Belajar Al-Qur’an di Era Artificial Intelligence: Apa yang Harus Berubah?
Dahulu, jauh sebelum orang-orang mengenal teknologi mereka terbiasa membuka kitab tafsir atau bertanya langsung kepada guru jika mereka ingin memahami makna dari sebuah ayat Al-Qur’an. Namun saat ini keadaan sudah berubah. Ada aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dapat memberikan penjelasan tentang ayat, terjemahan, dan berbagai tafsir Al-Qur’an dalam hitungan detik setelah kita mengetik satu pertanyaan. Ini adalah bukti bahwa AI telah masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pembelajaran Al-Qur’an. Namun adakalanya kualitas pemahaman seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan kemudahan mendapatkan jawaban. Ini yang menjadi pemicu munculnya masalah baru. Maka,
APA YANG HARUS BERUBAH?
Bukan Al-Qur’an yang perlu berubah, justru sebaliknya, cara kita belajar, mengajar, dan mengembangkan materi pembelajarannya agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi.
(1) Perubahan materi pembelajaran Al-Qur’an. Materi pembelajaran Al-Qur’an saat ini lebih berfokus pada kemampuan membaca, menghafal, dan memahami makna teks ayat. Ketiga aspek tersebut merupakan inti materi yang tidak boleh ditinggalkan, tetapi kini perlu dilengkapi dengan kemampuan baru. Siswa harus dibekali literasi digital agar mampu menggunakan AI dengan benar, memverifikasi informasi yang diperoleh, memahami perbedaan pendapat dalam tafsir, dan memahami bahwa jawaban dari AI bukanlah kebenaran yang mutlak, serta menjadikan materi pelajaran tidak lagi hanya mengajarkan “apa isi ayat” namun juga mengajarkan “bagaimana memahami ayat secara bertanggung jawab di era digital”. Pergeseran orientasi inilah yang menjadi salah satu tantangan utama dalam studi Al-Qur’an saat ini (Mauluddin, 2024).
(2) Perubahan metode pembelajaran. Munculnya AI tidak seharusnya membuat proses belajar menjadi semakin pasif karena siswa hanya menunggu dan bergantung jawaban dari mesin. Sebaliknya, AI harusnya menjadi pemantik bagi siswa dalam berbicara dan belajar berpikir kritis. Misalnya, Ketika siswa diminta untuk mencari penjelasan ayat menggunakan AI kemudian membandingkannya dengan buku tafsir yang mereka gunakan di kelas. Dalam proses ini mereka belajar tentang persamaan dan perbedaan, konteks penafsiran, dan alasan pendapat tertentu lebih kuat daripada yang lainnya. Metode ini membuat AI menjadi lebih dari sekadar mesin pencari jawaban tapi menjadi media yang dapat membantu siswa dalam menganalisis dan merenungkan Al-Qur’an (Herman dkk., 2025).
(3) Perubahan peran guru. Guru tidak lagi hanya menjadi penyampai informasi di dunia yang kini penuh dengan informasi digital, tetapi mereka sekarang harus berperan sebagai mentor yang dapat membantu siswa dalam menggunakan teknologi dengan bijak. Ketika menemukan informasi yang meragukan, guru harus mengajarkan siswa bagaimana cara membuat pertanyaan yang tepat kepada AI, bagaimana memeriksa keakuratan jawaban, dan bagaimana merujuk kembali kepada Al-Qur’an, hadis, dan kitab tafsir yang otoritatif. Oleh karena itu, AI tidak berfungsi sebagai pengganti guru, tetapi membantu memperluas ruang belajar akademik yang tetap diawasi oleh guru. Kualitas manusia yang berhasil menggunakan pemanfaatan AI dalam pendidikan Islam lebih penting daripada kecanggihan teknologinya. (Marwantika, 2023).
(4) Perubahan yang menyentuh cara siswa belajar. Saat ini, kemampuan yang diperlukan bagi seorang siswa lebih dari sekadar menemukan jawaban, melainkan mereka harus menilai kredibilitas jawaban tersebut. Siswa perlu dibiasakan untuk tidak menerima setiap informasi yang dihasilkan oleh AI secara langsung, tetapi sebaliknya memeriksanya melalui referensi yang dapat diandalkan dan berdiskusi dengan guru mereka. Sikap kritis ini penting karena AI bekerja berdasarkan data yang diberikan dan masih berpotensi menghasilkan informasi yang kurang tepat, tidak lengkap, atau bahkan tidak relevan dengan konteks keilmuan. Memahami informasi dalam Al-Qur’an sama pentingnya dengan kemampuan membaca ayat-ayat itu sendiri, karena pemahaman wahyu tidak hanya didasarkan pada kecepatan mendapatkan informasi tetapi juga pada ketelitian dalam menelaahnya. (Mauluddin, 2024).
Di tengah maraknya perubahan tersebut, AI masih tetap menawarkan peluang yang besar bagi pengembangan pembelajaran Al-Qur’an. Beberapa aplikasi berbasis AI juga dapat membantu latihan tajwid dengan pengenalan suara, penjelasan mufradat (kosakata), dan berbagai referensi tafsir yang beragam, serta memberikan pengalaman belajar yang lebih personal. Munculnya aplikasi seperti ngaji.ai menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu orang-orang yang belajar Al-Qur’an tanpa dibatasi ruang atau waktu. (Salsabila & Atikoh, 2024). Bahkan, AI juga mulai dimanfaatkan untuk mempercepat pencaharian tema-tema Al-Qur’an dan referensi tafsir sehingga dapat mendukung pengembangan metode pembelajaran Al-Qur’an yang lebih inovatif (Herman dkk., 2025). Namun, seluruh kemudahan yang diberikan oleh AI harus dipandang sebagai sarana pendukung saja, bukan sebagai pengganti utama proses pembelajaran yang dibangun melalui interaksi dengan guru dan tradisi keilmuan Islam.
Pada akhirnya, di era teknologi seperti AI, keberhasilan belajar Al-Qur’an tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa cepat peserta didik mendapatkan jawaban tapi sebaliknya, hal itu ditentukan oleh seberapa bijak mereka menggunakan teknologi untuk memahami seluruh firman-firman Allah secara benar. Meskipun AI dapat menyajikan informasi dalam hitungan detik, teknologi tidak dapat menggantikan adab, hikmah, dan kedalaman pemahaman yang dihasilkan dari proses belajar langsung bersama guru. Oleh karena itu, pengembangan materi pembelajaran Al-Qur’an harus bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan fondasi utamanya. Ketika materi, metode, peran guru, dan cara belajar siswa mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut, AI tidak akan menjadi ancaman, namun justru menjadi alat bantu yang mudah dalam proses belajar Al-Qur’an di era berkembangnya Artificial Intelligence (AI).
Penulis : Putri Yasmin
Editor : Redaksi

