Menakar Wordwall sebagai Bahan dan Media Pembelajaran Tajwid: Antara Kemasan Materi dan Saluran Pesan
Belajar tajwid sering terasa berat bagi anak-anak. Aturannya banyak, istilahnya berbahasa Arab, dan kemampuannya baru terbentuk setelah latihan berulang, bukan setelah menghafal teori. Di banyak TPQ dan rumah Qur’an, guru masih mengandalkan penjelasan lisan dan papan tulis, sementara santri datang dengan kebiasaan yang sudah akrab dengan gawai. Dari celah inilah Wordwall mulai dilirik. Platform daring ini memungkinkan guru membuat kuis, permainan pencocokan, dan teka-teki dari materi yang ia susun sendiri. Tulisan ini mencoba menakar posisinya: apakah Wordwall lebih tepat disebut bahan ajar atau media pembelajaran, dan apa akibatnya bagi cara guru merancang kelas tajwid. Pertanyaan ini terdengar sepele, tetapi jawabannya menentukan apa yang dinilai guru, apa yang dipersiapkan, dan apa yang dianggap berhasil setelah pembelajaran selesai. Karena itu, pembahasan di bawah memakai dua sudut pandang sekaligus, yaitu Wordwall sebagai kemasan materi dan Wordwall sebagai saluran pesan, dengan bertumpu pada empat penelitian yang berkaitan langsung dengan pembelajaran Al-Qur’an.
Bahan ajar adalah isi yang dipelajari, misalnya hukum nun sukun, mim sukun, atau qalqalah. Media adalah sarana yang membawa isi itu kepada pembelajar. Wordwall sendiri tidak memuat satu pun kaidah tajwid. Ia baru berguna setelah guru mengisinya. Karena itu, ketika beberapa penelitian menyebut “bahan ajar berbasis Wordwall”, yang sebenarnya dibicarakan adalah materi yang dikemas ulang agar dapat dijalankan di platform tersebut.
Dilihat sebagai kemasan, kekuatan Wordwall terletak pada kemampuannya memecah materi menjadi potongan kecil. Satu hukum bacaan bisa menjadi satu permainan. Santri mencocokkan contoh bacaan dengan nama hukumnya, lalu langsung mengetahui benar atau salahnya. Umpan balik yang cepat seperti ini sulit diberikan guru yang harus menyimak puluhan anak sekaligus.(Efektivitas et al. 2026) Menempuh arah serupa ketika mengembangkan bahan ajar tajwid berbasis aplikasi ini bagi santri TPA Baitul Haq di Makam Haji, Sukoharjo.
Meski begitu, kemasan yang menarik punya risiko. Permainan menguji kemampuan mengenali, sedangkan tajwid menuntut kemampuan melafalkan. Santri bisa menjawab semua soal pencocokan dengan benar dan tetap keliru ketika membaca ayat. Bila guru hanya menilai skor permainan, materi yang dangkal akan tertutup oleh tampilan yang meriah.
Sebagai saluran, Wordwall membawa pesan lewat layar. Konsekuensinya, pembelajaran bergantung pada perangkat, sinyal, dan kecakapan santri memakainya (Nurrohim 2019). menelaah kesesuaian materi pembelajaran Al-Qur’an di sekolah dengan kebutuhan literasi digital siswa. Telaah semacam itu mengingatkan bahwa media digital tidak otomatis cocok untuk semua kelas. Saluran yang baik harus sesuai dengan penerimanya, bukan sekadar mutakhir.
Dalam kerangka komunikasi, setiap saluran punya gangguan. Sinyal yang lemah, tampilan yang terlalu ramai, atau anak yang lebih sibuk mengejar poin daripada memahami hukum bacaan, semuanya membuat pesan tidak sampai utuh. Ada pula batas yang lebih mendasar. Tajwid adalah keterampilan lisan yang diwariskan lewat contoh dan koreksi langsung. Layar dapat membantu latihan, tetapi tidak menggantikan guru yang mendengar bacaan santri satu per satu.
Menakar Wordwall berarti mengajukan dua pertanyaan yang berbeda. Pertama, bagaimana mutu kemasannya: apakah materi sudah benar, runtut, dan sesuai tingkat santri? Kedua, bagaimana mutu salurannya: apakah media ini cocok dengan perangkat, kebiasaan, dan tujuan belajar kelas tersebut? Materi yang bagus di saluran yang tidak cocok akan sia-sia, begitu pula saluran canggih yang membawa materi lemah.
Bagi guru, pemisahan ini praktis. Wordwall paling pas ditempatkan sebagai penguat latihan setelah penjelasan dan praktik membaca, bukan sebagai pembuka atau pengganti keduanya. Guru juga perlu menyiapkan penilaian lisan di luar permainan agar capaian santri benar-benar terukur. Dengan begitu, permainan tetap berfungsi sebagai alat bantu dan tidak berubah menjadi tujuan pembelajaran itu sendiri (Nurrohim et al. 2023).
Ada satu hal lagi yang layak dipertimbangkan, yakni kesiapan guru. Membuat permainan di Wordwall memang tidak sulit, tetapi menyusun butir soal yang benar-benar menguji pemahaman membutuhkan waktu dan ketelitian. Contoh bacaan harus ditulis dengan harakat yang tepat, pilihan jawaban harus memancing kekeliruan yang umum terjadi, dan tingkat kesulitan perlu naik secara bertahap. Tanpa kerja semacam itu, aplikasi hanya akan memindahkan latihan menjadi bentuk digital tanpa menambah mutu belajar (Mustafid et al. 2023).
Wordwall bukan bahan ajar dan bukan pula sekadar media. Ia adalah wadah yang hasilnya ditentukan oleh dua hal: seberapa cermat guru mengemas materi, dan seberapa tepat saluran itu dipilih untuk santrinya. Penelitian yang dirujuk dalam tulisan ini baru menunjukkan arah pengembangan. Kajian lanjutan perlu menguji apakah peningkatan pengenalan hukum tajwid lewat permainan benar-benar diikuti oleh membaiknya kualitas bacaan santri. Pengujian itu sebaiknya melibatkan penilaian bacaan secara lisan, bukan hanya skor permainan, sehingga klaim tentang efektivitas Wordwall berdiri di atas bukti yang lebih kuat. Selama pengujian semacam itu belum banyak dilakukan, guru sebaiknya memakai Wordwall dengan hati-hati dan tetap menempatkan bacaan langsung sebagai ukuran utama.
Penulis: Hafshah Kirana Mulyono
Editor: Redaksi

