Paradigma Tafsir Kontemporer: Antara Pendekatan Ilmiah, Struktural, dan Maqāṣid
Al-Qur‘an adalah kitab yang berfungsi membimbing manusia dari kegelapan menuju pencerahan, yang merupakan jalan yang terlurus (Nurrohim 2019). Islam merupakan agama yang menekankan pentingnya ilmu. Al-Quran memerintahkan kepada manusia untuk mencari dan menuntut ilmu (Rahayu and Nurrohim 2022). Dan Al-Qur’an juga sebagai kitab suci bagi umat Islam dianggap tetap berlaku dan penting dalam setiap masa. Seiring berkembangnya zaman yang serba berkebutuhan instan, belajar Al-Qur’an dikalangan umat islam menjadi kurang berkembang(Nirwana An et al. 2023), dan di perspektif al-Qur’an tidak hanya mencakup aspek verbal, tetapi juga non-verbal (Sukmaningtyas et al. 2024). tengah perubahan sosial, perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, serta tingkat kompleksitas kehidupan saat ini, memahami hal tersebut tidak bisa hanya dilakukan dengan cara yang biasa saja. Ini membuat diperlukan adanya penafsiran kontemporer yang lebih cocok dengan kondisi saat ini dan bisa beradaptasi dengan respons. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami tiga pendekatan utama yaitu ilmiah, struktural, dan maqāṣid agar penafsiran Al-Qur’an tetap relevan, utuh, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Dan menjadi sebuah Dinamika studi islam dituntut mengembangkan paradigma penyatuan ilmu keislaman dengan ilmu eksakta (Nurrohim, n.d.).Tafsir kontemporer adalah upaya untuk memahami dan menjelaskan isi Al-Qur’an sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini, dengan mempertimbangkan perkembangan pengetahuan, kondisi masyarakat, serta kebutuhan manusia pada masa kini. Berbeda dengan penafsiran klasik yang lebih menekankan pada aspek bahasa, sejarah, dan sebab turunnya ayat, penafsiran kontemporer lebih menyesuaikan diri dengan konteks saat ini dan peka terhadap isu-isu yang sedang dihadapi orang-orang sekarang. Meskipun begitu, penjelasan ini tidak menggantikan penjelasan klasik, melainkan menambahkan penjelasan tersebut.
Maka dari itu adanya sebuah Pendekatan ilmiah dalam tafsir adalah metode interpretasi Al-Qur’an yang berusaha menghubungkan ayat-ayatnya dengan penemuan dan kemajuan ilmu pengetahuan modern, sehingga makna wahyu dapat dimengerti sejalan dengan pengetahuan ilmiah saat ini (Laila 2014). Kebiasaan ini biasanya digunakan untuk menginterpretasikan surah-surah yang membahas tentang fenomena alam, proses pembuatan manusia, atau susunan alam semesta, dengan maksud menggambarkan bahwa Al-Qur’an memiliki pertanda-pertanda yang sesuai dengan realitas ilmiah. Salah satu kelebihan dari metode ini adalah bahwa ia mampu membuktikan relevansi Al-Qur’an dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, pendekatan ilmiah juga mendapatkan kritik.
Selain itu ada juga sebuah Pendekatan struktural dalam penafsiran menganggap Al-Qur’an sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan, bukan hanya sekadar sekumpulan ayat yang independent (Marzuki 2024). Kemajuan atau kemunduran suatu bangsa tidak disebabkan oleh berbagai faktor sumber daya alam, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia. Karakter adalah salah satu, atau mungkin beberapa, indikator kualitas manusia tersebut (Nurrohim, t.t.). Kepemimpinan merupakan komponen penting dalam masyarakat. Namun, di era modern seperti ini, terdapat beberapa masalah terkait etika kepemimpinan, seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan tingkat tanggung jawab sosial yang masih cukup rendah. Hal ini berarti bahwa memiliki kualitas moral dan spiritual yang kuat sama pentingnya dengan memiliki keterampilan manajerial yang kuat untuk menjadi seorang pemimpin. Oleh karena itu, dalam situasi seperti ini, Al-Qur’an sebagai pelajaran hidup manusia menyajikan prinsip-prinsip kepemimpinan yang didasarkan pada amanah, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Harus ada metode tafsir yang digunakan, yaitu metode tafsir maqāṣid yang bertujuan untuk menciptakan.
