Prodi IQT Raih Predikat Unggul, Mahasiswa Sebut Realita Lapangan Belum Sejalan
Program Studi (Prodi) Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI) berhasil meraih predikat akreditasi unggul. Namun, capaian tersebut masih menuai berbagai tanggapan dari mahasiswa yang menilai kondisi fasilitas hingga kualitas pembelajaran belum sepenuhnya mencerminkan predikat unggul.
Sebelumnya, Ketua Prodi IQT, Kharis Nugroho, menyebut keberhasilan akreditasi merupakan hasil kerja sama seluruh elemen kampus, mulai dari dosen, mahasiswa, pimpinan fakultas hingga universitas. Ia juga menilai sistem dan fasilitas yang dimiliki universitas menjadi salah satu faktor penting dalam penilaian asesor. “Faktor utamanya adalah kerja sama semua pihak dan sistem UMS yang sudah mendukung untuk unggul,” ujarnya, Senin (11/05/2026).
Menurutnya, fasilitas kampus seperti smart classroom, akses jurnal internasional premium, fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur kampus menjadi nilai tambah dalam proses asesmen.
Namun di lapangan, sejumlah mahasiswa justru mengaku belum merasakan kualitas unggul tersebut secara langsung, terutama bagi mahasiswa yang berkuliah di gedung RMHD.
Mahasiswa IQT, Muchammad Ikmaluddin, mengaku terkejut ketika mengetahui Prodi IQT memperoleh predikat unggul. Ia menilai kondisi fasilitas dan kualitas pembelajaran saat ini masih perlu banyak pembenahan. “Secara fasilitas dan kualitas penjelasan dosen juga belum seperti yang seharusnya unggul. Harusnya untuk sampai ke predikat itu kondisinya belum,” tuturnya saat diwawancarai Rabu (13/05/2026).
Menurutnya, persoalan tidak hanya terletak pada fasilitas fisik, tetapi juga pada kualitas akademik dan proses pembelajaran di kelas. “Kehadiran dosen kadang tidak jelas, kemudian ketika menjelaskan juga belum maksimal. Harusnya kualitas akademiknya juga diperhatikan, bukan sekadar fasilitas,” katanya.
Keluhan mengenai kondisi Ruang Ma’had Abu Bakar (RMHD) juga kembali mencuat. Ikmaluddin menyebut fasilitas di gedung tersebut masih tertinggal dibanding fasilitas utama di lingkungan Fakultas Agama Islam. “Kalau dibandingkan dengan gedung FAI yang utama tentu berbeda jauh. Di RMHD bahkan kamar mandi khusus mahasiswa saja tidak ada,” ungkapnya.
Selain itu, mahasiswa lain juga menyoroti kondisi mushola perempuan, jaringan wifi yang dinilai buruk, hingga sejumlah ruang kelas yang sebelumnya memiliki kursi dan meja tidak layak pakai.
Sementara itu, tim akreditasi Prodi IQT, Asrizal Mustofa, sebelumnya mengungkapkan bahwa asesor tidak sempat melakukan peninjauan lapangan secara langsung saat asesmen berlangsung karena keterbatasan waktu. “Asesmen lapangan kemarin waktunya sangat pendek sehingga peninjauan langsung ke lapangan di-skip oleh asesor,” jelas Asrizal, Senin (11/)5/2026). Ia mengatakan proses asesmen lebih banyak berfokus pada dokumen administrasi seperti Laporan Evaluasi Diri, Laporan Kinerja Program Studi dan bukti pendukung lainnya.
Di sisi lain, pihak prodi menegaskan bahwa universitas memiliki sistem maintenance untuk menangani kerusakan fasilitas yang terjadi di lingkungan kampus. Kharis menyebut adanya respons dan tindak lanjut terhadap kerusakan justru menjadi salah satu poin penilaian mutu kampus. “Kalau ada kerusakan lalu diperbaiki dan tereksekusi, itu justru menjadi poin unggul,” katanya. Meski begitu, mahasiswa berharap predikat unggul tidak hanya berhenti pada penilaian administrasi dan dokumen, tetapi benar-benar tercermin dalam kualitas pembelajaran serta fasilitas yang mereka rasakan setiap hari. “Kalau bisa yang dimaksimalkan itu kualitas mahasiswa dan dosennya dulu, supaya sesuai dengan iming-iming unggul ini,” tutup Ikmaluddin.
Reporter: Zulfa Hasanah & Inni Fadilatul
Editor: Ikhwan M Situmorang

