Menata Hati dengan Dzikir dan Sabar: Kunci Tenang Ditengah Tekanan
Di tengah arusnya kehidupan yang serba cepat ini seringkali kita dihadapakan oleh ekspetasi dan tekanan yang muncul dari sekitar kita, berharap bahwa kita juga bisa cepat dalam segalanya. Terlebih seorang mahasiswa, yang memiliki tuntutan tidak hanya dari akademik kampus saja, tetapi dari berbagai arah dan sudut mahasiswa diharapkan mampu untuk mewujudkan dan memenuhi ekpetasi tersebut dan juga menghadapi dinamika–dinamika didalamnya. Seringkali yang seperti ini dapat memunculkan tekanan lahir dan batin dari dalam dirinya, dan dapat menyebabkan hal yang tidak diinginkan terjadi kecuali diri terbalut iman dan taqwa.
Maka sebagai mahasiswa muslim yang sudah mempelajari Islam lebih jauh, seyogyanya mengerti apa yang harus dilakukan ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu. Wajib disadari bahwa hidup didunia ini hanya sementara dan kehidupan ini hanyalah belaka. Maka, bukan tugas manusia itu untuk tergesa–gesa ataupun memaksa semua dalam genggamaya karna sejatinya kita hidup sebagai musafir didunia ini.
Dan dapat dilihat pada saat ini banyak mahasiswa yang mengalami tekanan atau depresi, tapi itu bukanlah suatu kegagalan melainkan proses ditengah zaman yang modern dan serba cepat ini. Maka dari sinilah sebuah hati berfungsi, salah satu organ yang diciptakan oleh Maha Kuasa untuk keseimbangan tubuh tanpa adanya hati manusia tidak akan mampu bertahan hidup. Kerusakan pada organ hati mampu membuat kemampuan tubuh manusia terganggu pada saat memecah sel darah merah dari racun-racun yang terkandung di dalamnya. Akibatnya racun-racun tersebut akan menetap pada tubuh kita (Prayoga dkk., t.t.)
Selain memelihara hati dari segi medis kita juga harus menjaga hati melalui Tazkiyatun Nafs yaitu penyucian diri dalam hal ini Imam Al- Ghazali mendefinisikan hati yang berarti ditakrifkan hati sebagai hati spiritual iaitu sesuatu yang bersifat halus (lathifah) dan bersifat ketuhanan (rabbaniyyah). Hati dalam definisi kedua ini menggambarkan hakikat diri manusia yang mana hati berfungsi untuk merasai, mengenali dan mengetahui sesuatu perkara atau ilmu (Al-Ghazali 1998).
Menurut Al-Ghazali lagi, hati fizikal amat berkait rapat dengan hati spiritual. Namun, beliau tidak mengulas panjang berkenaan hubungan hati fizikal dengan hati spiritual kerana itu termasuk di bawah ilmu mukasyafah. Oleh yang demikian dapat disimpulkan bahawa definisi hati menurut Al-Ghazali adalah suatu elemen yang bersifat halus dan bersifat ketuhanan yang tidak nampak dengan mata kasar dan amat berperanan penting di dalam menganalisis sesuatu perkara atau ilmu yang diperoleh.
Firman Allah SWT dalam Surah Al – A’raf: 179 yang bermaksud: ‘Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk mereka neraka jahannam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati tetapi tidak mau memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata tetapi tidak mau melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga tetapi tidak mahu mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); merek itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai.’(Jalil dkk. 2016)
Ayat diatas menjelaskan kondisi hati ketika ia jauh dari Allah SWT hilang arah, cemas, cepat lelah, mudah menyerah dan sering merasa hampa adalah ciri–ciri nya. Berbanding balik dengan makna pada surat Al–Anfal ayat 2 yang menjelaskan bahwa hati yang tentram, damai, dan sejuk adalah hati yang senantiasa mengingat Allah SWT.
Islam mengajarkan banyak sekali kegiatan ibadah yang dapat memberikan ketenangan, dan disinilah peran dzikir digunakan bisa berbentuk Istighfar, Tasbih, Tahmid, Takbir ataupun membaca Al – Qur’an karna ia mempunyai beragam manfaat bagi jasmani dan rohani pembacanya, salah satunya yakni mencegah daripada gangguan mental seperti depresi dan kecemasan yang dialami(Muhammad Syuhrawardi 2025)
Selain dzikir harus diiringi dengan kesabaran juga, namun pemaknaan sabar bukan hanya secara pasif saja tapi secara aktif dan kuat, terdapat beberapa macam kesabaran yang bisa diterapkan yaitu kesabaran dalam ketaatan, maksiat dan menghadapi ujian dan level diri seseorang bisa dilihat dari bab ini juga.
Pada akhirnya, hidup tidak akan pernah lepas dari tekanan. Tugas akan selalu ada, harapan orang lain juga terus datang, dan tidak semua hal berjalan sesuai keinginan. Tapi ditengah semua itu, hati kita tetap bisa dijaga agar tidak mudah gelisah.
Dzikir mengingatkan kita untuk selalu dekat dengan Allah, sumber ketenangan. Sabar pun bukan berarti diam saja, tapi tetap berusaha dan bertahan dengan hati yang kuat. Keduanya adalah kekuatan dari dalam diri yang membantu kita tetap tenang saat menghadapi masalah.
Menata hati dengan dzikir dan sabar bukan berarti hidup tanpa masalah, tapi tentang bagaimana kita menghadapi masalah dengan lebih tenang dan bijak. Jadi, saat tekanan terasa berat, cobalah kembali kepada Allah dan tenangkan hati—karena di situlah kita bisa menemukan ketenangan yang sebenarnya.
Penulis : Nailah Majid
Editor : Alfarabi

