Quizlet sebagai Media Pendukung Pembelajaran Mufradat Al-Qur’an: Peluang, Strategi, dan Batasannya

ARTIKEL

Banyak siswa atau santri mengalami hal yang sama yakni kosakata Al-Qur’an sudah dihafal semalam suntuk, tetapi hilang sebelum ujian. Padahal, kosakata atau mufradat adalah pintu pertama untuk memahami makna ayat. Kegagalan mengingatnya akan berdampak pada pemahaman secara keseluruhan. Mufradat yang dikuasai dengan baik membantu pembaca mengenali pola kata yang berulang di berbagai surah, sehingga proses memahami teks menjadi lebih cepat. Di tengah kebiasaan belajar yang kini lekat dengan gawai, aplikasi Quizlet menawarkan jalan keluar yang menarik. Tulisan ini membahas Quizlet dari tiga sisi, yaitu identifikasinya sebagai media dan bahan, proses pembelajarannya, serta peluang, strategi, dan batasannya.

Tentang Media dan Bahan

Quizlet adalah aplikasi dan situs web yang memungkinkan pengguna membuat serta mempelajari kumpulan kartu istilah (flashcard) melalui beragam mode latihan, seperti kartu balik, kuis pilihan ganda, dan permainan pencocokan. Dalam pembelajaran mufradat, perlu dibedakan dua hal yang sering tercampur, yakni aplikasinya dan isinya.

Quizlet disebut media karena berfungsi sebagai perantara yang menyalurkan pesan pembelajaran dari pendidik kepada peserta didik. Aplikasi ini menyajikan kosakata dalam bentuk teks, gambar, dan suara, memungkinkan latihan berulang, serta dapat diakses kapan saja melalui telepon pintar. Fungsinya serupa dengan media Kartu Ajaib Qur’ani untuk mempelajari hewan dalam Al-Qur’an pada siswa madrasah ibtidaiyah. Perbedaannya, Quizlet berbentuk digital dan interaktif (Nurrohim et al., 2026).

Adapun isi yang dimuat di dalamnya disebut bahan. Satu set kartu berisi kata Arab, harakat, arti, contoh ayat, dan keterangan tambahan yang disusun sistematis berdasarkan tujuan pembelajaran, misalnya mufradat juz 30 atau kosakata bertema akhlak. Set ini dapat disebut bahan ajar karena memuat materi terstruktur yang dapat dipelajari secara mandiri, memiliki urutan, dan capaiannya dapat diukur. Tanpa bahan yang dirancang dengan baik, Quizlet hanyalah wadah kosong. Sebaliknya, bahan yang baik tanpa media yang tepat akan sulit diulang secara konsisten. Karena itu, Quizlet lebih tepat disebut media pendukung, sedangkan set kartu mufradat adalah bahannya.

Gambaran Pembelajaran

Pembelajaran dapat berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, pendidik menyusun set mufradat, misalnya dua puluh kata dari satu surah lengkap dengan arti dan potongan ayat. Kedua, peserta didik mempelajari set tersebut melalui mode kartu untuk pengenalan, kemudian mode kuis dan pencocokan untuk latihan. Ketiga, pendidik memeriksa hasil latihan dan membahas kata yang masih sering keliru dalam pertemuan tatap muka. Pola ini relevan dengan kebutuhan menghubungkan materi Al-Qur’an dengan literasi digital peserta didik (Nurrohim et al., 2026). Dalam praktiknya, pendidik juga dapat diminta menyusun set sendiri sebagai tugas kelompok, sehingga proses membuat bahan ikut menjadi kegiatan belajar.

Peluang dan Kelebihan

Bukti penelitian menunjukkan potensi yang menjanjikan, meskipun perlu dibaca secara hati-hati. Penelitian eksperimen semu pada 40 siswa kelas X di Kota Gorontalo menemukan bahwa penggunaan Quizlet meningkatkan penguasaan mufradat bahasa Arab, dengan rata-rata nilai pascates kelas eksperimen mencapai 83,50 (N. Hula et al., 2024). Mengulang kosakata dengan Quizlet setiap pekan memperoleh skor yang lebih tinggi secara signifikan daripada kelompok kontrol. Hasil ini belum berarti Quizlet cocok untuk semua kondisi, tetapi cukup menjadi alasan untuk mencobanya secara terencana (Nguyen & Le, 2023).

Dari temuan tersebut dan karakteristik aplikasinya, setidaknya ada empat kelebihan. Pertama, pengulangan menjadi ringan karena mode permainan mengurangi kejenuhan. Kedua, belajar menjadi fleksibel sehingga siswa dapat mengulang kosakata di perjalanan atau di sela kegiatan. Ketiga, pendidik mudah membagikan set yang sama kepada banyak peserta didik dan memperbaruinya sewaktu-waktu. Keempat, peserta didik terdorong aktif karena dapat menyusun set sendiri, bukan sekadar menerima.

Strategi Pemanfaatan

Agar manfaatnya nyata, ada beberapa strategi yang dapat diterapkan. Pertama, susun set per tema atau per surah dengan jumlah kata terbatas, misalnya sepuluh hingga dua puluh kata, supaya beban belajar tidak berlebihan. Kedua, cantumkan konteks, yaitu kata beserta harakat dan satu potongan ayat, bukan arti tunggal, agar makna tidak lepas dari konteks Qur’ani. Ketiga, padukan dengan pertemuan tatap muka sehingga kata yang sering keliru dapat dibahas bersama. Keempat, jadwalkan pengulangan berkala selama beberapa hari, bukan sekali pada malam sebelum ujian. Kelima, tempatkan Quizlet sebagai pendukung, bukan pengganti pendidik.

Batasan dan Kekurangan

Sejumlah batasan perlu diakui secara jujur. Pertama, penguasaan lewat kartu cenderung berhenti pada tingkat kata. Makna kata dalam Al-Qur’an sering bergantung pada konteks ayat dan penafsiran, sehingga satu arti pada kartu dapat menyederhanakan makna yang sebenarnya lebih kaya. Kedua, aplikasi tidak dapat menilai pelafalan sesuai kaidah tajwid. Aspek ini tetap memerlukan bimbingan langsung sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas hafalan santri tahfiz (Hamidah & Nurrohim, 2026).

Ketiga, bukti penelitian yang tersedia umumnya berskala kecil dan berdurasi singkat, serta sebagian besar berfokus pada kosakata bahasa Inggris, bukan kosakata Qur’ani secara khusus. Karena itu, hasilnya belum dapat digeneralisasi begitu saja. Keempat, aplikasi bergantung pada gawai dan jaringan internet, dan sebagian fitur dapat dibatasi pada versi berbayar. Kelima, mutu pembelajaran sangat bergantung pada ketelitian penyusun set. Kesalahan harakat atau arti pada kartu akan ikut terhafal oleh peserta didik.

Quizlet layak diperlakukan sebagai media pendukung pembelajaran mufradat Al-Qur’an, bukan sebagai solusi tunggal. Aplikasi ini unggul dalam melatih pengulangan dan menumbuhkan keaktifan, tetapi lemah dalam kedalaman makna dan ketepatan pelafalan. Kunci keberhasilannya terletak pada kualitas bahan yang disusun, strategi penggunaan yang terencana, dan peran pendidik yang tetap hadir membimbing. Dengan pembagian peran yang jelas antara teknologi dan pendidik, hafalan kosakata dapat menjadi langkah awal menuju pemahaman Al-Qur’an yang lebih mendalam.

Penulis: Fatchurrohman Anggara Rofi Al Hafidz

Editor: Redaksi

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *