Hal Ihwal Mahasiswa Semester Satu di BEM FAI
ISLAMIKAONLINE.com, UMS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAI UMS memberikan klarifikasi tentang polemik status Mahasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang belakangan sempat menjadi perbincangan. Klarifikasi ini kemudian muncul setelah adanya pernyataan terkait posisi angkatan, pengakuan SKS, dan keterlibatan langsung mahasiswa RPL didalam organisasi kemahasiswaan.
Reporter Islamika telah mewawancarai Muhammad Arya kautsar, Ketua BEM FAI UMS Periode 2026, terkait mahasiswa RPL tersebut. Arya juga menjelaskan bahwa secara administratif mahasiswa RPL tercatat sebagai angkatan 25, namun dari segi jumlah SKS dan pengalaman akademik mereka telah melampaui mahasiswa semester awal karena sebelumnya telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi lain. “jadi kita semuanya kenapa kita mengambil RPL, karena pasti ada alasannya toh, nah alasan pertama mereka emang secara NIM itu emang NIM 25 karena mereka masuk di UMS itu emang tahun 2025. Nah, kemudian secara SKS mereka itu udah melebihi SKS mungkin semester tiga atau bahkan satu atau dua,” ucapnya. (26/02)
Dari sisi BEM sendiri, keputusan membuka ruang bagi mahasiswa RPL untuk dapat terlibat secara aktif di BEM didasari dengan banyaknya pertimbangan, salah satunya yaitu kurangnya SDM. “Pertama kita memang kekurangan SDM di BEM. Kedua memang mereka sudah mumpuni, kenapa mumpuni? karena yang pertama mereka ya itu saya bilang udah pernah kuliah sebelum ke ums,” lanjutnya.
Arya juga menegaskan bahwa kebijakan ini bukan untuk mengistimewakan mahasiswa RPL itu sendiri, melainkan untuk memberikan kesempatan yang adil bagi mahasiswa RPL untuk berproses dan berorganisasi. “Nah, kita disini bukan memberikan ruang istimewa ke mereka, tapi kita juga memberi ruang ke RPL sehingga mereka bisa berdiaspora atau berorganisasi di kampus. Kalau kita mematokkan mereka, misalnya mereka harus NIM 24 seandainya mereka hanya tiga semester disini, semester depan mereka udah lulus hanya satu semester kan, ya bagaimana nanti kan,” ungkapnya.
Dalam rencana selanjutnya, akan ada wacana tentang penambahan aturan baru bagi mahasiswa RPL yang ikut serta masuk kedalam struktur organisasi seperti BEM. “Kita nanti insya allah, itu sebenarnya jadi pembelajaran juga buat Konferma kemarin. Karena kita tidak mendetailkan itu, itu bakalan kita ajukan nanti mungkin di sidang Tanfidz atau di sidang Konferma besok, agar anak RPL itu tertulis. Jadi tidak hanya semester tiga, tapi semester tiga, lima dan RPL. Mungkin seperti itu,” ujar Arya.
Reporter Islamika juga mewawancarai salah satu anggota Ormawa (organisasi mahasiswa -red) FAI yang tidak ingin disebutkan namanya, tentang para mahasiswa RPL tersebut. “Awalnya aku kecewa, karena aku sebagai anak organisasi yang memang memulai dari awal, eh tiba tiba dipimpin oleh orang orang yang mungkin belum punya pengalaman didalam organisasi. Cuma, aku juga harus memaklumi di satu sisi. Karena aku melihat pergerakan BEM kemarin itu udah mencoba untuk mencari anak-anak eks HMP,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi mahasiswa yang masih ingin berdiaspora di kampus dengan mendaftarkan dirinya ke Ormawa FAI, sekalipun beberapa diantara mereka ada yang menolak karena alasan yang bersifat privasi. “Sebetulnya aku mau mengapresiasi orang orang yang mau memang betul lanjut juga gitu, dari anak anak pengurus organisasi sebelumnya kayak HMP dan sebagainya, itu aku mengapresiasi karena tidak semua orang punya prinsip ya gitu, punya naluri untuk melanjutkan kepengurusan. Karena kebanyakan orang juga, oh aku pengen nya gini, aku pengennya pribadi aku kedepannya punya penghasilan dan sebagainya, itu kan alasan yang ranahnya ke personal banget gitu,” ujarnya.
Namun, ia juga mengapresiasi mahasiswa RPL yang ikut tergabung dalam kepengurusan BEM. “Dan anak anak baru juga sebetulnya mereka gak yang mungkin kurang pengalaman dan sebagainya tiba tiba diajak. Aku juga kayak, oh bagus mereka mau gitu ada semangat lah dari mereka itu. Kan kita menilai sesuatu itu harus ada objektif gitu kan, gak harus subjektif, oh ini kurang ini kurang, nggak tapi bisa terjadi sampai sekarang alhamdulillah,” ucapnya.
Reporter : Imam Wicaksana, Muhammad Jundullah, Alfarabi
Editor : Ikhwan M Situmorang

