Dari P2MW ke Ekspo KMI, Klanceng Edufarm Kembangkan Budidaya Lebah

FAIWARTA

ISLAMIKAONLINE.com, UMS – Klanceng Edufarm, tim mahasiswa yang mengembangkan usaha budidaya lebah klanceng, berhasil lolos ke Ekspo KMI setelah mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Dalam ajang tersebut, tim akan membawa inovasi sistem budidaya lebah klanceng yang dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi pemanenan madu tanpa merusak koloni.

Ketua tim Klanceng Edufarm, Hibatulloh al Mubarok, mengatakan ide usaha tersebut berawal dari kegelisahannya melihat budidaya lebah klanceng yang masih minim di Indonesia, sementara permintaan pasar dinilai cukup besar. Selain itu, menurutnya, lebah klanceng relatif mudah dibudidayakan karena tidak menyengat dan minim hama.

“Budidaya lebah klanceng ini masih sangat minim di Indonesia, sedangkan permintaan pasar itu sangat besar. Budidayanya pun sangat mudah dan di mana pun bisa dilakukan masyarakat,” ujar Hibatulloh saat di wawancara pada Jum’at (25/09/2026).

Pada awalnya, Hibatulloh menjalankan budidaya tersebut seorang diri. Seiring berjalannya waktu, ia kemudian mengajak sejumlah teman untuk bergabung. Tim tersebut kemudian berkembang menjadi lima orang dan mulai membentuk usaha secara lebih terstruktur setelah mendapat arahan dari dosen pembimbing untuk mengikuti P2MW.

Klanceng Edufarm telah mengikuti P2MW selama dua tahun berturut-turut. Dalam proses pengembangannya, tim memperoleh dukungan pendanaan dari Fakultas Agama Islam maupun universitas. Dukungan tersebut digunakan untuk menunjang pengembangan usaha yang mereka jalankan.

Perjalanan menuju Ekspo KMI menjadi salah satu tahap lanjutan setelah mengikuti P2MW. Hibatulloh menjelaskan, Ekspo KMI menjadi ruang bagi mahasiswa yang telah dinyatakan lolos P2MW untuk memperkenalkan dan mengembangkan usaha mereka.

Dalam ajang tersebut, Klanceng Edufarm akan memperkenalkan sistem Dual Chamber Trigona Hive System (DTCHS) yang telah dikembangkan selama beberapa bulan. Sistem tersebut menggunakan sekat pada tempat budidaya untuk memisahkan koloni lebah dengan ruang produksi madu.

Menurut Hibatulloh, sistem tersebut memungkinkan proses pemanenan madu dilakukan tanpa merusak koloni lebah. Inovasi tersebut juga membuat waktu pemanenan yang sebelumnya dilakukan sekitar dua bulan sekali dapat dipangkas menjadi satu bulan sekali.

“Ini adalah sistem budidaya lebah dengan memberikan sekat pada setup lebah sehingga bisa memisahkan antara koloni lebah dan ruang produksi madu. Untuk pelaksanaan pemanenan madu, kita tidak merusak koloni lebah,” jelasnya.

Selain mengembangkan sistem budidaya, Klanceng Edufarm juga menyiapkan kebun khusus sebagai sumber nektar bagi lebah klanceng. Tim memilih bunga air mata pengantin karena tanaman tersebut dapat berbunga sepanjang musim dan menghasilkan nektar yang relatif banyak serta stabil.

Dalam perjalanannya, tim Klanceng Edufarm menghadapi tantangan karena sebagian besar anggotanya memiliki latar belakang pendidikan dari Fakultas Agama Islam. Kondisi tersebut membuat mereka harus mempelajari dunia kewirausahaan dari awal.

“Kita minim terkait pendidikan wirausaha. Pada awal-awalnya kita kesulitan sekali karena memang kita tidak punya dasar untuk berwirausaha,” ungkap Hibatulloh.

Meski demikian, dukungan dari program studi, fakultas, dan universitas membantu tim dalam mengembangkan kemampuan kewirausahaan. Dukungan tersebut membuat Klanceng Edufarm dapat terus berkembang dan bersaing dengan tim dari fakultas lain.

Dari sisi pemasaran, Klanceng Edufarm kini telah menjangkau pasar di berbagai wilayah Indonesia. Tim juga memiliki delapan reseller yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera. Secara kumulatif, omzet usaha sejak awal berdiri disebut telah mencapai sekitar Rp180 juta.

Menjelang Ekspo KMI, tim tidak hanya mempersiapkan inovasi yang akan ditampilkan, tetapi juga membawa rencana pengembangan usaha untuk jangka panjang. Klanceng Edufarm berencana membangun farm yang tidak hanya digunakan sebagai tempat budidaya, tetapi juga sebagai ruang edukasi bagi masyarakat.

Hibatulloh mengatakan tim berencana membuat taman yang dapat dikunjungi masyarakat. Tempat tersebut nantinya akan digunakan untuk memberikan edukasi mengenai budidaya lebah klanceng.

“Kita akan membuat farm itu supaya bisa membuat edukasi. Nanti kita akan membuat taman-taman supaya itu bisa didatangi pengunjung. Di situ kita akan lakukan edukasi-edukasi terhadap masyarakat,” jelasnya.

Lokasi untuk pengembangan farm tersebut telah disiapkan di wilayah Makam Haji, Dusun 2. Melalui rencana tersebut, Klanceng Edufarm ingin mengembangkan usahanya tidak hanya dari sisi produksi dan pemasaran, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal budidaya lebah klanceng.

Reporter: Zulfa Hasanah & Ikhwan M Situmorang

Editor: Redaksi

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *