Asy-Syahid Muhammad Husain Adz-Dzahabi: Anak Yatim yang Mengubah Cara Kita Membaca Sejarah Tafsir

OPINI

Sebagai mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, saya terbiasa berjumpa dengan nama-nama besar dalam sejarah tafsir. Kami mempelajari siapa mufassir pertama yang menyusun tafsir lengkap, bagaimana perkembangan tafsir dari masa sahabat hingga era modern, serta apa perbedaan metode, corak, dan pendekatan yang digunakan para mufassir. Namun, di balik kemudahan memahami peta besar perkembangan tafsir tersebut, ada satu nama yang sering kali luput mendapat perhatian yang memadai, yaitu Asy-Syahid Muhammad Husain AdzDzahabi.

Bagi banyak mahasiswa, nama Adz-Dzahabi identik dengan kitab At-Tafsir wa al-Mufassirun, sebuah karya yang hampir selalu menjadi rujukan utama dalam studi sejarah dan metodologi tafsir. Melalui karya itulah generasi Muslim modern dapat melihat perjalanan panjang tafsir Al-Qur’an secara sistematis, mulai dari masa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, sahabat, tabi’in, hingga periode kontemporer. Ia tidak hanya memperkenalkan para mufassir dan karya-karyanya, tetapi juga menunjukkan hubungan antara metode, corak, kecenderungan pemikiran, serta dinamika intelektual yang membentuk tradisi tafsir Islam.

Karena itu, Muhammad Husain Adz-Dzahabi tidak dapat dipandang sekadar sebagai seorang mufassir atau akademisi Al-Azhar. Ia adalah sosok yang berhasil mengubah cara umat Islam membaca sejarah tafsir. Lebih menarik lagi, perjalanan intelektual tersebut lahir dari seorang anak yatim yang tumbuh di desa kecil di Mesir, sebelum akhirnya menjelma menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam studi tafsir modern. Perjalanan itulah yang menjadikan kisah hidupnya layak untuk terus dikenang dan dipelajari.

Dari Anak Yatim Desa Mathubas Menjadi Intelektual Al-Azhar

Muhammad Husain Adz-Dzahabi lahir pada 19 Oktober 1915 di Mathubas, sebuah desa sederhana di wilayah Delta Nil, Mesir. Ia berasal dari keluarga petani dan pedagang yang hidup jauh dari pusat-pusat intelektual dunia Islam. Sejak usia dini, ia telah merasakan ujian hidup yang berat karena kehilangan ayahnya. Kondisi tersebut membuatnya tumbuh sebagai anak yatim yang diasuh oleh kakaknya, Husain, yang kemudian menjadi penopang utama pendidikan dan kehidupannya.

Dalam tradisi Islam, status yatim bukanlah penghalang untuk mencapai kemuliaan. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sendiri tumbuh tanpa kehadiran ayah sejak lahir. Allah bahkan mengingatkan pengalaman itu dalam firman-Nya: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. Ad-Dhuha [93]: 6). Karena itu, para ulama sering memandang bahwa berbagai ujian yang datang sejak kecil dapat menjadi sarana pembentukan karakter, keteguhan, dan kedewasaan seseorang. Dalam konteks inilah perjalanan Adz-Dzahabi menjadi menarik untuk dicermati.

Sejak kecil ia belajar di kuttab desanya, menghafal Al-Qur’an dan mempelajari dasar-dasar ilmu agama. Kecerdasannya kemudian membawanya melanjutkan pendidikan di Ma’had AlAzhar Dusuq, lalu Ma’had Al-Azhar Iskandariyah, hingga akhirnya diterima di Universitas AlAzhar, Kairo. Di kampus inilah bakat intelektualnya semakin terlihat. Ia lulus dari Fakultas Syariah dengan prestasi gemilang dan meraih peringkat pertama di antara lebih dari seratus mahasiswa seangkatannya. Prestasi tersebut menjadi titik awal perjalanan panjang yang kelak mengantarkannya menjadi profesor, dekan, Menteri Wakaf Mesir, sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh dalam studi tafsir modern.

Mengubah Cara Umat Membaca Sejarah Tafsir

Puncak kontribusi Muhammad Husain Adz-Dzahabi lahir melalui disertasi doktoralnya yang kemudian diterbitkan dengan judul At-Tafsir wa al-Mufassirun. Bagi sebagian orang, kitab ini mungkin hanya tampak sebagai buku sejarah tafsir. Namun, bagi dunia akademik Islam, karya tersebut merupakan sebuah terobosan besar yang mengubah cara generasi setelahnya memahami perkembangan tafsir Al-Qur’an.

Sebelum kemunculan kitab ini, informasi tentang para mufassir dan karya-karya tafsir memang telah tersebar dalam berbagai kitab. Akan tetapi, pembahasannya masih bersifat parsial dan belum tersusun dalam sebuah peta intelektual yang utuh. Adz-Dzahabi hadir dengan pendekatan yang berbeda. Ia tidak hanya mencatat nama mufassir dan kitab tafsir, tetapi juga mengelompokkan, mengklasifikasikan, dan menganalisis kecenderungan metodologis yang melatarbelakanginya. Melalui karyanya, sejarah tafsir tidak lagi dipahami sebagai daftar tokoh dan kitab, melainkan sebagai sebuah tradisi keilmuan yang terus berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Lebih jauh, Adz-Dzahabi menunjukkan bagaimana faktor teologi, fikih, tasawuf, filsafat, hingga kondisi sosial-politik dapat memengaruhi penafsiran Al-Qur’an. Karena itu, ia tidak segan memberikan kritik terhadap tafsir yang menurutnya terlalu dipengaruhi oleh kepentingan mazhab, ideologi, atau spekulasi yang menjauh dari spirit Al-Qur’an. Sikap kritis inilah yang membuat At-Tafsir wa al-Mufassirun bukan sekadar karya deskriptif, tetapi juga karya evaluatif.

Hingga hari ini, mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di berbagai perguruan tinggi masih menggunakan kerangka yang dibangun Adz-Dzahabi ketika mempelajari sejarah dan metodologi tafsir. Dalam arti tertentu, cara kita memahami perkembangan tafsir saat ini merupakan kelanjutan dari proyek intelektual yang ia bangun puluhan tahun lalu. Karena itu, tidak berlebihan jika Muhammad Husain Adz-Dzahabi disebut sebagai salah satu arsitek utama studi tafsir modern di dunia Islam.

Syahidnya Seorang Penjaga Tradisi Tafsir

Keilmuan Muhammad Husain Adz-Dzahabi tidak berhenti di ruang kuliah, perpustakaan, atau lembaran buku. Ia juga hadir sebagai seorang dai dan pemimpin yang aktif menyuarakan Islam yang moderat, ilmiah, dan jauh dari sikap ekstrem. Pada dekade 1970-an, ketika Mesir menghadapi munculnya berbagai gerakan radikal yang gemar mengkafirkan sesama Muslim, Adz-Dzahabi tampil sebagai salah satu ulama yang paling lantang mengkritik penyimpangan tersebut. Baginya, dakwah harus dibangun di atas ilmu, hikmah, dan argumentasi, bukan kekerasan dan teror.

Sikap itu harus dibayar mahal. Pada tahun 1977, ia diculik dan dibunuh oleh kelompok Takfir wal Hijrah karena kritik-kritiknya terhadap pemahaman keagamaan mereka. Peristiwa tragis tersebut menjadikannya dikenang sebagai asy-syahid, seorang ulama yang gugur dalam mempertahankan ilmu dan kebenaran.

Meski jasadnya telah tiada, warisan intelektualnya tetap hidup. Hingga hari ini, ribuan mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir masih mempelajari sejarah, metodologi, dan peta perkembangan tafsir melalui kerangka yang ia bangun. Karena itu, Muhammad Husain AdzDzahabi bukan hanya seorang ulama Al-Azhar atau penulis kitab monumental At-Tafsir wa alMufassirun. Ia adalah anak yatim dari desa kecil Mathubas yang berhasil mengubah cara umat Islam memahami sejarah tafsir, sekaligus membuktikan bahwa pengaruh sebuah pemikiran dapat melampaui batas ruang, waktu, bahkan usia pemiliknya.

Penulis: Muhammad Fikri Azka

Editor: Muhammad Gibran

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *