Broken Strings: Antara Luka, Trauma, dan Harapan
Judul Buku: Broken Strings – Kepingan Masa Muda yang Patah
Penulis: Aurelie Moeremans
Penerbit: Ohara Books
Tahun Terbit: 2026
Jumlah Halaman: 220
Buku Broken Strings berisi tentang kisah seseorang tentang pengalaman traumanya menjadi korban child grooming saat dia masih remaja, buku ini berisi kisah nyata seorang perempuan yang berjuang melepaskan diri dari hubungan yang toxic, rekayasa, kekerasan, bahkan diajak menikah dengan paksa yang ternyata tidak sah. Pengalaman ini dialaminya saat masih usia 15 tahun, orang tua dari perempuan juga tidak merestui karena perbedaan usia yang bisa dibilang cukup jauh, selain itu sikap dari pria tersebut juga dianggap memberikan pengaruh yang buruk. Saat menjalin hubungan tersebut, dia mengaku sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga, seperti dijambak bahkan sampai diludahi.
Buku ini diterbitkan dengan kenyatan bahwa ini adalah kisah yang terjadi tanpa diketahui orang lain, dimana seorang remaja terlalu muda untuk paham dan takut untuk bicara. Ia menegaskan bahwa ini adalah pure kisah nyata, dimana kebenaran yang mentah tentang manipulasi. Latar belakang keluarganya yang dulu tinggal di Belgia, dimana ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Dulu ia iseng mengikuti lomba model dan menang saat sedang liburan di Bandung, kemenangan itu membawanya ke Jakarta untuk bermain sinetron. Sejak saat itu keluarganya pindah ke Indonesia demi melanjutkan kariernya.
Poin penting dari isi buku:
Pelecehan dan hubungan rekayasa
Dalam kisahnya, pelecehan berawal dari perhatian dan pujian berlebih yang membuat korban merasa istimewa, laluu pelaku pelan-pelan membangun emosional dan mengasingkannya dari orang lain. Hubungan itu berubah menjadi rekayasa melalui manipulasi, posesif, serta perkataan manis berujung menyakitkan yang membuat korban susah lepas. Sehingga korban kehilangan rasa percaya diri, bingung membedakan cinta dengan control, dan trauma emosional.
Dampak psikologis pada korban
Dampak psikologis yang dialami korban salah satunya kehilangan harga diri, bingung membedakan cinta dan kontrol, trauma emosional jangka panjang seperti rasa takut, cemas, perasaan terisolasi karena diasingkan dari teman dan keluarga, serta kesulitan membangun hubungan baru akibat pengalaman manipulatif di masalalu.
Proses kesadaran dan penyembuhan
Proses kesadaran dan penyembuhan dalam kisah ini diawali ketika korban menyadari hubungannya sudah tidak sehat dan mulai mengenali manipulasi yang dialaminya, ia berusaha melepaskan diri, membangun kembali rasa percaya diri, memulihkan jati diri, dan belajar menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan.
Hikmah yang dapat diambil
Dari kisah tersebut kitab bisa belajar bahwa diam tak selalu mebuat kita aman, terkadang keberanian sejati adalah jujur tentang apa yang pernah membuat kita tersakiti. Keluar dari hubungan yang toxic memang tidak mudah, meskipun bisa pasti kenangan buruk selalu membayangi kita, jadi jangan sampai karena kamu terlalu takut di tinggal seseorang, sehingga kamu lupa siapa dirimu sebenarnya dan kehilangan harga diri. Kita berharga, kita layak dipilih, kita pantas untuk dicintai, layak mendapat perhatian yang baik, layak dipeluk saat terluka, layak diperjuangkan, dan paling penting layak mendapat kebahagiaan.
Kesimpulan
Buku ini membuka pandangan bagi kita kalau rekayasa atau manipulasi tidak selalu jelas dari awal, kadang semuanya terlihat biasa saja, perhatian, peduli, juga kata-kata manis yang membuat korban merasa diistimewakan. Namun, tanpa disadari korban tersebut sudah jauh masuk kedalam hingga akhirnya sulit untuk lepas. Dalam kondisi seperti ini korban sering dibuat seakan-akan menyalahkan diri sendiri, padahal dia adalah korban dari hubungan tersebut. Rasa bersalah, takut, bingung, bahkan tidak tahu harus berbuat apa dan menjadi beban emosional yang ia tanggung sendiri.
Selain itu, buku ini juga menunjukkan kalau trauma tidak bisa hilang secepat itu, tapi butuh proses dan waktu yang lama. Ia harus belajar menerima traumanya, meski sakit kalau diingat-ingat, ia juga harus belajar memaafkan diri atau melawan pada saat itu. Tentu prosesnya tidak mudah, karna lukanya yang membekas. Tapi dari proses itu korban perlahan mulai berubah menjadi pribadi yang kuat dan mulai mengenal dirinya secara lebih baik.
Selain bercerita tentang trauma masa lalu, buku ini juga memberi harapan kalau seseorang bisa bangkit dan berubah dari trauma masa lalu. Memang tidak mudah, tapi masa depan masih bisa diperbaiki. Lukanya memang tidak benar-benar hilang, tapi tidak selamanya akan menghancurkan hidup. Justru dari pengalaman itu, seseorang bisa belajar jadi lebih kuat, hati-hati, juga lebih menghargai dirinya.
Buku ini sangat menyentuh karna ditulis tanpa polesan dan apa adanya dari sang penulis, sehingga siapa yang membaca bisa ikut merasakan apa yang dialami korban. Kita juga bisa belajar tentang pentingnya menjaga diri, berani menolak, dan tidak mudah percaya pada kata-kata manis yang berlebihan. Selain itu, dalam buku ini mengajarkan kalau dukungan dari orang terdekat dan sekitar kita itu sangatlah penting supaya korban bisa pulih dan kembali menjalani hidupnya jadi lebih baik dan seutuhnya.
Penulis: Desinta Ferawati
Editor: Muhammad Gibran

