Jangan Anggap Bercanda! Mengungkap Larangan Perundungan Verbal dalam QS. Al-Hujurat Ayat 11–12 melalui Poster Edukatif

ARTIKEL

Ketika Candaan Berubah Menjadi Luka

“Dasar pendek!”, “Kamu kok bodoh banget?”, atau “Nama kamu aneh, deh!” Kalimat-kalimat seperti ini sering terlontar begitu saja saat anak-anak bercanda dengan teman sebayanya. Kedengarannya sepele. Tetapi pernahkah kita membayangkan bagaimana perasaan orang yang menerima ucapan itu? Sekolah adalah tempat anak-anak tumbuh bersama. Di sana mereka belajar berteman, bekerja sama, dan menerima perbedaan. Sayangnya, tidak semua pergaulan berjalan mulus (Nurazizah dkk., 2022). Ejekan soal bentuk tubuh, kemampuan belajar, kondisi keluarga, atau kekurangan tertentu sering dianggap lelucon biasa. Ketika korban tampak sedih pun, pelaku bisa saja berkilah, “Baper banget, cuma bercanda!”

Candaan yang merendahkan dan diulang-ulang dapat berujung pada perundungan verbal yang merusak perasaan, rasa percaya diri, dan kenyamanan anak di sekolah (Nurazizah dkk., 2022). Oleh karena itu, Islam melalui QS. Al-Hujurat ayat 11–12 melarang mengolok-olok, mencela, memberi julukan buruk, berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing, yang nilainya sangat relevan untuk menanamkan kebiasaan berbicara santun sejak SD (Wila, 2025). Lalu, bagaimana pesan Al-Qur’an ini bisa sampai kepada anak-anak dengan cara yang menarik dan mudah dicerna? Salah satu caranya adalah melalui poster edukatif yang dirancang menggunakan Canva.

Mengenal Poster Edukatif sebagai Media Pembelajaran

Poster edukatif adalah media visual yang menyampaikan pesan belajar lewat kombinasi tulisan, ilustrasi, warna, dan tata letak. Informasi bisa disajikan secara ringkas, sekaligus mampu menarik perhatian peserta didik (Nashihah dkk., 2025).

Pada pembelajaran Al-Qur’an Hadis untuk siswa kelas IV–VI SD, poster dapat dibuat dengan tema “Jangan Anggap Bercanda!” dan pesan pokok tentang pentingnya menjaga ucapan berdasarkan QS. Al-Hujurat ayat 11–12 (Mursyidi dkk., 2024). Poster dapat diisi dengan ilustrasi keseharian (seperti anak diejek) disertai pertanyaan reflektif bagi siswa, ringkasan pesan ayat, larangan ucapan buruk, serta contoh alternatif kalimat yang lebih santun dan suportif (misalnya mengganti ejekan dengan ajakan belajar bersama).

Desain poster di Canva perlu memperhatikan ukuran huruf, pilihan warna, keterbacaan, dan kecocokan ilustrasi dengan usia peserta didik (“Implementing the Use of Canva Media,” 2023). Elemen visual sebaiknya tidak dibuat berlebihan supaya perhatian siswa tetap tertuju pada pesan utama. Kajian tentang media poster di sekolah dasar juga menunjukkan bahwa media ini berpotensi menyajikan informasi dengan lebih menarik dan mudah dipahami, walaupun hasilnya tetap bergantung pada mutu desain dan cara penggunaannya (Nashihah dkk., 2025).

Jadi, poster bukan sekadar hiasan dinding kelas. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk berdiskusi tentang adab berbicara dan sikap saling menghargai.

Menghubungkan Pesan Al-Qur’an dengan Perundungan Verbal

Pembahasan perundungan verbal bertumpu pada QS. Al-Hujurat ayat 11 yang melarang mengolok-olok, mencela, dan memberi julukan buruk, karena yang mengejek belum tentu lebih baik daripada yang diejek (Afandi dkk., 2026). Perbedaan penampilan, kemampuan, atau fisik tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan orang lain, sehingga larangan ini berfungsi mencegah kebiasaan menghina dan mengejek di sekolah (Wila, 2025). Siswa perlu memahami larangan memberi julukan buruk, berprasangka, dan menggunjing (QS. Al-Hujurat: 12) agar belajar menghormati perasaan teman, menjaga kehormatan sesama, dan menumbuhkan pertemanan yang saling menghargai. (Wila, 2025).

Kedua ayat ini dapat dikaitkan dengan kehidupan sekolah. Ketika seorang siswa diejek karena salah menjawab pertanyaan guru, misalnya, teman-temannya tidak seharusnya menertawakan atau terus mengungkit kesalahan itu. Sebaliknya, mereka bisa memberi dukungan dan membantu temannya belajar (Wila, 2025).

Perlu dipahami pula bahwa tidak setiap ucapan yang menyakitkan otomatis memenuhi semua kriteria perundungan. Untuk mengenali perundungan dengan lebih tepat, guru perlu mencermati konteks, pola perilaku, pengulangan, dan hubungan antarsiswa. Namun, baik itu perundungan maupun ejekan yang hanya terjadi sesekali, perilaku merendahkan tetap perlu diarahkan menuju cara berkomunikasi yang lebih santun.

Merancang “Pengingat untuk Menjaga Lisan”: Kriteria Poster yang Efektif untuk Siswa SD

Supaya pesan Al-Qur’an dapat diterima dengan baik oleh siswa sekolah dasar, poster harus dirancang sesuai dengan karakter dan kebutuhan mereka. Bahasanya sebaiknya sederhana, kalimatnya pendek, dan ilustrasinya akrab dengan kehidupan sehari-hari. Ayat Al-Qur’an juga harus ditulis dengan akurat, lengkap dengan rujukan surah dan nomor ayatnya (Wila, 2025). Poster dapat memakai judul “Jangan Anggap Bercanda!” dengan tiga pesan pokok: jangan mengejek, jangan memberi julukan yang menyakitkan, dan jangan menjadikan kekurangan teman sebagai bahan tertawaan. Tiap pesan bisa disertai ilustrasi dan contoh tindakan yang dapat dilakukan siswa (Nasir dan Nasir, 2024).

Poster juga dapat menampilkan perbandingan antara ucapan yang merendahkan dan ucapan yang menguatkan. “Kamu tidak pernah bisa!” misalnya, diganti dengan “Ayo, coba lagi. Aku bantu, ya!” Perbandingan seperti ini membantu siswa memahami bahwa menjaga lisan tidak sebatas menghindari kata-kata kasar, tetapi juga membiasakan komunikasi yang menghargai orang lain (Nasir dan Nasir, 2024). Dari sisi tampilan, warna yang serasi, huruf yang mudah dibaca, dan tata letak yang rapi akan memudahkan siswa menemukan informasi utama. Canva membantu proses penyusunan semua unsur itu. Namun, poster yang menarik secara visual belum tentu efektif dalam pembelajaran. Isi pesan, ketepatan materi, dan cara guru memanfaatkannya tetap menjadi faktor yang penting (Nurazizah dkk., 2022).

Dalam praktiknya, pembelajaran dibuka dengan siswa mengamati ilustrasi pada poster. Guru lalu bertanya tentang perasaan anak yang diejek, menghubungkannya dengan QS. Al-Hujurat ayat 11-12, dan meminta siswa mendiskusikan tanggapan yang tepat. Kegiatan ditutup dengan siswa menyebutkan contoh ucapan santun yang akan mereka biasakan di sekolah (Nurazizah dkk., 2022). Poster tentu punya keterbatasan (“Mengenal Poster,” t.t.). Karena ruang poster terbatas dan siswa bisa salah menafsirkannya, poster sebaiknya digunakan sebagai pelengkap diskusi dan refleksi, bukan sebagai pengganti penjelasan materi. Keberhasilannya diukur dari kemampuan siswa memahami pesan ayat, mengenali ucapan yang merendahkan, serta membiasakan adab berbicara yang lebih santun. (Wila, 2025).

Menjaga Ucapan, Menjaga Perasaan

Perundungan verbal adalah persoalan yang patut diperhatikan di lingkungan sekolah, sebab ucapan yang merendahkan dapat mengganggu kenyamanan dan hubungan antarsiswa. QS. Al-Hujurat ayat 11–12 memberi landasan nilai untuk membangun kebiasaan saling menghormati, menjauhi ejekan dan julukan buruk, serta menjaga kehormatan orang lain (Nasir dan Nasir, 2024).

Menjaga lisan bukan hanya soal menghindari kata-kata kasar, tetapi juga belajar memahami perasaan orang lain agar tidak merendahkan mereka. Oleh karena itu, pikirkanlah dampak ucapan kita sebelum berbicara, karena candaan yang kita anggap biasa bisa saja menjadi luka yang mendalam bagi orang lain.

Penulis: Fransischa Nayla Puteri

Editor: Redaksi

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *