Al-Qur’an dan Zaman Digital: Siapa yang Harus Mengikuti Siapa?

ARTIKEL

Zaman sekarang, rasanya jalan hidup kita bergerak secepat kilat. Mulai dari urusan kuliah, nongkrong, sampai cara kita nyari informasi, semuanya serba digital dalam era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (Sukmaningtyas et al. 2024). Kehadiran media sosial hingga kecerdasan buatan (AI) bikin apa pun terasa cuma sejauh sentuhan jari. Tapi jujur aja, di balik semua kepraktisan ini, ada “efek samping” yang makin nguji kita. Saban hari layar HP kita dijejali banjir hoaks, gosip viral, sampai budaya ikut-ikutan tren yang kadang bikin kita lupa mikir panjang.

Fenomena ini akhirnya menyentil kita, terutama sebagai anak muda muslim yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Di tengah gempuran tren yang terus berubah saban detik, di mana sih sebenarnya posisi petunjuk agama kita? Apakah Al-Qur’an yang kudu mengalah dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, atau justru zaman modern ini yang mestinya “sowan” dan belajar dari nilai-nilai Al-Qur’an?

Kalau dipikir-pikir, Al-Qur’an itu diturunkan lebih dari 14 abad yang lalu di tengah masyarakat Arab kuno. Tapi anehnya, nilai-nilai di dalamnya tetap relatable sampai sekarang. Hal ini karena Al-Qur’an dipenuhi rangkaian lafadz bernas yang penuh makna, di mana setiap lafadznya memiliki aksentuasi berjenjang dan pemaknaan yang begitu kaya (Al-Mizān, n.d.).

Apalagi sebagai kitab suci umat Islam, Al-Qur’an berfungsi sebagai Huda (petunjuk) bagi seluruh manusia yang memiliki pengaruh besar bagi kehidupan manusia di dunia maupun akhirat (Nurrohim et al. 2024). Dalam merespons kemajuan zaman, Islam sendiri pada dasarnya merupakan agama yang sangat menekankan pentingnya ilmu, di mana Al-Qur’an secara tegas memerintahkan manusia untuk terus mencari dan menuntut ilmu (Rahayu and Nurrohim 2022).

Hal ini sejatinya klop dengan pesan dalam QS. Ibrahim [14]: 4, di mana para rasul diutus menggunakan “bahasa kaumnya” agar pesannya tersampaikan dengan jelas. Dalam konteks anak muda zaman now, “bahasa kaum” itu ya realitas digital, dinamika media sosial, hingga perkembangan AI yang kita hadapi sehari-hari.

Namun, mengontekstualisasikan Al-Qur’an bukan berarti kita bebas “mengedit” makna ayat sesuka hati biar cocok sama gaya hidup kita. Ada garis batas yang tegas di sini: mengubah isi pesan wahyu itu jelas sama sekali tidak diperbolehkan, tapi mengembangkan pemahaman dan penerapannya adalah keharusan. Jadi, perkembangan era digital ini bukannya jadi alasan buat merombak ajaran agama, melainkan jadi tantangan buat kita para akademisi muda untuk terus menggali petunjuk Al-Qur’an secara lebih kritis, bijak, dan bertanggung jawab.

Jujur aja, di era media sosial sekarang, kita sering banget terjebak budaya asal ikutan tren demi dibilang kekinian atau up to date. Apa pun yang lagi viral di FYP, langsung kita tiru tanpa sempat mikir panjang. Fenomena berburu validasi dan pengakuan publik ini kadang bikin batas moral kita agak kabur. Kejujuran, etika, dan rasa tanggung jawab sering kalah cuma demi ngejar likes, views, atau impresi di medsos. Padahal, cuma karena sesuatu itu lagi populer atau dianggap modern, bukan berarti hal itu otomatis sejalan dengan ajaran agama.

Di sinilah Al-Qur’an kudu kita posisikan sebagai filter atau kompas utama, bukan cuma hiasan di rak buku atau pelengkap formalitas belaka. Menjadi anak muda yang relevan dan terbuka dengan perkembangan zaman itu bagus, tapi bukan berarti kita harus jadi mengekor tanpa daya kritis. Al-Qur’an hadir buat ngelatih kita agar punya pegangan yang kokoh jadi kita tahu kapan harus memanfaatkan kemajuan teknologi, dan kapan harus berani bilang “nggak” pada tren yang merusak nilai-nilai kemanusiaan dan keimanan.

Biar nggak cuma jadi teori yang mengawang-awang, coba kita lihat contoh riil di linimasa kita sehari-hari. Seberapa sering kita nemuin berita heboh yang langsung di-share ke grup WhatsApp keluarga atau Story Instagram, padahal isinya belum tentu benar? Kebiasaan asal pencet tombol share cuma karena judulnya clickbait atau sesuai opini pribadi ini sering banget memicu kegaduhan, saling hujat, sampai nyebarin hoaks di tengah masyarakat.

Padahal, Al-Qur’an jauh-jauh hari sudah ngasih solusi yang sangat taktis lewat QS. Al-Hujurat [49]: 6 melalui prinsip tabayyun, alias cek dan ricek. Di era serba digital ini, tabayyun itu bentuk nyatanya ya budaya literasi media dan fact-checking sebelum jempol kita asal ketik. Pesannya jelas: media sosial atau teknologi itu sendiri nggak perlu kita musuhi atau ditakuti. Yang paling krusial adalah bagaimana kita sebagai penggunanya mampu mengendalikan teknologi tersebut dengan etika, rasa tanggung jawab, dan nilai spiritual yang diajarkan Al-Qur’an(Mulyono 2021).

Pada akhirnya, menjawab pertanyaan “siapa yang harus mengikuti siapa?” nggak bisa kita selesaikan secara hitam-putih. Teks Al-Qur’an tentu nggak perlu dan nggak boleh diubah cuma demi nurutin selera zaman. Namun, cara kita memahami dan menerapkan nilainya harus terus bergerak dinamis. Kita perlu menghormati khazanah penafsiran ulama terdahulu, sekaligus tetap peka dan responsif terhadap realitas modern yang kita hadapi sekarang.

Tantangan terbesar anak muda hari ini bukanlah benturan antara Al-Qur’an versus zaman, melainkan bagaimana kita mampu mendudukkan Al-Qur’an sebagai navigator hidup. Zaman akan terus berubah, teknologi akan makin canggih, dan tantangan baru bakal terus berdatangan. Di tengah pusaran itu semua, Al-Qur’an hadir memastikan kita nggak kehilangan arah menjadi manusia yang tetap bijak, adil, dan bertanggung jawab di mana pun kita berada.

Penulis: Muhammaf Faried Asy’ary

Editor: Redaksi

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *