Satu Kata, Beda Harakat: Mengungkap Rahasia I‘rab dalam Dua Ayat QS. Āli ‘Imrān 185 dan Al-Baqarah 286

ARTIKEL

Kata nafs, “jiwa”, tertulis sama dalam كُلُّ نَفْسٍ (Āli ‘Imrān 185) dan لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا (Al-Baqarah 286). Yang berbeda hanya harakat akhirnya: kasrah tanwin pada ayat pertama dan fathah tanwin pada ayat kedua. Bagi pembaca awam itu sekadar perbedaan bunyi, tetapi bagi ilmu i‘rab harakat akhir menandai peran kata dalam kalimat, seperti seragam yang menandai jabatan. Perbedaan peran itu sejalan dengan pesan tiap ayat, yakni kepastian kematian pada ayat pertama dan kemurahan Allah dalam membebani hamba-Nya pada ayat kedua. Sebagian mufasir mengaitkan ayat 185 dengan peristiwa Uhud sebagai penghiburan bagi kaum mukminin yang tertimpa musibah (Ad-Da‘as dkk., tafsir QS. 3: 185). Adapun ayat 286 turun setelah ayat 284 membuat para sahabat khawatir karena menyebut perhitungan atas isi hati; mereka mengadu kepada Rasulullah saw., lalu turunlah ayat 286 yang meringankan (Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 329 dan 330).

Pada Āli ‘Imrān 185, kalimat dibuka dengan jumlah ismiyyah yang tersusun dari mubtada’ dan khabar (Ad-Da‘as dkk., tafsir QS. 3: 185). Kullu adalah mubtada’ marfu‘ sekaligus mudhaf, nafsin adalah mudhaf ilaih majrur, dan dzā’iqatu adalah khabar marfu‘ berupa isim fā‘il mu’annats. Bagian berikutnya memuat tuwaffawna sebagai mudhari‘ mabni lil-majhūl dengan wawu sebagai nā’ib fā‘il dan ujūrakum sebagai maf‘ūl bih kedua, sedangkan yauma al-qiyāmah adalah zharf zaman manshub. Kalimat fa man zuhziha … fa qad fāza berpola syarat, dan kalimat penutupnya berpola hashr dengan mā nafiyah dan illā sebagai adat hashr. Harakat nafsin berupa kasrah karena kata sesudah mudhaf otomatis menjadi mudhaf ilaih yang selalu majrur, dan tanwinnya menandakan nakirah sehingga bermakna “setiap jiwa mana pun”. Adapun dzā’iqatu berharakat dhammah karena menjadi khabar bagi kullu yang berada di posisi rafa‘. Sebagai isim fā‘il bermakna “akan merasakan”, ia bisa bekerja seperti fi‘il. Hal ini melahirkan bacaan lain dari al-A‘masy, Yahya, dan Ibnu Abi Ishaq, yakni dzā’iqatun al-mawta dengan tanwin dan nashb. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa bacaan jumhur menghilangkan tanwin demi keringanan, sedangkan bentuk dasarnya bertanwin dengan objek manshub (Al-Qurthubi, tafsir QS. 3: 185).

Berbeda dengan ayat 185, Al-Baqarah 286 dibuka dengan jumlah fi‘liyyah yang didahului nafi, dengan Allah sebagai pelaku dan jiwa sebagai pihak yang dikenai tindakan (Ad-Da‘as dkk., tafsir QS. 2: 286). Lā adalah nafiyah, yukallifu mudhari‘ marfu‘ yang membutuhkan dua objek, Allāhu fā‘il marfu‘, nafsan maf‘ūl bih pertama yang manshub, dan wus‘ahā maf‘ūl bih kedua. Kata illā membentuk istitsna’ mufarragh yang membatasi beban hanya sebatas kesanggupan. Pada lahā mā kasabat dan wa ‘alayhā mā iktasabat, jar-majrur didahulukan sebagai khabar muqaddam, sedangkan mā maushul menjadi mubtada’ mu’akhkhar. Meski hanya satu kata nakirah, nafsan setelah lā bermakna umum, yaitu tidak satu jiwa pun. Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai “tidak membebani siapa pun melebihi kemampuannya” (Ibnu Katsir, tafsir QS. 2: 286). Dengan demikian, kedua ayat sama-sama berbicara tentang semua jiwa, tetapi keumuman itu lahir dari dua sumber berbeda, yaitu kata kullu pada ayat 185 dan konteks nafi pada ayat 286.