Kelebihan metode ini diantaranya adalah ketepatannya untuk mencegah interpretasi yang parsial atau fragmented, serta memberikan hasil penafsiran yang mendalam. Namun, di sisi lain, pendekatan struktural juga memiliki keterbatasan karena memerlukan kemampuan analisis bahasa Arab yang baik serta pemahaman yang menyeluruh, sehingga seringkali sulit diterapkan oleh pembaca biasa tanpa dukungan pengetahuan yang memadai.
Pendekatan maqāṣid memainkan peran penting dalam penafsiran karena menekankan tujuan syariat, seperti keadilan dan kemaslahatan. Ini membuat penafsiran tetap kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ilmiah juga sangat penting karena menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan perkembangan sains modern, terutama pada fenomena alam dan penciptaan. Dengan cara ini, kita dapat melihat bagaimana wahyu tersebut tetap relevan bagi manusia di masa kini. Meski demikian, pendekatan ilmiah juga dikritik karena berisiko menyesuaikan makna ayat dengan teori yang bersifat dinamis, sedangkan Al-Qur’an memiliki kebenaran yang tetap.
Dialektika antara pendekatan ilmiah, struktural, dan maqāṣid dalam penafsiran menunjukkan bahwa ketiga pendekatan ini tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh dan relevan terhadap Al-Qur’an (Trisnia and Rahayu 2025). Pendekatan ilmiah memberikan hubungan dengan kemajuan ilmu pengetahuan saat ini, pendekatan struktural memastikan bahwa makna tetap utuh dan saling terkait, sedangkan pendekatan maqāṣid memfokuskan penafsiran pada tujuan utama syariat seperti keadilan dan kebaikan bagi masyarakat. dari ketiga pendekatan menjadi penting agar penafsiran bersifat seimbang, dan dapat memenuhi kebutuhan zaman yang ada.
Keterkaitan antara tafsir kontemporer di masa kini semakin jelas terlihat ketika dihadapkan pada berbagai isu yang rumit dan terus muncul, seperti etika sosial, krisis lingkungan, serta perkembangan teknologi yang memengaruhi cara manusia berkehidupan (Muhammad Ali Amin Ibrahim 2024). Nah Dengan cara yang sesuai dengan situasi, penafsiran kontemporer bisa mengungkap nilai-nilai Al-Qur’an untuk memberikan jawaban atas berbagai masalah, seperti dalam membentuk etika sosial yang adil, meningkatkan kesadaran tentang lingkungan yang berkelanjutan, serta memberikan arahan moral dalam menggunakan teknologi. Dalam hal ini, tafsir kontemporer berperan penting sebagai jembatan antara pesan dari Tuhan yang berlaku umum dengan kehidupan modern yang terus berubah.
Pada akhinya dapat di simpulkan kalau ketiga pendekatan dalam tafsir modern, yaitu ilmiah, struktural, dan maqāṣid, memiliki peran penting yang saling melengkapi dalam membantu pemahaman terhadap Al-Qur’an secara menyeluruh dan sesuai dengan kondisi zaman sekarang. Pendekatan ilmiah menghubungkan kita dengan perkembangan pengetahuan terkini, pendekatan struktural menjaga kekonsistenan dan arti yang dalam, sedangkan pendekatan maqāṣid memastikan penafsiran tetap berfokus pada nilai-nilai dan tujuan utama dari syariat. Oleh karena itu, dalam tafsir di zaman sekarang, kita perlu tetap terbuka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, tetapi tetap memegang teguh prinsip-prinsip dasar Al-Qur’an agar tetap berada di jalur yang benar.
Penulis: Muhammad Zun Nashith
Editor: Muhammad Gibran Naufali

