ARTIKEL

Refleksi “ad maiora natus sum” dalam Spirit Zaman Islam Modern

Dalam era modern ini, umat Islam dihadapkan pada berbagai tantangan dan perubahan sosial yang terus berkembang. Untuk menghadapi hal tersebut, penting bagi umat Muslim untuk merefleksikan konsep “ad maiora natus sum”, yang dalam bahasa Latin berarti “saya dilahirkan untuk hal-hal yang lebih besar”.

Kalimat yang kemudian memberikan dorongan untuk menjadi seorang yang bermanfaat dalam hal-hal yang besar terlebih sebagai seorang muslim yang harus memiliki daya keinginan lebih untuk membuktikan bahwa islam itu besar di era apapun.

“Aku dilahirkan untuk hal-hal yang besar” adalah ungkapan dari St. Aloysius Gonzaga. Kalimat ini, jika didengar sepintas dan dilihat serta dibaca dengan sebelah mata, seperti mengandung hal negatif yaitu kesombongan pribadi. Namun, jika dilihat dengan pandangan yang lebih luas, maka dalam kalimat ini terkandung sebuah motivasi luar biasa untuk hidup demi meraih mimpi-mimpi yang baik.

Di zaman now ini, terkadang seseorang merasa pesimis dalam menjalani kehidupan. Kadang tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki. Nah, inilah yang membuat seseorang takut untuk menciptakan suatu perubahan dalam diri.

Tetapi jika kita menyadari dengan sungguh, bahwa dalam hidup ini, Allah telah memberikan kita sebagai hamba-Nya potensi untuk melakukan sesuatu yang hebat. Persoalannya, apakah ada motivasi dan kemauan untuk merealisasikan potensi itu? Apabila kita percaya pada diri kita sendiri dan menjadi diri sendiri, maka pasti dapat mengerti rahasia untuk mencapai sesuatu hal yang hebat.

Terlebih dalam membesarkan agama kita yakni agama Islam, dengan demikian perlu dorongan yang membuat hati kita tergerak secara hebat agar menjadi islam berkemajuan dan islam yang sebenar-benarnya.

Pendidikan dan Pengembangan Diri

Konsep “ad maiora natus sum” mendorong umat Islam untuk senantiasa meningkatkan diri melalui pendidikan dan pengembangan pribadi. Umat Muslim moderen memiliki kesadaran bahwa ilmu pengetahuan dan keterampilan sangat penting dalam menghadapi perubahan zaman.

Oleh karena itu, mereka aktif mencari peluang pembelajaran baru serta mengejar pendidikan formal maupun informal untuk meningkatkan kompetensi mereka. Semangat inilah yang pada akhirnya akan memberi dampak positif terhadap perkembangan individu-individu Muslim serta kemajuan masyarakat secara keseluruhan.

Teknologi sebagai Alat Dakwah

Spirit zaman islam modern juga tercermin dalam upaya memanfaatkan teknologi sebagai alat dakwah. Perkembangan media sosial telah memberikan peluang bagi para aktivis dakwah Muslim untuk menyebarkan pesan-pesan agama dengan cepat dan luas.

Melalui platform-platform ini, umat Islam dapat berbagi pengetahuan, menginspirasi orang lain dengan kisah sukses mereka dalam menjalankan agama, dan memperluas jangkauan dakwah. Semangat “ad maiora natus sum” mendorong umat Islam untuk menggunakan teknologi secara bijaksana sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan membawa perubahan positif di tengah-tengah masyarakat.

Sabagai contoh adalah Artificial Intelligence atau yang lebih dikenal dengan singkatan AI. AI dapat digunakan sebagai alat untuk menyebarkan pengetahuan agama kepada lebih banyak orang dengan cara yang lebih mudah dan cepat. Misalnya, chatbot AI yang dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar agama Islam, aplikasi pembelajaran agama yang interaktif, serta platform daring untuk berbagi ceramah dan khutbah.

AI dapat membantu dalam penerjemahan dan interpretasi teks-teks agama seperti Al-Qur’an dan Hadis. Dengan kecerdasan bahasa algoritmik, AI dapat membantu memahami konteks budaya dan historis yang ada di balik teks-teks tersebut, sehingga memudahkan pemahaman dan penafsiran yang lebih akurat. Namun, perlu diingat bahwa AI hanyalah alat.

Sumber pengetahuan agama yang sebenarnya tetaplah Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, penting untuk selalu memeriksa kebenaran dan keakuratan informasi yang diberikan oleh AI dengan mengacu kepada sumber-sumber yang tepercaya.

Pemberdayaan Ekonomi

Refleksi atas konsep “ad maiora natus sum” juga tercermin dalam semangat pemberdayaan ekonomi umat Islam moderen. Banyak komunitas Muslim yang aktif terlibat dalam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta inisiatif ekonomi sosial yang bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Melalui pendekatan seperti zakat entrepreneurship atau wirausaha zakat serta prinsip-prinsip ekonomi syariah, umat Islam modern berupaya memberikan dampak positif pada sektor ekonomi dengan cara yang sesuai dengan ajaran agama mereka. Keuangan syariah misalnya sebagai salah satu cara yang paling terkenal dalam pemberdayaan ekonomi umat Islam.

Prinsip-prinsip syariah yang melarang riba dan aktivitas haram lainnya memungkinkan umat Islam untuk berinvestasi dengan cara yang lebih etis dan sesuai dengan ajaran agama mereka. Produk-produk keuangan syariah seperti bank syariah, asuransi syariah, dan obligasi syariah menyediakan alternatif yang lebih halal dalam mengelola keuangan.

Menjadi Pribadi yang Berempati

Sebagai pribadi yang berempati dengan akhlakul karimah, penting untuk menjaga hubungan yang kuat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini melibatkan melaksanakan kewajiban agama, seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an. Dengan menjalankan perintah Allah, kita dapat memperkuat ikatan spiritual kita dan mengembangkan rasa kasih sayang serta kepedulian terhadap sesama ciptaan-Nya.

Berempati dengan akhlakul karimah juga berarti menghormati dan menghargai sesama manusia. Ini melibatkan perlakuan yang baik, sopan, dan menghormati hak-hak orang lain. Kita harus menghindari perilaku yang merugikan atau menyakiti orang lain secara fisik maupun emosional. Dalam Islam, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah contoh teladan dalam hal ini, dengan memperlakukan semua orang dengan kebaikan dan belas kasih.

Dalam refleksi “ad maiora natus sum” dalam spirit zaman islam moderen, umat Muslim modern dihadapkan pada tuntutan untuk terus meningkatkan diri melalui pendidikan dan pengembangan pribadi. Mereka juga memanfaatkan teknologi sebagai alat dakwah untuk menyebarkan pesan-pesan agama dengan lebih luas. Selain itu, semangat pemberdayaan ekonomi serta menjadi peribadi yang berempati akan menjadi hal penting yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari umat Islam modern.

Maka “Aku dilahirkan untuk hal-hal yang besar’’ sama seperti kita sebagai umat muslim dilahirkan untuk membawa islam menjadi agama yang mencerahkan sekaligus menjadi agama yang sebenar-benarnya guna membuktikan bahwa kehidupan itu akan lebih indah dan bahagia jika seeorang berpegang teguh pada agama Islam.

Penulis : Hanif Syairafi Wiratama

admin

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *