Langkah Kecil Menuju Kedamaian Batin dalam Buku Berdamai dengan Diri Sendiri
Judul Buku: Berdamai dengan Diri Sendiri – Seni Menerima Diri Apa Adanya
Penulis: Muthia Sayekti
Penerbit: Psikologi Corner
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 216
Buku Berdamai dengan Diri Sendiri isinya membahas bagaimana pentingnya menerima diri sendiri di tengah maraknya tekanan kehidupan di era modern. Banyak orang hidup dengan tekanan sosial, suka membandingkan dirinya dengan orang lain, dan merasa terbebani dengan standar hidup yang semakiin tiinggi. Lewat buku ini, pembaca diajak untuk lebih memahami diri, menerima keadaan, serta mencintai diri seutuhnya.
Buku ini berisi kumpulan refleksi tentang perjalanan seseorang dalam menghadapi tekanan emosional, rasa tidak percaya diri, dan tekanan dari ekspektasi masyarakat. Buku ini menjelaskan bahwa banyak orang menilai dirinya dengan standar orang lain, sehingga muncul rasa kegelisahan batin. Oleh karena itu, proses ini dipandang sebagai perjalanan yang perlu kesadaran dan kesabaran.
Pendekatan yang dipakai sifatnya emosional dan reflektif. Penulis mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari sehingga pembaca mudah memahami pesan dan menghubungkan dengan realitas hidup mereka. Jika dilihat dengan perspektif psikologi, gagasan dalam buku ini sejalan dengan konsep penerimaan diri secara kepribadian.
Sinopsis
Di dalam buku ini penulis menggambarkan berbagai konflik batin yang sering dialami oleh manusia, seperti rasa tidak percaya diri, luka dari masa lalu, kegagalan, dan juga tekanan dari standar hidup sosial.
Buku ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Mengajarkan bahwa penyembuhan pada diri bukan sesuatu yang instan, namun suatu proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan penerimaan diri.
Ulasan
Menurut saya, buku Berdamai dengan Diri Sendiri mengajak pembacanya untuk pelan-pelan mulai menerima diri apa adanya. Makna di dalamnya mengajarkan kalau rasa lelah sering muncul bukan cuma karena tekanan dari lingkungan, tapi juga karena kita terlalu memaksa atau keras pada diri sendiri, selalu menyalahkan diri, dan sulit memaafkan luka batin di masa lalu.
Selain itu Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami, sehingga lebih terasa dengan realitas kehidupan sehari-hari. Ada juga beberapa bagian yang membuat pembacanya merasakan makna di dalam dirinya bahkan sampai merenung, terutama di bagian bagaimana manusia sering merasa harus selalu kuat dan memenuhi ekspektasi orang lain, padahal setiap orang memiliki batas, trauma, bahkan luka di dalam dirinya.
Buku ini juga mengajak untuk melakukan refleksi diri, hingga ketika dibaca, muncul kesan seakan-akan sedang berbicara dengan diri sendiri. Intinya, buku ini memberi pesan bahwa menerima kekurangan, memaafkan, dan menghargai proses dalam hidup adalah hal yyang sangat penting agar orang-orang dapat melangkah lebih maju tanpa ada beban dari masa lalu. Maka dari itu, buku ini cocok untuk seseorang yang mencari bacaan ringan tapi tetap punya makna yang dalam, dalam buku ini banyak pesan yang bermakna juga bisa jadi teman refleksi bagi pembacanya.
Kelebihan dan Kekurangan
Menurutku keelebihan dari buku ini yaitu gaya bahasanya yang sederhana, hangat, dan mudah dipahami. Pembahasan yang disampaikan oleh penulis rasanya lebih menyentuh dengan pengalaman emosional pembaca, terkhusus kalangan remaja dan mahasiswa yang sedang mencari jati diri. Selain kelebihan pasti ada kekurangan, kekurangan buku ini di dalamnya tidak menjelaskan teori psikologi yang ilmiah dan runtut. Pembaca yang ingin penjelasan akademis mungkin merasa kalua pembahasannya kurang mendalam.
Kesimpulan
Secara menyeluruh, buku ini merupakan buku pengembangan diri yang memberikan renungan tentang bagaimana pentingnya menerima diri. Selain itu juga mengajarkan bahwa ketenangan batin bisa dicapai dengan proses memahami, menerima, dan menghargai diri sendiri, termasuk kekurangan serta pengalaman atau trauma masa lalu. Gaya yang dipakai juga sederhana, penulis mampu memberikan pembahasan yang relevan dengan realitas pembaca, terutama pada mereka yang sedang berada dalam fase mencari jati diri. Walau tidak membahas psikologi secara teori dan mendalam, buku ini memiliki nilai inspiratif dan mampu memberikan motivasi untuk menjalani hidup dengan lebih tenang dan mengajarkan untuk bersyukur pada diri sendiri.
Penulis: Imam Aditiya Nugraha Shankara
Editor: Muhammad Gibran

