Rahasia Penciptaan Alam Semesta dalam Perspektif Tafsir Ilmi
Al-Qur‘an merupakan kitab ilahi, yang berfungsi membimbing manusia dari kegelapan menuju pencerahan, yang merupakan jalan yang terlurus. Teks-teks normatif menunjuk tegas peran Al-Qur‘an itu dalam kehidupan (Nurrohim 2019). Dinamika mempelajari ilmu-ilmu Islam harus mengembangkan paradigma penyatuan ilmu agama dengan pengetahuan ilmiah (Nurrohim, n.d.). Islam yang merupakan agama yang komprehensif memberikan bimbingan bagi semua aspek kehidupan dengan etikanya.
Al-Qur’an, sebagai sumber utama ajaran masyarakat Muslim (Sukmaningtyas et al. 2024), manusia telah didorong oleh rasa ingin tahu tentang asal usul alam semesta, bagaimana langit dan bumi terbentuk, dan bagaimana kehidupan dimulai. Hal ini telah menyebabkan banyak studi ilmiah dalam kosmologi yang memberikan penjelasan rasional dan sistematis tentang bagaimana alam semesta diciptakan.
Teori perluasan universal, yang muncul sebagai salah satu teori baru, menyatakan bahwa alam semesta selalu berkembang sejak diciptakan. Hasilnya menunjukkan bahwa proses yang teratur ada di alam semesta yang dapat dipahami melalui penelitian ilmiah terus-menerus.
Al-Qur’an adalah kitab ilahi yang membimbing manusia dari ketidaktahuan menuju pencerahan, yang merupakan jalan yang paling langsung. Teks-teks normatif menyoroti peran Al-Qur’an dalam kehidupan manusia (Nurrohim 2019). Menariknya, jauh sebelum munculnya kosmologi modern, Al-Qur’an membahas pembentukan langit dan bumi dalam ayat-ayat alam yang mengajak manusia untuk merenungkan fenomena alam sebagai bukti kebesaran Allah.
Al-Qur’an adalah pedoman islam (Nirwana An et al. 2023), oleh karena itu, Dalam studi tafsir kontemporer, salah satu pendekatan untuk memahami keseimbangan antara wahyu dan pengetahuan ilmiah adalah melalui pendekatan Tafsir Ilmi. dengan ini ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai bimbingan spiritual, tetapi juga menjadi inspirasi untuk mengembangkan pemikiran ilmiah tentang alam semesta.
Ilmiyah Tafsir merupakan metode yang digunakan untuk mencerna ayat-ayat dari Kitab Al-Quran, utamanya ayat-ayat alam semesta, dengan menggunakan penemuan ilmu pengetahuan modern dalam memperoleh pemahaman (Laila 2014).
Metode ini bertujuan untuk membuktikan bahwa Al-Quran memiliki petunjuk tentang fenomena alam yang dapat dipelajari secara ilmiah tanpa menjadikannya buku sains. Oleh karena itu, ilmiyah tafsir membantu manusia untuk berpikir kritis, melakukan penelitian, dan mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai upaya memahami keagungan Allah melalui penciptaannya, dan ilmu pengetahuan yang dimiliki membuatSalah satu ayat yang sering dianalisis dalam sudut pandang tafsir ilmiyah mengenai penciptaan alam semesta adalah QS. Al-Anbiyā’ ayat 30:
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya: “Apakah orang-orang yang tidak percaya tidak menyadari bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu kesatuan, lalu Kami pisahkan; dan dari air Kami menciptakan segala sesuatu yang hidup. Mengapa mereka tidak beriman?.”
Dalam ayat itu, Allah SWT bilang bahwa dulu langit dan bumi itu satu, lalu dipisahkan (Nabila, tidak ada tanggal). Penafsiran klasik mengatakan bahwa ayat itu menunjukkan bukti penciptaan langit dan bumi serta kebesaran Allah SWT bagi seluruh dunia.
Namun, tafsiran kontemporer mengasosiasikan ayat tersebut dengan teori ekspansi alam semesta secara proporsional yang mencerminkan upaya dari Al-Qur’an untuk memotivasi umat manusia untuk memikirkan tentang penciptaan kosmos dari segi ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Selain itu, dalam QS. Fuṣṣilat ayat 11, disebutkan bahwa Allah SWT memulai penciptaan langit setelah penciptaan bumi: ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ yang berarti “Setelah itu Dia berfokus pada penciptaan langit, yang pada saat itu masih berbentuk asap.”
Istilah dukhan tersebut diartikan sebagai bentuk awal langit yang berupa material gas atau kabut kosmik sebelum berubah menjadi langit. Dalam penafsiran klasik, istilah tersebut didefinisikan sebagai fase pertama penciptaan sebelum langit tercipta.
Kemudian, QS. Adz-Dzāriyāt ayat 47 menjelaskan bahwa: وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ artinya: “Dan Kami menciptakan langit dengan kekuasaan Kami, dan benar-benar Kami telah meluasinya. ” Menurut perspektif Tafsir Ilmi, kalimat la-mūsi‘ūn diartikan sebagai petunjuk tentang luas dan perkembangan langit sebagai refleksi kebesaran kuasa Allah yang menciptakan langit ini. Secara kontemporer, ayat tersebut dikaitkan dengan konsep expanding universe yang menyatakan bahwa alam semesta terus berluas semenjak penciptaannya.
Dengan menggunakan perspektif tafsir ilmi, ayat-ayat kauniyah ini dianggap sebagai pengingat bagi umat manusia untuk berfikir, mengamati, dan membahas fenomena alam, hal ini dilakukan bukan hanya untuk mencari ilmu, namun juga untuk mengenal lebih dalam lagi kebesaran Allah sebagai Pencipta alam semesta (Mukmin et al., n.d.).
Namun, pada sisi lain, metode tafsir ilmiah memiliki kelemahan yang perlu digali dan pahami bersama (Wigati and Pramuja 2024). Hal tersebut disebabkan adanya kemungkinan metode ini untuk membuat orang meningkatkan imannya, mengenal relevansi Al-Qur’an, dan merestorasi budaya berfikir ilm
Kesimpulannya, Al-Quran menyuruh manusia berfikir tentang penciptaan dunia ini sebagai bukti agama Allah SWT, yang dapat diterima manusia dengan melakukan penelitian dan berfikir ketika menebak-nepak ayat kauniyah di dalamnya. Dengan interpretasi ilmiah, ayat-ayat tersebut bisa dikaitkan kepada konteks yang lebih realistis melalui cara-cara yang ilmiah.
Penulis : Muhammad Hasbil Baharuddin
Editor : Ikhwan M Situmorang

