ARTIKEL

Lika-liku Nabi Muhammad dan Para Sahabat

Penganiayaan terhadap orang-orang Isalm merupakan masa yang sulit pada awal datangnya islam. Banyak insiden menyedihkan berupa penyiksaan terhadap orang-orang Islam atau sering kali mereka dibunuh oleh orang-orang Quraisy.

Kenangan yang tersimpan dalam masyarakat Islam waktu itu berisi luka dan korban penganiayaan yang diderita oleh orang-orang Islam, dalam biografi Nabi Muhammad Saw ini, sudah sepatutnya jika kami menyebutkan korban-korban penganiayaan yang berasal dari para pengikut Nabi Muhammad adalah pengikut yang paling setia.

pengikut yang paling setia diantara lain orang-orang yang mengakui kebenaran pesan beliau, dan gugur dengan membawa iman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.

Kafir Quraisy melakukan penganiayaan, baik kepada beliau sendiri maupun para sahabatnya. Tujuan utama dari penganiayaan yang mereka lakukan, yaitumenghambat dakwah Islam.

Mereka berharap bahwa dengan melakukan penganiayaan kepada Nabi Muhammad dan para pengikutnya tidak akan lagi menyebarkan ajaran agama Islam dan kembali kepada kepercayaan lama yang dianut oleh nenek moyang mereka secara turun temurun.

Salah satu penganiayaan kepada Nabi Muhammad dilakukan oleh Abu Jahal, ketika beliau sedang melakukan shalat di dekat Ka’bah, waktu itu dia membawa batu besar yang hendak dijatuhkan ke kepala beliau pada saat bersujud.

Namun, pada saat bersamaan tiba-tiba Abu Jahal akhirnya lari ketakutan dan usaha pembunuhan itu pun gagal. Secara perlahan tetapi pasti, dakwah secara terang-terangan yang dilakukan Nabi Muhammad mendapat sambutan hangat dari penduduk Mekkah.

Pengikut Islam pada saat itu berjumlah sekitar 128 orang. Kebanyakan di antara para pengikut pertama Islam adalah orang-orang lemah, miskin dan para budak. Dalam pandangan Islam, semua manusia sama derajatnya di sisi Allah kecuali karena takwanya.

Banyaknya orang lemah dan miskin yang masuk islam, menjadikan kaum kafir Quraisy sering melakukan penyiksaan dan penganiayaan terhadap mereka, dengan tujuan untuk menakut-nakuti dan mencegah berkembangnya agama Islam secara lebih luas.

Di antara para budak yang disiksa adalah Bilal Bin Rabbah. Bilal adalah budak Umayyah bin Khalaf. Sebagai tokoh kaum Quraisy Mekkah yang terkemuka, Umayyah merasa malu kalau salah seorang budaknya memeluk agama Islam.

Oleh karena itu, dia menyuruh Bilal untuk meninggalkan agama barunya. Namun Bilal menolak perintah tersebut, dan dia tetap gigih memeluk agama Islam.

Umayyah marah karena Bilal tidak mau meninggalkan agama Islam, lalu Umayyah menyerahkan Bilal kepada para gelandangan dan mengikat seutas tali pada lehernya. Ketika para gelandangan tersebut menyeretnya, Bilal berulang kali mengucapkan “Ahad! Ahad!” sebagai ungkapan tentang ke-Esa-an Tuhan.

Umayyah juga menyeret Bilal pada tengah hari, kemudian menelantangkannya diatas pasir yang panas, sebongkah batu yang berat juga diletakkan diatas dadanya. Kemudian dia berkata kepada Bilal, “Demi tuhan, engkau akan terbaring di sini sampai mati atau mengingkari Muhammad dan menyembah Latta dan Uzza.” Bilal menahan siksaan tersebut, dan menguatkan imannya kepada Allah swt, dengan mengucapkan, “Ahad! Ahad!”

Akhirnya, penyiksaan tersebut berakhir setelah Abu Bakar Ra menyaksikan apa yang terjadi pada Bilal ketika beliau lewat. Sekarang, kekayaannya menjadi alat untuk menyenangkan Allah, kemudian beliau membeli bilal dan membebaskannya.

Selain peristiwa diatas, masih banyak lagi penganiayaan dan kekerasan ysang dilakukan terhadap Nabi Muhammad. Namun, usaha tersebut tetap saja gagal.

Khabbab bin al-Arrat Ra, seorang sahabat Nabi Muhammad yang terkenal, dibeli oleh seorang Wanita dari Bani Khuzaah yang Bernama Ummu Anmar bin Sabaa’. Dia adalah seorang pandai besi.

Dan untuk membuat Khabbab meninggalkan keyakinannya kepada Nabi Muhammad, Ummu Anmar mengecap punggungnya dengan peralatannya sendiri. Orang-orang Quraisy lainnya juga ikut menyiksa Khabbab. Mereka membelit lehernya, menjambak rambutnya, dan bahkan melemparkannya ke dalam bara api yang panas.

Sebongkah batu besar ditaruh diatas dadanya agar dia tidak dapat bergerak. Anehnya, iman Khabbab menjadi semakin kuat dengan siksaan yang dilakukan untuk memaksanya kembali menjadi orang kafir.

Tidak semua budak yang masuk Islam berhasil diselamatkan. Sebagian dari mereka meninggal akibat ketidakadilan tersebut, sementara Sebagian lainnya dipaksa mengakui kesalahannya di depan umum, meskipun dalam hati mereka tetap beriman.

Ammar bin Yasir dan orang tuanya berasal dari suku Bani Makhzum, yang kepala sukunya adalah Abu Jahal. Di bawah pimpinan Abu Jahal, banyak orang membawa Ammar dan keluarganya ke Abtah dan meninggalkan mereka di bawah terik sinar matahari yang membakar.

Nabi Muhammad Saw menyaksikan penderitaan mereka dan mendorong mereka untuk tetap berpegang teguh pada iman mereka. Beliau bersabda “Wahai keluarga Yasir, bersabarlah, bersabarlah. Tujuan kalian adalah surga. Ya Allah, Ampunilah keluarga Yasir”. Dan mereka pun teteap teguh pada imannya. Yasir, ayah Ammar menahan penderitaan tersebut hinga ajal menjemputnya.

Setelah itu, orang kafir menempuh jalan yang lebih halus untuk membujuk Abu Thalib. Orang-orang kafir Quraisy menghentikan dakwah beliau dengan membujuk dan merayu Abu Thalib agar menekan dan menyuruh Nabi Muhammad menghentikan dakwahnya.

Disamping itu, mereka juga melakukan cara dengan menukar Nabi Muhammad dengan anak muda yang tampan Bernama Amrah bin Walid. Mereka menginginkan Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad untuk dibunuh, dan menyerahkan Amrah sebagai penggantinya.

Secara spontan Abu Thalib sangat marah dengan tawaran tersebut dan berkata, “Kamu serahkan anak itu untuk aku pelihara, sedangkan anakku kalian bunuh begitu saja. Pergilah dari sini, aku tidak sudi menyerahkannya.” Peristiwa ini semakin menumbuhkan rasa sayang Abu Thalib kepada Nabi Muhammad saw.

Dalam sebuah Riwayat diceritakan bahwa Nabi Muhammad saw. Pernah berkata kepada pamannya, Abu Thalib, “Wahai pamanku, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku berhenti berdakwah, pasti aku tidak akan menghentikan dakwahku sampai Allah memberiku kemenangan atau aku binasa dalam berjuang.”

Cara halus lain yang hendak dilakukan kafir Quraisy adalah dengan mengutus Utbah bin Rabi’ah agar berbicara secara baik-baik kepada Nabi Muhammad.

Utbah bin Rabi’ah berkata, “Wahai Muhammad, bila kamu menginginkan harta kekayaan, saya sanggup menyediakannya untukmu. Bila kamu menginginkan pangkat yang tinggi, saya sanggup mengangkatmu menjadi raja, dan bila kamu menginginkan seorang wanita cantik, saya sanggup mencarikannya, dengan syarat kamu mau menghentikan dakwahmu.”

Namun, dengan tegas tapi ramah dan halus, beliau tetap menolak tawaran-tawaran tersebut. Dari kisah rosulullah, kita dapat meneladani kesabaran beliau agar tetap tegar menghadapi segala ujian.

Penulis : Fristika Maulida Aminatuz Zuhria

admin

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *