Al-Qur’an adalah Kitab Sains? Kajian Tafsir ‘Ilmī
Al-Qur’an adalah pedoman bagi umat islam. Namun bagaimana seorang muslim bisa mengamalkan ajaran yang ada di dalam Al-Qur’an, jika membacanya saja tidak bisa (Nirwana An et al. 2023). Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan pemahaman di kalangan umat Muslim tentang Teks-teks normatif yang menunjuk tegas peran Al-Qur‘an didalam kehidupan (Nurrohim 2019), dan Al-Qur’an juga sebagai buku yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Al-Qur‘an merupakan kitab illahi, yang berfungsi membimbing manusia dari kegelapan menuju pencerahan, dan merupakan jalan yang terlurus. Keyakinan ini semakin menguat seiring dengan bertambahnya minat umat Islam untuk melihat hubungan antara ajaran agama dan kemajuan dalam ilmu modern. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya ceramah, buku-buku populer, kajian keislaman, dan konten dakwah di media sosial yang berusaha menunjukkan hubungan antara ayat-ayat dalam Al-Qur’an dengan berbagai penemuan ilmiah, termasuk proses penciptaan manusia, pergerakan benda-benda langit, struktur pegunungan, dan asal-usul alam semesta.
Dalam era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (Sukmaningtyas et al. 2024), ini pada dasarnya merupakan suatu upaya positif untuk menampilkan kemukjizatan Al-Qur’an. Semua berjalan sesuai kebutuhan sewaktu-waktu (Nurrohim, n.d.). Ilmu pengetahuan yang dimiliki menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia (Rahayu and Nurrohim 2022). Apalagi, generasi saat ini tumbuh dalam tradisi berpikir yang logis dan ilmiah, sehingga pendekatan ilmiah sering dipandang sebagai cara yang efektif untuk menunjukkan bahwa ajaran Islam relevan dengan perkembangan zaman. Namun, ada pertanyaan penting yang perlu dijawab dengan cermat; apakah Al-Qur’an benar-benar dapat dianggap sebagai buku sains? Pertanyaan ini krusial untuk dikaji agar tidak ada kebingungan mengenai fungsi utama Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, salah satu metode yang sering digunakan adalah tafsir ‘ilmī. Secara sederhana, tafsir ‘ilmī adalah cara dalam menafsirkan Al-Qur’an yang berupaya memahami ayat-ayat kauniyah (Muwaffaq 2020) yang membahas fenomena alam dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan modern. Pendekatan ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa fenomena alam yang dijelajahi manusia melalui sains pada dasarnya adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang sebelumnya telah diungkapkan dalam Al-Qur’an. Dengan begitu, tafsir ‘ilmī tidak dimaksudkan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai buku sains, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat iman melalui pemahaman tentang alam semesta.
Jika kita perhatikan dengan seksama, Al-Qur’an memang menyimpan banyak ayat yang mengajak manusia untuk menyimak alam. Langit dan bumi, perputaran siang dan malam, asal-usul manusia, gunung, lautan, hujan, serta berbagai fenomena alam lainnya disebut sebagai tanda-tanda kuasa Allah. Ayat-ayat ini dikenal sebagai ayat kauniyah, yang mendorong manusia untuk berpikir, merenung, dan memanfaatkan akalnya. Namun, perlu dipahami bahwa ayat-ayat ini tidak ditujukan sebagai penjelasan ilmiah yang teknis seperti dalam buku-buku sains kontemporer. Sebaliknya, ayat-ayat ini berfungsi sebagai media refleksi iman agar manusia menyadari keteraturan dan kebijaksanaan di belakang ciptaan alam semesta. Dalam hal ini, Al-Qur’an mendorong manusia untuk berpikir secara ilmiah, tetapi tidak menggantikan peran ilmu pengetahuan itu sendiri.
Di sisi lain, sejumlah ayat dalam Al-Qur’an sering kali dianggap memiliki kesesuaian dengan penemuan ilmiah zaman modern. Sebagai contoh, ayat mengenai penciptaan manusia dari nutfah, proses pembentukan alam semesta, serta peran gunung sebagai penyangga bumi sering dijadikan contoh untuk menunjukkan kesesuaian antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Selain itu, Al-Qur’an juga sejauh ini mendorong manusia untuk mengamati alam dan melakukan penelitian terhadap ciptaan Allah. Dorongan ini pada masa klasik melahirkan tradisi keilmuan yang kuat dalam peradaban Islam. Para ilmuwan Muslim dalam bidang astronomi, kedokteran, matematika, dan geografi menjadikan ayat-ayat kauniyah sebagai sumber inspirasi untuk mengembangkan penelitian ilmiah (Firmansyah 2016).
Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara Al-Qur’an dan perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, hubungan ini tidak berarti bahwa Al-Qur’an adalah buku sains dalam pengertian modern. Sains bersifat dinamis dan terus berkembang mengikuti hasil penelitian terbaru, sedangkan Al-Qur’an sebagai wahyu memiliki kebenaran yang tetap dan berfungsi sebagai pedoman hidup sepanjang masa. Jika ayat-ayat Al-Qur’an dipaksa untuk selalu sejalan dengan teori ilmiah tertentu, maka saat teori tersebut berubah, penafsiran yang terkait juga berpotensi berubah. Oleh karena itu, penggunaan tafsir ‘ilmī harus dilaksanakan dengan kehati-hatian dan proporsional.
Para ulama sendiri memiliki berbagai pandangan mengenai penerapan pendekatan tafsir ‘ilmī. Beberapa ulama mendukung pendekatan ini sebagai metode dakwah modern yang efektif, terutama untuk menjelaskan relevansi Al-Qur’an di tengah kemajuan ilmu pengetahuan. Pendekatan ilmiah dianggap mampu menjangkau generasi muda yang terbiasa berpikir logis. Namun di sisi lain, ada juga ulama yang mengingatkan agar tafsir ‘ilmī tidak digunakan secara berlebihan dengan memaksakan ayat-ayat Al-Qur’an agar senantiasa sesuai dengan teori sains yang sifatnya sementara. Mereka menekankan bahwa penafsiran Al-Qur’an harus berpegang pada kaidah tafsir yang benar dan tidak mengubah fungsi utama Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk hidup.
Oleh karena itu, sikap moderat menjadi kunci dalam memahami keterkaitan antara Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Di satu sisi, kita perlu mengakui adanya kesesuaian antara ayat-ayat Al-Qur’an dan fenomena alam yang dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan modern. Kesesuaian ini dapat memperkuat keyakinan bahwa ajaran Al-Qur’an sesuai dengan akal dan kenyataan empiris. Namun di sisi lain, ayat-ayat Al-Qur’an tidak seharusnya dianggap sebagai teori ilmiah yang teknis dan berubah-ubah seiring waktu.
Dengan pendekatan yang seimbang, ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai cara untuk memahami kebesaran Tuhan melalui tanda-tanda ciptaan-Nya di dunia. Di sisi lain, Al-Qur’an tetap diakui sebagai sumber utama petunjuk bagi manusia (Ridwan et al. 2021). Oleh karena itu, tafsir ilmiah dapat berperan sebagai penghubung antara wahyu dan rasio tanpa mengubah tujuan utama penurunan Al-Qur’an sebagai panduan dalam hidup manusia.
Penulis : Muhammad Yosefian Aqilla
Editor : Ikhwan M Situmorang

