Deprecated: Fungsi WP_Dependencies->add_data() ditulis dengan argumen yang usang sejak versi 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/isla3269/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
DIDIKAN LUQMAN DI ERA GADGET: MASIHKAH RELEVAN? - Islamika Online

DIDIKAN LUQMAN DI ERA GADGET: MASIHKAH RELEVAN?

ARTIKEL

Pernahkah Anda memperhatikan suasana di sebuah kedai kopi atau ruang keluarga belakangan ini? Anda akan melihat orang-orang duduk berdampingan, namun pikiran mereka berkelana di dunia yang berbeda. Mata terpaku pada layar bercahaya, jari sibuk meluncur di media sosial. Sungguh ironis, di saat dunia terasa makin ringkas dalam genggaman, hubungan antarmanusia justru terasa kian hambar.

Ini bukan sekadar soal gaya hidup yang berubah, melainkan sebuah pergeseran mendalam dalam pola asuh anak. Dulu, orang tua mungkin hanya khawatir dengan siapa anak bermain di  luar rumah. Kini, musuhnya jauh lebih senyap, namun dampaknya luar biasa: algoritma. Mereka merasuki kehidupan pribadi anak-anak tanpa diundang; memaksakan standar kecantikan yang fana, memamerkan kemewahan palsu, dan menyebarkan ide-ide yang mengikis keyakinan. Di tengah badai ini, kita pun dipaksa merenung: masihkah wasiat Luqman Al-Hakim yang berusia ribuan tahun itu relevan bagi generasi hari ini? Ataukah tinggal catatan usang yang tenggelam di balik kecanggihan kecerdasan buatan?

Memperkokoh Fondasi di Tengah Arus Digital

Jika kita menelusuri pesan dalam Surah Luqman ayat 12-19, terpampang jelas sebuah urutan prioritas yang sangat masuk akal sekaligus visioner. Luqman tidak memulainya dengan hal-hal teknis, melainkan langsung menyentuh fondasi utama: tauhid. “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah.” (QS. Luqman: 13)

​Di dunia digital, “syirik” tidak lagi sesederhana menyembah patung atau berhala batu. Saat ini, bentuknya jauh lebih halus, namun tetap mengancam kemurnian akidah anak. Tantangan tauhid modern telah bertransformasi menjadi “pemberhalaan” terhadap eksistensi dan materi. Ketika seorang remaja merasa dunianya runtuh hanya karena jumlah followers berkurang, atau ketika ia lebih mengejar likes daripada ridha Allah, di situlah syirik kontemporer sedang bekerja.

​Pendidikan Islam harus menjadi landasan yang kuat agar anak memiliki filter terhadap pengaruh dunia digital. Penguatan karakter keislaman sejak dini menjadi benteng utama bagi anak, contohnya melalui kegiatan Al-Qur’an dan program-program di TPQ (Ningrum et al., 2025). Dasar syukur yang kuat, sebagaimana hikmah yang terkandung dalam Surat Luqman: 12, akan membuat anak memiliki konsep diri yang positif. Ia akan merasa cukup dengan identitasnya tanpa perlu mengemis validasi dari dunia maya yang melelahkan (Asmoro, Nurrohim, 2025).

Adab: Literasi Digital yang Sesungguhnya

Poin penting selanjutnya dalam metode pendidikan Luqman adalah tentang etika berkomunikasi dan kerendahan hati. “Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18)

Media sosial saat ini bagai panggung narsisme raksasa. Fitur share dan post sering kali menjadi alat untuk memamerkan kesombongan secara halus (flexing). Di sinilah pentingnya kita membawa kembali etika komunikasi Al-Qur’an ke dalam ruang-ruang digital. Etika komunikasi ini sangat relevan sebagai panduan berkomunikasi di zaman modern yang penuh dengan hoaks dan ujaran kebencian (Sukmaningtyas, Nurrohim et al., 2024).

Literasi digital itu sesungguhnya bukan hanya soal mahir bermain medsos, melainkan soal bagaimana tetap beradab di balik layar. Integrasi nilai-nilai Islam dalam pemanfaatan teknologi bagi generasi kini adalah sebuah keniscayaan (Maharani et al., 2025). Jika Luqman mengajarkan untuk merendahkan suara, maka di era ini, merendahkan suara berarti menahan jari agar tidak berkomentar buruk, tidak menyebarkan hoaks ataupun fitnah, dan tidak melakukan perundungan di media sosial.

Kesabaran dan Kesehatan Mental Anak

​Satu hal yang hilang dari generasi yang dibesarkan oleh gadget adalah ketangguhan dalam menghadapi kesulitan. Era gadget menawarkan gratifikasi instan. Segala sesuatu serba cepat, sehingga daya tahan anak terhadap kesulitan cenderung merosot tajam.

Padahal, Luqman memberikan  tips jitu: “Bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” Mengajarkan kesabaran kepada anak yang terbiasa dengan hal yang instan di internet memang seperti mendaki gunung yang terjal. Namun, riset menunjukkan bahwa kesehatan mental anak sebenarnya sangat berkaitan erat dengan kualitas pendidikan karakter yang mereka terima (Nurrohim, 2016).

Sabar dalam konteks digital bukan berarti diam pasrah, tetapi tangguh memegang prinsip syariat meski harus melawan arus tren. Anak yang dididik untuk sabar tidak akan mudah mengalami tekanan mental saat keinginannya tidak segera terwujud. Pendidikan yang seimbang antara kesehatan mental dan karakter inilah yang akan melahirkan generasi yang stabil mentalnya.

Revitalisasi Pendidikan: Belajar dari Shalahuddin

​ Menghadapi tantangan era gadget tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang biasa. Kita perlu melakukan revitalisasi pendidikan Islam di tingkat keluarga dan masyarakat. Sejarah telah mencatat bagaimana pola pendidikan yang tepat mampu melahirkan generasi hebat, seperti yang terjadi pada masa Shalahuddin al-Ayyubi (Fatimah, Nurrohim, 2025).

Pada masa itu, pendidikan tidak hanya fokus pada pengetahuan, tetapi juga menyentuh aspek spiritual dan mental. Begitu pula saat ini, kita tidak bisa hanya melarang anak menggunakan gadget. Yang harus dilakukan adalah memberikan solusi dengan memberikan aktivitas yang dapat membangun karakter mereka. Contohnya, menyertakan anak dalam kegiatan TPQ, komunitas Al-Qur’an, dan lain-lain. Hal tersebut dapat mengisi kekosongan spiritual anak di tengah hiruk-pikuk dunia maya (Ningrum et al., 2025).

Penutup: Kehangatan yang Tak Tergantikan

Jika kembali pada pertanyaan di awal, masihkah pendidikan Luqman relevan di era gadget? Jawabannya bukan sekadar relevan, melainkan merupakan “penawar” paling mujarab yang kita miliki saat ini dalam menghadapi generasi era digital. Rahasianya adalah membangun dialog dan kasih sayang, bukan perangkat yang canggih.

Luqman menyapa putranya dengan panggilan “Ya Bunayya”. Ini merupakan sebuah ungkapan kasih yang mampu meruntuhkan tembok pembatas antara orang tua dan anak. Sapaan yang bukan sekadar kata, melainkan bentuk empati yang mendalam. Kita harus sadar bahwa secanggih apa pun kecerdasan buatan, ia tak akan pernah bisa menggantikan hangatnya kasih sayang dan pelukan orang tua.

Sering kali, anak-anak kita tersesat di belantara internet bukan karena tidak mengerti hukum agama, melainkan karena mereka tidak menemukan tempat bercerita yang nyaman di rumah. Mereka akhirnya memburu validasi dari orang asing di dunia maya, hanya karena merasa suaranya tidak pernah benar-benar didengar saat duduk bersama di meja makan.

Metode pendidikan Luqman adalah kurikulum abadi. Zaman boleh saja berubah; papan tulis berganti tablet, dan tumpukan buku fisik bergeser ke dalam layar e-book. Namun, satu hal yang tak akan pernah basi adalah prinsip bahwa pendidikan sejati mesti bermula dari rumah dengan fondasi tauhid, mental yang tangguh, serta akhlaqul karimah. Bekal yang tidak akan lekang oleh waktu. Harapannya agar anak-anak kita tidak hanya tumbuh sebagai hamba yang bertakwa, tetapi juga menjadi pribadi yang cukup dewasa dalam menghadapi derasnya arus teknologi. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis : Fadwa Nabilah

Editor : Ikhwan M Situmorang

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *