Di Balik Bencana di Sumatra, Aceh, dan Negeri Ini
Bencana – Warga melintas di area banjir bandang dan longsor di Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Rabu (3/12). (ANTARA FOTO/Yudi Manar)
Bencana seakan tak pernah benar-benar jauh dari negeri ini. Dari Aceh hingga Sumatra Barat, dari longsor di perbukitan hingga banjir bandang yang menyapu pemukiman, kita kembali dikejutkan oleh kenyataan rapuhnya kehidupan manusia di hadapan kuasa alam. Tangisan, kehilangan, dan ketakutan kembali menjadi berita harian. Namun, benarkah semua ini semata-mata karena “alam sedang murka”?
Dalam perspektif iman, seorang mukmin memandang musibah tidak sekadar sebagai kemalangan. Bagi orang yang kufur, bencana bisa jadi hanya dianggap sebagai petaka, kesialan, atau nasib buruk. Tetapi bagi orang yang beriman, ia adalah ujian, bahkan bisa menjadi tanda kasih sayang Allah agar manusia kembali pada jalan-Nya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 155:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Bencana, bagi seorang mukmin, bukan berarti akhir segalanya. Tapi justru awal dari perenungan: sejauh apa aku telah lupa pada Tuhanku? Seberapa sering aku lalai terhadap amanah sebagai khalifah di muka bumi?
Namun, kejujuran mengharuskan kita mengakui satu hal: tidak semua bencana murni berasal dari faktor alam. Banyak di antaranya justru merupakan buah dari tangan manusia itu sendiri. keserakahan, kelalaian, dan kemaksiatan yang dilegalkan atas nama pembangunan.
Hutan digunduli tanpa nurani. Gunung dikeruk tanpa ampun. Sungai dijadikan tempat sampah raksasa. Alam diperlakukan bukan sebagai amanah, tetapi sebagai komoditas semata. Maka ketika banjir datang, ketika tanah runtuh, ketika air bah menyapu desa-desa, sebenarnya itu bukan sekadar peristiwa alam, itu adalah pantulan dari dosa-dosa kolektif kita.
Al-Qur’an telah lama mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).
Lebih jauh, kemaksiatan yang merajalela dalam kehidupan bernegara pun menjadi sebab dicabutnya keberkahan. Korupsi dianggap biasa. Kebohongan menjadi strategi. Hukum diperjualbelikan. Keadilan dipermainkan. Ketika dosa sudah menjadi sistem, wajar jika murka Allah pun turun dalam bentuk yang tidak kita sangka-sangka. Seolah mewakili jeritan nurani sebuah bangsa, terngiang bait lagu Ebiet G. Ade yang begitu relevan dengan keadaan hari ini:
“Ditelan bencana tanah ini…”
Dan lebih tajam lagi tegurannya dalam lirik:
“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.”
Bait pendek itu bukan sekadar lagu, melainkan cermin. Cermin tentang bagaimana manusia semakin jauh dari nilai, semakin bangga pada kemaksiatan, dan semakin mengabaikan tanda-tanda kebesaran Allah di sekelilingnya. Namun Islam tidak pernah mengajarkan keputusasaan. Setiap bencana menyimpan hikmah bagi mereka yang mau merenung. Setiap air mata membuka pintu taubat bagi siapa saja yang ingin kembali. Allah SWT berfirman:
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).
Maka yang paling kita perlukan hari ini bukan hanya bantuan logistik, relawan, dan posko pengungsian, tetapi juga revolusi taubat secara kolektif. Taubat dalam iman, taubat dalam kebijakan, taubat dalam memperlakukan alam, dan taubat dalam kehidupan sosial serta bernegara.
Karena sesungguhnya, bencana bukan hanya tentang apa yang terjadi di luar sana, tetapi tentang apa yang telah rusak di dalam jiwa kita. Dan mungkin, melalui semua tragedi itu, Allah hanya ingin satu hal dari kita: kembali. Kembali kepada-Nya.
Penulis: Tammam Sholahudin
Editor: Aryanti Artikasari