Dari sisi tafsir, Ibnu Katsir memahami “setiap jiwa akan merasakan mati” sebagai kabar umum yang mencakup seluruh makhluk, baik jin, manusia, maupun malaikat; hanya Allah Yang Maha Hidup yang tidak mati, sehingga ayat ini menjadi penghiburan bagi semua orang (At-Tafsīr al-Wasīṭ, tafsir QS. 3: 185). As-Sa‘di menangkap isyarat bahwa penyempurnaan penuh balasan terjadi pada hari Kiamat, sementara sebagian balasan dapat dirasakan lebih dahulu di barzakh, bahkan di dunia (As-Sa‘di, tafsir QS. 3: 185). Az-Zamakhsyari menyerupakan dunia dengan barang dagangan yang dipoles penjual agar pembeli tertipu (At-Tafsīr al-Wasīṭ, tafsir QS. 3: 185). Pesannya, kita tidak boleh terlena pada kilau yang cepat berlalu.

Pada ayat 286, menurut riwayat Muslim, setiap permohonan dalam doa penutup ayat itu dijawab Allah dengan “na‘am” dalam riwayat Abu Hurairah dan “qad fa‘altu” dalam riwayat Ibnu ‘Abbas (Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 329 dan 330). Ibnu Katsir menyebut ayat ini bukti kelembutan Allah: Allah menghisab, tetapi tidak menyiksa kecuali atas apa yang mampu dihindari manusia, dan bisikan hati yang tak terkendali tidak dibebankan (Ibnu Katsir, tafsir QS. 2: 286). Sufyan bin ‘Uyainah menambahkan bahwa wus‘ lebih ringan daripada thāqah sehingga yang dibebankan adalah kemudahan, bukan batas tertinggi daya manusia. Ath-Thabari menegaskan bahwa Allah tidak menyiksa karena niat yang sekadar terlintas (Ath-Thabari, tafsir QS. 2: 286), dan Al-Qurthubi memaknai wus‘ sebagai kemampuan dan kelapangan (Al-Qurthubi, tafsir QS. 2: 286). Qatadah memaknai kasabat sebagai kebaikan dan iktasabat sebagai keburukan (Ath-Thabari, tafsir QS. 2: 286), dan didahulukannya lahā dan ‘alayhā menekankan bahwa pahala dan dosa melekat pada pelakunya sendiri (At-Tafsīr al-Wasīṭ, tafsir QS. 2: 286).

Sebagai refleksi, pada ayat 185 nafsin berstatus mudhaf ilaih, jiwa berada di bawah “payung” kullu, cakupan yang tak menyisakan pengecualian, sehingga pesannya adalah kepastian bahwa tak ada jiwa yang luput dari kematian. Pada ayat 286 nafsan berstatus objek, jiwa dikenai tindakan Allah tetapi dibatasi oleh illā wus‘ahā, sehingga pesannya adalah kemurahan bahwa tak ada jiwa yang dipaksa melampaui kesanggupannya. Keduanya seperti dua sisi satu mata uang: yang pertama mengingatkan agar kita bersiap karena akhir itu pasti, yang kedua menenangkan agar kita tidak putus asa karena beban itu terukur. Cara cepat menebak harakat akhir adalah dengan tidak bertanya “bunyinya apa?”, melainkan “kata ini bekerja sebagai apa?”. Mudhaf dan huruf jar menuntut jar (kasrah), fi‘il yang butuh objek menuntut nashb (fathah), sedangkan mubtada’, khabar, dan fā‘il berada di posisi rafa‘ (dhammah).

Dari satu kata yang hanya berbeda harakat, kita belajar bahwa i‘rab bukan sekadar urusan teknis. Ia membantu kita bertanya: apa peran kata ini, dan mengapa Al-Qur’an memilih peran itu di sini? Ketika pertanyaan itu terus diajukan, bacaan kita atas ayat menjadi lebih cermat dan pemahaman atas pesannya lebih dalam.

Penulis: Sholikhatun Khonitah

Editor: Redaksi

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *