Deprecated: Fungsi WP_Dependencies->add_data() ditulis dengan argumen yang usang sejak versi 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/isla3269/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi di Tengah Krisis Moral

Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi di Tengah Krisis Moral Generasi

ARTIKEL

Pada era yang serba digital ini, seringkali pendidikan hanya dinilai berdasarkan aspek akademik. Nilai yang tinggi menjadi tolok ukur kesuksesan, sedangkan ada hal lebih krusial yang sering terlupakan yaitu pendidikan karakter. Padahal fakta menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa disertai karakter yang baik justru menimbulkan banyak permasalahan, seperti ketidakjujuran, kurangnya tanggung jawab sampai maraknya perilaku yang tidak bermoral di ruang digital.

Fenomena ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lingkungan sekolah seperti mencontek, hingga penyebaran hoax di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia yang sesuai fitrah. Maka dari itu, pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak yang tidak boleh diabaikan.

Islam memiliki perpektif bahwa pendidikan tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan moral. Ahmad Nurrohim menjelaskan bahwa pendidikan karakter perlu diintegrasikan dengan kesehatan mental dan nilai-nilai keislaman agar mampu membentuk individu yang utuh, baik secara intelektual maupun emosional (Nurrohim, 2016). Integrasi dalam konteks ini penting karena kecerdasan tanpa memiliki manejemen diri yang baik tidak akan menghasilkan perilaku yang baik (Nurrohim, 2016). Bahkan aspek mental dan spiritual menjadi kunci untuk pembentukan akhlak yang kuat (Nurrohim, 2016).

Nilai karakter dalam islam bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang berisikan ajakan moral yang baik. Salah satunya konsep hikamh, yaitu mengajak dan mengajarkan manusia untuk bersikap bijak dalam melakukan setiap tindakan. Hikamh bukan hanya berarti pengetahuan, akan tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan dengan tepat. Berdasarkan hal tersebut pendidikan karakter memiliki prinsip teologi yang kuat dan relevan sampai akhir zaman (Nurrohim, 2019).

Dalam kondisi saat ini, Al-Qur’an tidak lagi difahami sebatas tekstual, tapi juga kontekstual. Pendekatan ini disebut juga tafsir kontemporer, yaitu usaha memahami ayat ayat dan konteks hadits dengan pertimbangan realitas sosial yang terus berkembang sampai kapanpun. Dengan pendekatan tafsir kontemporer, nilai pendidikan karakter tidak hanya difahami sebagai normative, tapi dapat diterapkan untuk menjadi jawaban dari persoalan modern, seperti krisis moral yang terjadi secara nyata di masyarakat (Nurrohim, 2019), baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka tafsir tidak hanya makna yang difahami secara tekstual, tapi juga menjadi pedoman yang bersifat praktis dalam proses pembentukan karakter masyarakat pada zaman yang terus berubah.

Jika kita fahami lebih dalam, pendekatan tafsir kontemporer menjadikan metode tematik sebagai cara yang penting dalam memahami ayat Al-Qur’an. Metode yang mengumpulkan tema tertentu seperti kaitannya dengan keadilan, amanah, kejujuran, kebijaksanaan dan lain sebagainya kemudian dianalisis secara menyeluruh. Pendekatan ini sangat cocok digunakan dalam memahami pendidikan karakter karena memberikan pemahaman yang utuh.

Misalnya sifat jujur, tidak hanya dimaknai larangan berbohong, tapi kejujuran menjadi bagian dari integritas diri yang terlihat dari banyak aspek, termasuk di dunia pendidikan. Pendekatan tafsir tematik memberikan pemahaman bahwa nilai tersebut bukan sekedar aturan, tapi juga prinsip yang harus dijaga sepanjang hidup.

