Media Sosial: Ruang Ekspresi atau Ajang Kompetisi?
IslamikaOnline.com – Pernahkah Anda merasa lelah setelah berselancar di media sosial, padahal niat awalnya hanyalah untuk berbagi cerita atau mencari inspirasi? Fenomena ini menggambarkan pergeseran fungsi platform digital yang sangat dinamis. Media sosial yang sejatinya lahir sebagai ruang ekspresi yang demokratis, kini perlahan bertransformasi menjadi ajang kompetisi yang melelahkan bagi kesehatan mental.
Menurut penelitian Ahmad Nurrohim (2023) mengenai Otoritas Keagamaan di Ruang Siber, media sosial telah menciptakan arena baru di mana setiap orang berkompetisi untuk mendapatkan pengakuan. Ekspresi diri tidak lagi sekadar berbagi ide, melainkan upaya untuk mendominasi narasi dan meraih otoritas digital. Di ruang ini, siapa yang paling vokal dan memiliki jangkauan paling luas sering kali dianggap sebagai “pemenang”, terlepas dari kualitas substansi yang disampaikan.
Tantangan teknis dari penyedia platform juga turut memperkeruh suasana kompetitif ini. Afifah, Nurrohim, dkk. (2024) dalam studi mereka tentang transformasi digital menjelaskan bahwa algoritma platform secara tidak langsung memaksa pengguna untuk terus “menang” dalam statistik.
Akibatnya, ekspresi yang tulus sering kali terdistorsi menjadi konten yang sengaja diproduksi demi memancing interaksi (engagement). Ekspresi diri yang orisinal pun terkikis oleh tuntutan performatif untuk selalu tampil kompetitif di beranda orang lain, yang pada akhirnya mengaburkan esensi komunikasi yang jujur.
Dampak dari kompetisi terselubung ini sangat nyata bagi stabilitas psikologis pengguna. Dalam buku Kesehatan Jiwa dalam Al-Qur’an, Nurrohim dan Istiqomah (2024) menyoroti bagaimana kecemasan timbul saat standar kebahagiaan hanya diukur dari jumlah likes dan perbandingan gaya hidup yang tidak realistis.
Islam menawarkan solusi melalui konsep syukur dan tuma’ninah (ketenangan jiwa) agar kita tetap bisa berekspresi tanpa harus terjebak dalam perlombaan semu yang merusak stabilitas emosional. Tanpa filter spiritual, ruang ekspresi ini akan terus berubah menjadi beban mental yang berat.
Menghadapi sisi gelap media sosial, seperti komentar negatif atau perundungan siber (cyberbullying), memerlukan ketahanan mental yang bersumber dari etika komunikasi yang kokoh. Menurut Nurrohim dan Sari (2022) dalam kajiannya tentang etika komunikasi Al-Qur’an, prinsip Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik) dan Qaulan Layyina (perkataan yang lemah lembut) seharusnya menjadi standar respons kita di ruang digital.
Menghadapi kebencian dengan kebencian serupa hanya akan memperpanjang siklus kompetisi negatif yang merusak. Sebaliknya, dengan mengedepankan kesantunan, kita sebenarnya sedang menjaga martabat diri sendiri sekaligus melakukan moderasi dalam berinteraksi, sebagaimana ditekankan dalam konsep moderasi beragama oleh Nurrohim (2021) untuk menciptakan iklim digital yang lebih inklusif.
Lebih jauh lagi, menjaga kesehatan jiwa saat berhadapan dengan kritik destruktif dapat dilakukan melalui praktik “penyaringan mental.” Nurrohim dan Istiqomah (2024) menjelaskan bahwa ketenangan jiwa hanya bisa dicapai jika kita tidak membiarkan validasi eksternal mendikte harga diri kita.
Dalam menghadapi komentar negatif, kita diajak untuk melakukan tabayyun (verifikasi) internal: apakah kritik tersebut membangun atau sekadar luapan emosi orang lain? Dengan memahami otoritas diri di ruang siber sebagaimana dipetakan oleh Nurrohim (2023), kita memiliki kuasa penuh untuk memilih mana yang layak ditanggapi dan mana yang harus dilepaskan demi menjaga fokus pada ekspresi yang benar-benar bermanfaat.
Pada akhirnya, kemampuan untuk tetap tenang di tengah hiruk-pikuk komentar negatif dan tekanan kompetisi adalah bentuk nyata dari syukur atas kedamaian batin. Sebagaimana riset Afifah dan Nurrohim (2024) tentang transformasi digital, platform hanyalah alat; kitalah yang memegang kendali atas cara kita merespons.
Dengan mempraktikkan kesabaran dan etika yang diajarkan dalam teks suci, kita mengubah ruang media sosial yang tadinya terasa seperti ajang kompetisi tajam menjadi ruang ekspresi yang penuh martabat. Ini sejalan dengan visi Ayuni, Nirwana, dan Nurrohim (2023) bahwa tren studi masa depan harus mampu mengembalikan kemanusiaan dan keberadaban ke dalam interaksi digital yang kian kompleks, menjadikan kita tuan atas jari kita sendiri.
Oleh : Zahra Lu’lu’a Salsabila
Editor : Imam Wicaksana

