ARTIKEL

Al-Ghazali, Aku Berpikir maka Aku Ada

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad ath-Thusi al-Ghazali atau yang dikenal dengan sebutan Imam Al-Ghazali merupakan salah satu ulama klasik yang berpengaruh pada masanya karena kedalaman ilmunya.

Kesungguhan dalam belajar, berdiskusi, mengkritisi, dan memverifikasi kebenaran kondisi sosial di lingkungan sekitarnya semakin memantapkan apa yang menjadi minatnya tersebut.

Terbukti, dikemudian hari sebelum kepergiannya beliau dapat menyelesaikan karya monumental yang menjadikannya dijuluki sebagai Hujjatul Islam karena ketegasannya dalam menyanggah argumen-argumen lawannya dan menghidupkan kembali ilmu ke-Islam-an yang sempat tergeser oleh filsafat.

Meskipun demikian, beliau juga sempat dilabeli sebagai perusak nalar berpikir filsafat dan yang harus bertanggung jawab atas peristiwa besar yang melibatkan mereka yang belajar filsafat dianggap sebagai ahli bid’ah dan orang yang tersesat karena menyimpang dari syariat.

Terlepas dari dialektis itu semua, pergumulan panjang dalam dirinyalah yang memantapkan beliau untuk terus berlayar mencari kebenaran yang hakiki sebagaimana syariat yang ada.

Kilas Balik Tentang Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali lahir dari rahim keluarga sufi yang terpandang pada 450 H atau 1058 M di Khurasan yang sekarang di kenal dengan Kota Iran. Dan meninggal pada usia 53 tahun yang bertepatan dengan 505 H/1111 M di kota yang sama.

Kariernya dimulai sejak belia dengan berfokus pada kajian Fiqih pada Ahmad bin Muhammad ar-Radzakani ath-Thusi. Beranjak dewasa, pengembaraannya dimulai dengan hijrah ke Naisabur untuk memperdalam ilmu kalam, ilmu alam, filsafat, dialektika dan logika kepada Imam Haramain yaitu Imam Al-Juwaini.

Tanpa Al-Ghazali sadari, kecerdasannya dalam menguasai semua bidang yang diajarkan gurunya tersebut membuat Imam Haramain iri terhadapnya. Sebab kemampuannya tersebut jauh lebih unggul dibanding dengan guru yang mengajarkannya, sehingga beliau diminta untuk mengajarkan ilmunya pada murid-muridnya di Naisabur.

Di tengah kesibukannya mengajar tersebut beliau menyempatkan diri belajar dan mempelajari ta’limiyyah syiah yaitu golongan mayoritas yang menganggap bahwa merekalah pemilik otoritas kebenaran kalam Tuhan.

Di sinilah awal mula kegelisahan hatinya muncul. Beliau terus saja mempelajari dan memverifikasi golongan yang menganggap dirinya adalah benar. Segala upaya dikerahkan, dan segala pengetahuan dikenyamnya mulai dari filsafat, Fiqh, kalam, dan lainnya tak lain hanya untuk memuaskan hasratnya menemukan kebenaran yang hakiki.

Hingga akhirnya beliau bermuara pada tasawuf dan berkesimpulan bahwa hanya dengan tasawuf, harapan, kepastian, dan kenikmatan hidup akan tercapai.

Aku Berpikir Maka Aku Ada

Imam Al-Ghazali adalah pribadi yang sangat hati-hati dalam melihat suatu kebenaran. Hal ini terlihat dari kemudian beliau memetakan persoalan yang akan dihadapi sebelum akhirnya menentukan langkah yang tepat untuk membuktikan sendiri kebenaran tersebut.

Inilah sikap istimewa beliau yang jarang dimiliki orang-orang lain. Beliau kritis dalam menerima kebenaran yang disampaikan seseorang dengan mengujinya secara langsung melalui mempelajari metode yang sama yang digunakan oleh penyampai kebenaran.

Dari situ terlihat jelas bahwa beliau menolak taliq sebagaimana kebanyakan orang sekaligus mendobrak kebiasaan buruk tersebut. Berkaitan dengan kebenaran agama, beliau memetakannya menjadi empat sumber pencarian kebenaran sebagaimana yang banyak digunakan oleh masyarakat umum yang terbagi dalam filsafat, ilmu kalam, bathiniyyah, dan tasawuf.

Dengan memetakan golongan tersebut beliau sadar harus dengan apa berdiskusi dan berargumen dengan lawannya. Tentunya dengan berlandaskan pengetahuannya yang dimilikinya serta kemampuan nalar dan akal budinya.

Dari pernyataan mendasar tersebut menunjukkan indikasi bahwa Imam Al-Ghazali menekankan sikap keraguan dalam berpikir, sebab dengan keraguan tersebut yang akan mengantarkannya kepada kebenaran yang meyakinkan.

Memang bukan keraguan itu sendiri yang mengantarkannya kepada kebenaran, tapi dengan keraguan tersebut yang akan merangsang dirinya untuk terus berpikir dan dengan berpikir itulah dirinya akan sampai pada keyakinan.

Tentu bukan segala sesuatu yang prinsipil diragukan tapi lebih kepada keraguan metodologis. Mereka yang tak pernah meragu sama halnya tak pernah berpikir atau bernalar. Mereka yang tak bernalar tidak akan dapat melihat, dan mereka yang tak bisa melihat akan buta lagi tersesat.

Artinya, mereka yang tak pernah meragu sama halnya dengan kosong, dan kosong sama saja dengan tak pernah ada.

Wallahu a’lam bishawab.

Ref.

Menalar Kalam Tuhan : Kritik Ideologis Interpretasi al-Qur’an Ibn Rusyd. Aksin Wijaya Satu Islam, Ragam Epistemologi. Aksin Wijaya

Penulis : Budi Raharjo

admin

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *