Cinta Dewasa : Perjalanan Menuju 3726 MDPL – Nurwina Sari

RESENSI

“Tapi tuhan akan menghapus manusia dengan perasaannya jika orang itu salah”. – Rangga

Sad ending, dua kata yang merepresentasikan akhir perjalanan kisah cinta Rangga dalam novel “3726 MDPL” karya Nurwina sari. Buat kalian yang langsung merasa tidak excited karena sudah tahu akhir dari cerita ini adalah sad ending, maka kalian bukan sasaran dari tulisan ini. Bukan hanya sekedar cerita yang berorientasi dengan apa yang terjadi di ujung kisah, coretan ini bertujuan mengajak kalian untuk menapaki langkah perjalanan kisah Rangga dalam mendewasakan cintanya.

Judul tulisan ini sengaja menggunakan satu kata yang tertuang di awal kalimatnya. Cinta. Satu kata yang sering mendapat konotasi tabu untuk dibahas, apalagi dewasa ini. Seakan-akan, cinta adalah diksi yang bukan lagi pembahasan pada jenjang usia memasuki dewasa, melainkan pembahasan anak remaja yang baru mulai berbunga ketika bertemu dengan lawan jenisnya. Terdengar alay!

Padahal, memasuki usia kepala dua, bahkan kepala tiga, dunia perkuliahan, ataupun setelahnya, seharusnya kita lebih memahami tentang cinta, makna dibaliknya, dan cara menyikapinya dengan dewasa. Maka, tulisan ini akan mengajak kalian untuk mengenal dan memaknai “cinta dewasa” versi Rangga dalam novel 3726 MDPL karya Nurwina Sari. Tentunya, ini hanya sedikit yang saya tangkap, selebihnya silahkan kalian selami tiap lembar bukunya.

Novel 3726 MDPL lagi booming atau viral saat ini, dan bahkan sedang dalam proses syuting untuk kemudian difilmkan. Novel romansa yang memadukan kisah percintaan, dinamika kehidupan mahasiswa, dan tentang pendakian gunung. Bagi kalian yang belum membaca, anggap saja ini pengantar sebelum kalian membaca secara langsung novelnya, atau juga bagi kalian barisan nunggu filmnya tayang. Kita akan menyusuri jejak langkah Rangga dalam memaknai “cintanya” dan hikmah lain yang dapat kita petik kemudian. Kita mulai!

Cinta Dewasa Tidak Selalu Bermula dari Kepastian

Fase remaja, cinta seringkali dipahami secara gamplang: menyukai, menyatakan, lalu harapan untuk memiliki.

Dewasa ini, seseorang akan memahami bahwa cinta tidak sesederhana dan segamplang itu. Cinta tidak selalu hadir dengan membawa kepastian. Mencintai bisa tanpa dicintai. Memperjuangkan tanpa pernah tahu, diakhir nanti, akankah datang kebersamaan.

Pada bagian ini kalian boleh tidak sepakat. Tapi kadang demikianlah cinta itu berjalan.

Cinta Tak Harus Memiliki

Kayak judul lagu!

Tapi ini adalah salah satu fase perjalanan paling berat yang digambarkan dalam novel ini. Kita sering menganggap bahwa keberhasilan cinta adalah ketika bersama. Jika akhirnya bersama, maka dianggap berhasil. Jika akhir kisah harus berpisah, maka dianggap gagal dan sia-sia.

Namun, apakah memang sebenarnya demikian?

Rangga mengajarkan bahwa perasaan tidak dapat diukur hanya dengan melihat akhir sebuah hubungan. Ada cinta yang hadir dengan ketulusan, tapi tidak membawa pada kebersamaan. Ada perjuangan yang begitu panjang, tetapi tidak untuk dimenangkan.

Namun, ini namun yang kedua!

Namun, apakah perjuangan yang telah dilakukan sia-sia?

Belum tentu. Sebab, cinta tidak hanya membawa kita pada seseorang untuk dimiliki. Cinta juga memberikan kita pengalaman dan kesempatan belajar memperbaiki diri. Belajar bersabar! Belajar memahami! Belajar menerima!

Apakah kalian suka mata pelajaran ini?

Kadang, justru karena kesungguhan cinta, kita berhenti. Berhenti memaksakan sesuatu yang memang tidak bisa kita genggam.

Cinta Tidak Memaksa

Kesetiaan dan keteguhan seorang Rangga pada perasaannya menjadi satu hal yang menarik untuk direnungkan. Tapi, dibalik itu, novel ini membawa kita pada lanskap dan pertanyaan yang lebih dalam. Sampai kapan seseorang harus memperjuangkan cinta dan perasaannya?

Bertahan dan memaksakan dua hal yang berbeda. Tidak semua hal harus dilakukan selamanya. Ada saat untuk bertahan dan memperjuangkan, tapi ada saat untuk berhenti dan melepaskan. Di sinilah kedewasaan diperlukan.

Cinta dewasa membutuhkan keberanian untuk memperjuangkan. Tapi, cinta dewasa juga membutuhkan kebijaksanaan untuk menarik nafas perlahan dan melepaskan. Tidak semua perjuangan harus dimenangkan dengan mendapatkan yang kita inginkan, tetapi mengalah dan memberikan ruang untuk keputusan Tuhan adalah cara yang tepat untuk memeluk versi lain dari kemenangan.

Melihat fenomena sekarang, berapa banyak orang yang memaksa atas nama cinta? Dalam peribahasa dulu, cinta ditolak, dukun bertindak. Dewasa ini, cinta ditolak, kapak bertindak. Jokes!

Perasaan Tidak Selalu Benar

Tapi Tuhan akan menghapus manusia dengan perasaannya jika orang itu salah”. – Rangga

Membenarkan sesuatu hanya hanya karena mengikuti perasaan.Padahal perasaan tidak selalu tidak mesti selalu menjadi ukuran kebenaran. Kita dapat mencintai orang yang salah. Kita dapat mempertahankan hubungan yang tidak sehat. Kita dapat merasa sangat kehilangan sesuatu yang seharusnya memang kita lepaskan.

Kedewasaan dalam cinta, bukan hanya soal mengikuti perasaan. Lebih dalam dari itu, harus mempertimbangkan akal, nilai, dan realita kenyataan.

Cinta Membuat Seseorang Bertumbuh

Apakah ketika mencintai seseorang, aku menjadi pribadi yanglebih baik? Lebih dewasa? Bertumbuh? Berkembang? Apakah aku bisa mengendalikan cinta? Atau justru aku yang dikendalikan oleh perasaan yang kusebut cinta?

Jika sesuatu yang kita sebut cinta itu justru membuat kita kehilangan diri sendiri, lupa akan tujuan hidup, melalaikan dari masa depan, dan membuat kita bergantung sepenuhnya pada seseorang, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi tentang pemaknaan perasaan yang selama ini kita sebut cinta.

Cinta dewasa seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh, mengubah diri menjadi yang lebih baik. Jangan jadikan seseorang sebagai seluruh dunia kita. Karena ketika seseorang itu pergi, seluruh dunia kita ikut runtuh.

Rangga menempatkan Andini, sang pujaan hati, pada tempat yang sangat istimewa, bahkan lebih daripada itu. Namun ia mengajarkan kita, ketika seseorang itu pergi, bukan berarti hidup kita juga ikut pergi. Hidup masih harus terus berjalan. Pendidikan yang harus diselesaikan. Keluarga yang harus diperjuangkan. Ribuan mimpi yang harus diwujudkan.

Cinta adalah bagian dari kehidupan, tapi bukan satu-satunya dalam kehidupan.

Cinta Seperti Sebuah Pendakian

Dalam sebuah pendakian, seseorang tidak langsung berada di puncak. Tentang jalan perjuangan, tanjakan, rintangan, rasa lelah, dan kebersamaan. Maka, demikian juga dengan hidup dan cinta. Kita sering terlalu fokus pada puncak, pada ujungnya. Kita ingin hubungan yang berhasil, tapi lupa akan makna jejak tiap langkahnya.

Kadang, yang paling berharga bukanlah puncaknya, melainkan perjalanan menuju puncaknya; belajar tentang diri sendiri, memahami apa yang kita butuhkan. Seperti pendakian, tidak semua orang yang memulai pendakian bersama akan sampai di puncak bersama. Ada yang berhenti di tengah jalan, memilih jalur lain, dan ada yang harus kembali. Tetapi perjalanan tetap memberikan pengajaran, meski di ujung tidak kita jumpai kebersamaan.

3726 MDPL, gunung rinjani, menjadi saksi kisah Rangga yang gagal menjadikan puncak sebagai momen kebersamaan, bahkan gagal sebelum memulai pendakian. Tapi itu kisah Rangga, cerita kalian nggak harus sama!

Tidak Semua Sad Ending Adalah Akhir Yang Buruk

Kita sering menganggap happy ending adalah akhir yang terbaik. Ketika tokoh utama bersama. Konflik pun selesai. Mereka hidup bahagia. TAMAT.

Namun, kehidupan tidak selalu memberikan akhir seperti sebuah film. Ada pertemuan yang hanya untuk singgah, bukan untuk sungguh. Ada yang tinggal tapi bukan untuk menetap. Dan ada yang hadir bukan untuk dimiliki, tapi untuk direnungi dan menyisakan pelajaran.

Rangga mungkin tidak mendapatkan akhir yang diinginkan. Namun, perjalanan mengajarkan ia banyak hal. Cinta yang pernah membuatnya lebih hidup. Dan dengan cinta yang sama, ia harus tetap hidup kemudian.

Tentang luka yang pernah dirasakan. Akan kehilangan yang menjadi bagian pendewasaan.

Cinta Untuk Saling Mendoakan

“Jika aku bukan tempat bahagiamu, semoga kamu menemukan kebahagiaan di tempat yang telah Tuhan pilihkan”

Bagian yang menarik dari kisah “cinta dewasa” seorang Rangga adalah ketulusan untuk mendoakan kebaikan untuk orang yang kita sayang, terlepas ujungnya kebersamaan ataupun perpisahan.

Teringat kata Raim, “puncak tertinggi dari mencintai adalah mendoakan”.

Terakhir!

Perjalanan Rangga menuju 3726 MDPL tidak hanya tentang mencapai sebuah puncak. Tapi, lebih jauh dari itu, melibatkan pemahaman akan cinta dan hidup bahwa tidak semua perjalanan berakhir seperti yang kita inginkan.

Terkadang, hal terpenting dari sebuah perjuangan bukanlah mendapatkan, tetapi lebih dari itu. Kita memperoleh kedewasaan, menuju “cinta dewasa” versi kita masing-masing.

Selamat membaca!

Tentang buku:

Judul Buku: 3726 MDPL

Penulis: Nurwina Sari

Penerbit: Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: 2024

Jumlah Halaman: 280 halaman

ISBN: 978-623-31-0259-9

Penulis: Gandi Teguh Ardiansyah

Editor: Ikhwan M Situmorang

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *