam bishawab.

Penulis : Budi Raharjo

admin

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *