Qaulan Sadidan di Era Hate Speech: Ketika Tata Bahasa Al-Qur’an Mengajari Kita Berbicara

ARTIKEL

Coba buka kolom komentar di akun berita mana pun. Dalam lima menit, hampir pasti Anda menemukan kalimat yang bikin dada panas: hinaan, olok-olok, tuduhan tanpa bukti. Kita sering menyebutnya “cuma komentar”. Padahal Al-Qur’an memperlakukan ucapan sebagai urusan serius (Sukmaningtyas dkk., 2024), dan salah satu ayat yang paling lugas soal ini sering terlewat karena terlalu akrab di telinga.

Ayat yang Pendek tapi Padat

Ayatnya ada di QS. Al-Ahzab ayat 70:

Yā ayyuhal-ladzīna āmanut-taqullāha wa qūlū qawlan sadīdā.

Artinya kurang lebih: “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”

Banyak dari kita berhenti di terjemahan. Tidak salah, tapi ada banyak hal yang baru kelihatan kalau kita menengok susunan kalimatnya, dan di situlah ilmu nahwu dan i’rab berguna. I’rab itu sederhananya adalah cara membaca “peran” setiap kata dalam kalimat, ditandai lewat bunyi di ujung kata (Bahri, 2024; Maulana, 2022).

Membaca Peran Tiap Kata

Ada tiga hal kecil yang menarik di ayat ini.

Pertama, perintahnya ditujukan kepada orang beriman. Kata qūlū adalah kata kerja perintah untuk banyak orang. Jadi ini bukan nasihat untuk satu tokoh atau satu kelompok. Siapa pun yang mengaku beriman ikut terkena, termasuk kita yang bicara lewat jempol.

Kedua, kata qawlan berharakat fathah di ujungnya. Dalam tata bahasa Arab, itu tanda bahwa qawlan berperan sebagai objek: apa yang harus “dikatakan”? Jawabannya, perkataan. Lalu sadīdā mengikutinya sebagai sifat, juga dengan bunyi akhir yang sama. Artinya, yang diminta bukan sekadar “berbicara”, melainkan berbicara dengan mutu tertentu. Kata sadīd sendiri dipahami para ahli tafsir sebagai lurus, tepat, dan mengena pada sasaran: benar isinya, jujur maksudnya, dan tidak menyimpang (Syauqi & Nurrohim, 2026).

Ketiga, ada janji di ayat berikutnya. Ayat 71 berbunyi yuṣliḥ lakum a’mālakum wa yaghfir lakum dzunūbakum, “niscaya Dia memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.” Para pengkaji bahasa membaca kalimat ini sebagai akibat dari perintah sebelumnya. Jadi hubungannya seperti sebab dan akibat: jaga ucapan, maka amal ikut terbenahi. Ucapan bukan urusan sampingan. Ia ditempatkan sebagai pintu masuk perbaikan hidup.

Oh ya, urutannya juga patut dicatat. Perintah bertakwa datang lebih dulu, baru perintah menjaga ucapan. Seolah ayat ini bilang: kendalikan hati dulu, baru lidah akan mengikuti.

Lalu, Apa Kaitannya dengan Ujaran Kebencian?

Ujaran kebencian di media sosial biasanya punya ciri yang berlawanan dengan qaulan sadidan.

Isinya sering tidak lurus. Fakta dipotong, cerita dibumbui, orang dituduh tanpa dicek. Sasarannya pun meleset: yang diserang bukan gagasan, tapi pribadi, suku, atau keyakinan seseorang. Dan motivasinya lebih sering ingin menang atau ingin ramai daripada ingin benar.

Di sinilah ayat tadi terasa dekat. Kalau ukuran ucapan yang baik adalah “lurus dan tepat sasaran”, maka sebuah komentar patut kita periksa lewat beberapa pertanyaan sederhana. Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini menyerang ide atau menyerang orangnya? Kalau jawabannya goyah, mungkin lebih baik tidak jadi diketik.

Lurus Bukan Berarti Kasar

Ada salah paham yang sering muncul. Sebagian orang merasa “berkata benar” memberi izin untuk bicara blak-blakan tanpa peduli perasaan lawan. Padahal Al-Qur’an punya ayat lain yang melengkapi. Ketika Allah mengutus Musa dan Harun menemui Firaun, penguasa yang zalim, mereka justru diminta berkata dengan qaulan layyinan, perkataan yang lembut (QS. Thaha: 44; Utami & Nurrohim, 2026).

Jadi kebenaran dan kelembutan tidak saling meniadakan. Ucapan yang baik itu isinya lurus, caranya santun. Kalau salah satunya hilang, hasilnya bisa menjadi kebohongan yang manis, atau kebenaran yang melukai tanpa perlu.

Beberapa Kebiasaan Kecil yang Bisa Dicoba

Ada beberapa kebiasaan kecil yang bisa dicoba mulai hari ini. Beri jeda sebelum mengirim: tarik napas beberapa detik saat membalas komentar yang memancing emosi, karena jeda sependek itu sering cukup untuk menyelamatkan kita dari penyesalan. Periksa dulu sebelum membagikan, sebab kabar yang belum jelas kebenarannya sebaiknya tidak ikut kita sebarkan, sejalan dengan semangat tabayyun di QS. Al-Hujurat ayat 6 (Zhahira & Nurrohim, 2026; Sabilillah & Nurrohim, 2026). Kritiklah gagasannya, bukan orangnya; kita boleh tidak setuju, yang perlu dijaga adalah cara menyampaikannya. Terakhir, tanyakan niat pada diri sendiri: apakah komentar ini untuk meluruskan, atau sekadar melampiaskan?

Ayat 70 dari Surah Al-Ahzab tidak panjang, tapi susunannya rapi: perintah ditujukan kepada semua orang beriman, kualitas ucapan disebut secara khusus, dan hasilnya dijanjikan di ayat sesudahnya. Kalau kita mau membacanya dengan pelan, bahkan harakat di ujung satu kata pun mengingatkan bahwa ucapan itu punya “posisi” dan tanggung jawab. Di zaman ketika satu kalimat bisa menyebar ke ribuan layar dalam hitungan menit, ayat ini terasa makin relevan. Barangkali latihan paling sederhana untuk hari ini adalah satu hal saja: sebelum menekan tombol kirim, tanyakan pada diri sendiri, “Sudahkah ini sadīd?”

Penulis: Nurul Azizah

Editor: Redaksi

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *