Ngaji Lewat YouTube: Praktis, tapi Sejauh Mana Bermakna?

Posted by

Di era digital ini, YouTube sudah menjadi Majlis ta’lim baru bagi banyak orang. Banyak muslim yang mengaji dengan cara lewat media online, begitu juga beberapa ustaz dan ulama yang menyiarkan dakwahnya melalui siaran langsung yang dapat diputar di mana pun dan kapan pun (Nasir and Nurrohim 2025, 872). Namun, dibalik kemudahan itu ada pertanyaan penting: Sejauh mana ngaji lewat YouTube benar-benar bermakna bagi kehidupan kita?

Dari Q.S al-Muzammil ayat 4, al-Quran sendiri menegaskan “warattilil qur’aana tartiila” (bacalah al-Qur’an dengan tartil). Al-Qurthubi menjelaskan bahwa tartil bukan sekedar pelafalan indah, melainkan membaca dengan benar, perlahan dan penuh penghayatan, maksudnya, belajar al-Quran itu butuh proses mendalam, bukan sekedar menonton potongan video di layar (Salsabilla and Nurrohim 2024, 2511). YouTube memang bisa membantu kita memperluas akses (Rahman et al. 2024, 2049), tetapi untuk menghayati bacaan atau pun makna tartil tetap membutuhkan guru yang mengarahkan pemahaman (Nurrohim 2019, 97).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari-Muslim). Hadist ini menekankan bahwa belajar Al-Qur’an adalah ibadah yang mulia, dan mengajarkannya adalah amal yang menghidupkan ilmu. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa keduanya merupakan amal utama karena menjaga kelestarian wahyu Allah. Di sinilah letak pentingnya interaksi, belajar al-Qur’an idealnya melibatkan proses timbal balik antara murid dan guru, bukan sekadar konsumsi pasif lewat layar.

YouTube memang bisa memudahkan. Menjangkau generasi muda yang mereka merasa canggung datang ke majlis ta’lim atau bagi orang sibuk yang waktunya terbatas. Namun di sisi lain, ada kekosongan yang tidak bisa terisi oleh layar. Belajar al-Quran tidak hanya cukup dengan menonton. Kita butuh seorang guru untuk membimbing, mendengarkan bacaan kita lalu memperbaiki kesalahan. Maka disinilah titik kelemahan YouTube, padahal tradisi belajar al-Quran itu menekankan pada interaksi langsung atau tatap muka (Ramadlani et al. 2024, 2772).

Selain itu, mengaji lewat YouTube berpotensi menjadi aktivitas yang pasif. Kita menonton, mengangguk-ngangguk, lalu menutup aplikasi tanpa adanya tindak lanjut. Sangat berbeda dengan mengaji tatap muka, di mana kehadiran guru dan pengalaman sesama teman membentuk pengalaman yang lebih hidup (Muhammad Hasbi Nurchoironi and Ahmad Nurrohim 2025, 429). YouTube memang bisa memberi pengetahuan tetapi belum tentu bisa menumbuhkan kedekatan hati dengan al-Quran.

Jadi, apakah mengaji lewat YouTube itu sia-sia? Enggak juga, justru di era serba cepat ini, YouTube bisa menjadi gerbang awal untuk mendekatkan seorang muslim dengan al-Quran. Konten dakwah yang menarik juga bisa memberi inspirasi, motivasi, bahkan memicu keinginan untuk belajar al-Quran lebih serius (Puryanti 2024). Namun, kita juga perlu melangkah lebih jauh, mencari guru dan mengikuti majelis-majelis.

Maka, jalan terbaik bukanlah menolak YouTube, tetapi menggunakannya dengan cerdas. Biarkan YouTube sebagai pelengkap, bukan peran pengganti guru (Fahrunnisa 2023, 7). Teknologi memang bisa memudahkan akses, tetapi belajar al-Qur’an bukan hanya sekadar mendengarkan lantunan ayat, melainkan juga memahami makna (Shahbal and Nurrohim 2024, 685), meresapi hikmah dan meneladani ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain YouTube, kini tersedia banyak aplikasi al-Qur’an digital yang bisa membantu proses belajar. Ada fitur tajwid interaktif, tafsir ringkas, hingga audio murattal yang bisa dijadikan sarana latihan. Aplikasi-aplikasi ini dapat menjadi bekal awal untuk memperbaiki bacaan sebelum disetorkan kepada guru. Dengan begitu, teknologi tidak hanya menjadi tontonan pasif, tetapi benar-benar alat bantu yang mendorong keterampilan praktis dalam membaca Al-Qur’an (Shofiyati et al. 2025, 772).

Selain itu, membentuk kelompok belajar kecil bersama teman sebaya juga bisa menjadi solusi. Saling menyimak bacaan, berbagi catatan, dan mengingatkan satu sama lain akan menjaga semangat belajar. Meski sederhana, cara ini menghadirkan suasana kebersamaan yang sering hilang ketika belajar sendirian melalui layar. Dengan adanya kelompok, nilai sosial dan semangat berjamaah tetap hidup, meskipun interaksi dengan guru tidak selalu intens.

Belajar al-Qur’an adalah perjalanan yang membutuhkan kesungguhan hati. Teknologi boleh memudahkan, tetapi semangatlah yang akan membuat kita bertahan. Tanpa kita memiliki tekad yang kuat, aplikasi secanggih apa pun hanya akan menjadi hiasan di ponsel. Karena itu, pentingnya menumbuhkan motivasi pada diri kita masing-masing, menjadikan al-Qur’an sebagai teman harian. Dengan semangat yang terjaga, setiap media maupun majelis ilmu akan berubah menjadi jalan menuju kedekatan dengan kalam Allah (Fitria et al. 2024, 1191)

Akhirnya, ada pertanyaan yang patut kita renungkan: Apakah kita cukup puas sekedar menyaksikan al-Quran di layar atau benar-benar berusaha ingin menghidupkan al-Quran dalam kehidupan?

Penulis: Aisyah

Editor: Rauuf Bukhari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *