Belajar Al-Qur’an di Era Digital: Saatnya Media dan Materi Pembelajaran Beradaptasi

ARTIKEL

Sangat sulit membayangkan kehidupan sehari-hari tanpa kehadiran ponsel dan internet. Mulai dari mencari informasi, berkomunikasi, hingga mengikuti kegiatan belajar, semuanya kini dapat dilakukan melalui perangkat digital. Perubahan ini turut memengaruhi kebiasaan generasi muda dalam memperoleh pengetahuan. Mereka semakin akrab dengan berbagai aplikasi, video, dan konten interaktif yang membuat proses belajar terasa lebih praktis. Kondisi tersebut juga membuka peluang baru dalam pembelajaran Al-Qur’an (Khasanah dan Wahyuningsih, t.t.).

Jika dahulu kegiatan mengaji identik dengan buku Iqra dan belajar secara langsung di hadapan guru, sekarang pilihan media pembelajaran semakin beragam. Ada aplikasi belajar membaca Al-Qur’an, video penjelasan tajwid, rekaman murattal, hingga permainan edukatif untuk mengenalkan huruf hijaiyah. Berbagai media tersebut dapat membantu anak belajar dengan cara yang lebih menarik. Mereka tidak hanya membaca materi dari buku, tetapi juga dapat melihat contoh, mendengarkan pelafalan, dan mencoba latihan secara mandiri.

Kehadiran media digital juga memberikan kesempatan kepada anak untuk mengulang materi di luar waktu belajar. Misalnya, ketika masih kesulitan membedakan pelafalan huruf hijaiyah tertentu, mereka dapat kembali mendengarkan audio atau menyaksikan video pembelajaran di rumah. Dengan demikian, proses belajar tidak harus berhenti ketika kegiatan mengaji di TPA selesai (Mawadda dan Nasution, 2025). Anak memiliki kesempatan untuk berlatih sesuai dengan waktu dan kemampuannya.

Meskipun demikian, penggunaan teknologi tidak serta-merta menjadikan pembelajaran Al-Qur’an lebih efektif. Media yang terlihat menarik belum tentu mampu menyampaikan materi dengan baik. Ada kalanya anak justru lebih tertarik pada animasi dan permainan daripada memahami bacaan yang sedang dipelajari. Oleh sebab itu, pemilihan media perlu mempertimbangkan usia, kemampuan, serta kebutuhan peserta didik. Anak yang baru mengenal huruf hijaiyah tentu membutuhkan pendekatan berbeda dengan anak yang sudah mulai mempelajari hukum tajwid.

Selain media, materi pembelajaran juga perlu mendapatkan perhatian. Materi yang disampaikan sebaiknya disusun secara bertahap agar anak tidak merasa kesulitan ketika mempelajarinya. Pembelajaran dapat dimulai dari pengenalan huruf hijaiyah, dilanjutkan dengan makharijul huruf, kemudian hukum tajwid, latihan membaca, hingga memahami makna ayat sesuai tingkat kemampuan masing-masing. Urutan tersebut penting agar anak memiliki dasar yang kuat sebelum beranjak ke materi berikutnya.

Pengembangan materi juga dapat dilakukan dengan cara sederhana dan kreatif. Misalnya, gambar berwarna dapat digunakan untuk mengenalkan bentuk huruf hijaiyah, sedangkan rekaman audio membantu anak membedakan bunyi huruf yang memiliki pelafalan hampir serupa. Kuis interaktif juga bisa dimanfaatkan untuk menguji pemahaman mengenai hukum bacaan. Melalui kegiatan semacam ini, anak tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga terlibat secara aktif dalam proses belajar.

Namun, kreativitas dalam menyusun materi tidak boleh mengabaikan ketepatan isi. Pembelajaran Al-Qur’an memiliki aturan bacaan yang harus diperhatikan, mulai dari makhraj, sifat huruf, hingga penerapan hukum tajwid. Karena itu, materi yang disajikan melalui media digital harus memiliki sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Tampilan yang menarik tidak akan banyak membantu apabila contoh bacaan yang diberikan justru keliru. Di sinilah guru memiliki peran penting untuk memeriksa materi sekaligus memastikan peserta didik memahami apa yang dipelajari.

Tantangan lainnya adalah keterbatasan fasilitas. Tidak semua keluarga memiliki perangkat digital atau jaringan internet yang memadai. Akibatnya, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran belum tentu dapat dirasakan secara merata oleh setiap anak. Selain itu, penggunaan gawai tanpa pengawasan juga berpotensi mengalihkan perhatian mereka ke konten lain yang tidak berkaitan dengan kegiatan belajar. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi tetap membutuhkan pengelolaan dan pendampingan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.

Oleh karena itu, peran guru dan orang tua tidak dapat digantikan oleh kecanggihan teknologi. Guru tetap dibutuhkan untuk menyimak bacaan, memperbaiki kesalahan pelafalan, dan memberikan arahan sesuai kemampuan peserta didik. Sementara itu, orang tua dapat membantu mengawasi penggunaan perangkat digital serta membiasakan anak untuk mengulang pelajaran di rumah. Kerja sama keduanya membuat kegiatan belajar lebih terarah. Teknologi dapat digunakan untuk memperkuat pemahaman, sedangkan bimbingan langsung membantu menjaga ketepatan bacaan (Husaeni dkk., 2026).

Pada dasarnya, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran Al-Qur’an bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Hal yang lebih penting adalah bagaimana media dan materi tersebut mampu membantu peserta didik belajar dengan lebih mudah tanpa mengurangi kualitas pembelajarannya. Guru dapat mengombinasikan metode tatap muka dengan media digital, misalnya memberikan video penjelasan tajwid sebagai bahan belajar di rumah, kemudian mengajak anak mempraktikkan materi tersebut ketika kegiatan mengaji berlangsung. Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih bervariasi sekaligus tetap memberikan ruang bagi guru untuk melakukan koreksi secara langsung (Prawirosastro, t.t.).

Kemajuan teknologi memang memberikan banyak kemudahan dalam mempelajari Al-Qur’an. Namun, tujuan pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi atau mengikuti materi digital. Anak tetap perlu dibimbing agar mampu membaca Al-Qur’an dengan benar, memahami pelajaran sesuai kemampuannya, dan menumbuhkan kecintaan terhadap kitab suci. Nilai-nilai Al-Qur’an juga perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membiasakan perkataan yang baik, jujur, lemah lembut, dan penuh makna sebagaimana tercermin dalam konsep qaulan sadīdan, qaulan ma‘rūfan, qaulan layyinan, dan qaulan tsaqīlan (Sukmaningtyas dkk., 2024). Sebagai kitab petunjuk, Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan (Nurrohim, 2019).

Pada akhirnya, teknologi hanyalah sarana untuk mendukung proses belajar. Kualitas pembelajaran tetap bergantung pada ketepatan materi, kesesuaian metode, serta pendampingan yang diberikan. Dengan memanfaatkan media digital secara bijaksana, pembelajaran Al-Qur’an dapat menjadi lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan generasi sekarang. Perkembangan zaman seharusnya tidak membuat generasi muda semakin jauh dari Al-Qur’an, tetapi justru menjadi kesempatan untuk mengenalkannya melalui cara-cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Penulis: Syifa Amali Yatul Qisthi

Editor: Redaksi

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *