Kajian Politik BEM FAI UMS Bedah Konsep Kepemimpinan Ideal
Diskusi publik bertema ”Incompetence is Crime” yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Taman Djazman pada hari Kamis, 29 Oktober 2026 membahas tentang kompetensi pemimpin dari segi pendidikan, ekonomi, serta perspektif Islam. Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa FAI, tetapi juga dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), hingga Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) untuk menyadarkan kembali pandangan mahasiswa terhadap politik.
Pemantik pertama, Rio, menyampaikan tentang idealisme pemimpin dari segi pendidikan. Ia menjelaskan bahwa dengan pendidikan, seseorang seharusnya dapat merefleksikan pengetahuannnya dalam bersikap, berbicara, dan mengontrol emosinya. Ia menekankan pentingnya proses belajar yang dihadapkan langsung dengan permasalahan sekitar agar pengetahuan tersebut terimplementasikan dengan baik.
Selanjutnya pemantik kedua, Yusuf menyoroti konsep kepemimpinan dalam Islam yang wajib berlandaskan aspek amanah, keadilan, serta penggabungan sifat kekuatan dan kepercayaan. Ia menyampaikan bahwa penyerahan tanggung jawab kepemimpinan tidak boleh hanya melihat popularitas semata, melainkan harus mempertimbangkan kompetensi, integritas, dan kapasitas yang dimiliki seseorang. ”Ketika seorang pemimpin memiliki kemampuan tetapi tidak berintegritas, kira-kira risikonya apa? Akan mengalami kehancuran akan disalahgunakan seperti apa yang kita lihat saat ini,”(29/10/2026).
Sementara itu pemantik ketiga, Gandi membahas persoalan penempatan orang yang tidak kompeten pada posisi strategis dinilai akan menimbulkan kerugian yang berdampak luas. Ia memaparkan adanya jebakan utama yang perlu diperbaiki meliputi kualitas sumber daya manusia dan berbagai persoalan di ranah ekonomi.
Pada sesi terakhir, pemantik keempat, Dito memfokuskan pembahasan pada indikator kualitas seorang pemimpin yang perlu dinilai dari segi intelektualitas serta bagaimana kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan berdasarkan data atau riset yang akurat. Ia menjelaskan bahwa penanganan masalah di dalam suatu pemerintahan akan berjalan jauh lebih lambat apabila proses penyelidikan dan pengambilan keputusannya tidak didukung oleh data yang memadai.
Rosihan, selaku ketua bidang penyelenggara diskusi ini mengungkapkan bahwa diskusi ini sengaja menghadirkan berbagai sudut pandang dari program studi di lingkungan FAI agar mahasiswa semakin terbuka wawasannya terhadap dinamika perpolitikan. ”Kita latar belakangnya itu melihat dari mahasiswa FAI yang kita lihat saat ini mungkin terlalu menilai politik itu buruk terus kayak udah mulai apatis terkait perpolitikan,”. Ia juga menyampaikan bahwa banyak peserta yang merespons positif dan meminta adanya diskusi lanjutan ke depan. ”Kita juga sedang menyiapkan buat konferma, kalau ada waktu senggang, aku pengen sekali lagi menghadirkan pakar-pakar yang lebih kompeten lagi,” ujarnya.
Reporter: Anisa Purnama & Inni Fadilatul
Editor: Redaksi