Tafsir Kontemporer juga berusaha menjawab tantangan global yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi, budaya popular, dan arus informasi yang membeludak menuntut kita memahami agama yang terus dapat beradaptasi. Nilai Al-Qur’an akan tetap relevan dan akan selalu bisa memberikan pedoman bagi perilaku manusia di era modern seperti sekarang (Fauziah dkk., 2020).

Pendidikan karakter dengan berbasis tafsir kontemporer dapat diimplementasikan dengan berbagai cara, seperti pembelajaran berbasis nilai, diskusi kritis tehadap persoalan sosial, dan pembiasaan perilaku bersifat poitif dalam kehidupan sehari-hari. Guru menyampaikan materi bersamaan dengan perannya sebagai fasilitator yang memahamkan peserta didik kemudian menginternalisasi nilai-nilai tersebut.

Dari pemaparan tersebut, tafsir kontemporer berfungsi sebagai kajian akademik juga berperan praktis di dunia pendidikan, menjadi jembatan antara teks wahyu dan tealita kehidupan, sehingga nilai-nilai Al-Qur’an akan terus hidup dan berkembang menyesuaikan tempat dan waktu.

Pemahaman mengenai istilah dalam Al-Qur’an juga penting dalam peran pembentukan karakter yang moderat. Sebagai contoh tentang makna “kafir” tidak bisa dimaknai secara sempit tanpa ada pertimbangan konteks. Adanya pemahaman yang tidak tepat justru malah akan menimbulkan sikap intoleran (Nurrohim & Fikri, 2021). Maka pendidikan karakter harus berbarengan dengan pemahaman agama secara mendalam berdasarkan prinsip syariat yang benar.

Walaupun begitu, masih banyak sekali tantangan dalam implementasi pendidikan karakter di masyarakat. Sebagai contoh kurangnya faham secara menyeluruh atas nilai-nilai yang ada. Seringkali pendidikan karakter hanya menjadi slogan tapiminin aksi. Upaya penguatan pemahaman dengan adanya kajian tafsir sebagai salah satu jalan keluar yang penting, agar nilai-nilai tersebut dapat di laksanakan dengan lebih efektif (Nurrohim dkk., t.t.).

Disamping itu, lingkungan menjadi aspek penting dalam proses pembentukan karakter. Keluarga sebagai lingkungan pertama yang menjadi dasar penanaman nilai akhlak dan moral, seperti nilai kejujuran dan tanggungjawab. Setelah itu sekolah ikut berperan sebagai penguat nilai melalui proses pembelajaran di kelas dan lingkungan sekolah lainnya. Dengan keduanya,pembentukan karakter akan berjalan secara optimal.

Perkembangan teknologi juga menjadi tatangan dalam pembentukan karakter. Era digital mendorong peserta didik untuk berhadapan dengan informasi yang tidak semuanya positif dan bermanfaat, banyak sekali konten sampah yang tidak membawa kepada kebaikan. Maka perlunya penguatan karakter bidang agama suapaya mereka mampu mengguanakan teknologi dengan bijak (Fauziah dkk., 2020) dan dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih daripada itu, pendidikan karakter berperan besar dalam mewujudkan gambaran pembelajar yang ideal, yaitu mereka yang tidakhanya cerdas di bidang akademik, tapi juga memiliki pegangan nilai moral dan sosial yang baik (Yulia dkk., 2022), dapat melahirkan generasi yang memiliki integritas yang tinggi dan dapat berkontribusi hal-hal baik di masyarakat.

Pendidikan karakter bukan hanya pelengkap, tapi menjadikebutuhan utama dalam sistem pendidikan. Membutuhkan kerjasama yang baik antara keluarga, sekolah dan masyarakat dalam pembentukan lingkungan yang mendukung prosesnya. Dengan sinergi yang baik maka akan mewujudkan generasi yang cerdas akalnya, sekalian akhlak mulia sebagai bekal menghadapi tantangan zaman.

Penulis: Syifa’ Rif’atun Nisa’

Editor: Muhammad Gibran Naufali

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *