Belajar Tajwid Lebih Menyenangkan melalui Flashcard Interaktif Berbasis Canva

ARTIKEL

Banyak pelajar sudah lama mengaji, tetapi masih ragu menentukan hukum bacaan. Ada yang sulit mengingat huruf pemicu, bingung membedakan idgham bighunnah dan bilaghunnah, atau paham teori tetapi gagap menerapkannya pada potongan ayat. Salah satu penyebabnya adalah cara penyampaian materi. Tajwid sering diajarkan lewat penjelasan panjang dan hafalan, sehingga pelajar mudah jenuh dan kurang termotivasi (Mardani 2018, 467). Pelajar membutuhkan sesuatu yang bisa dipegang, dilihat, dan dimainkan, dan di sinilah flashcard hadir sebagai jawaban.

Flashcard adalah kartu kecil yang memuat informasi singkat pada tiap sisinya: satu sisi berisi pertanyaan atau petunjuk, sisi lainnya berisi jawaban. Pelajar membaca sisi depan, mencoba mengingat, lalu membalik kartu untuk memeriksa. Proses mengingat kembali inilah yang membuat flashcard efektif, karena menjalani tes ingatan terbukti meningkatkan retensi jangka panjang (Roediger dan Karpicke 2006, 249). Kartu ini ringkas, fleksibel karena bisa dipelajari kapan saja bahkan hanya lima menit, cocok untuk permainan, serta mudah diulang karena kartu yang belum dikuasai dapat dipisahkan dan dilatih kembali. Materi tajwid sangat sesuai dipindahkan ke kartu karena polanya jelas, yakni nama hukum, huruf pemicu, dan contoh bacaan.

Materi yang dipilih adalah hukum nun sukun dan tanwin karena hampir selalu ditemui dalam setiap ayat dan menjadi dasar bagi pemula. Hukum ini terbagi menjadi lima (Mardani 2018, 467–69). Pertama, izhar halqi, yaitu membaca nun sukun atau tanwin dengan jelas tanpa dengung ketika bertemu huruf tenggorokan (ء ه ع ح غ خ), seperti pada مَنْ آمَنَ (Mardani 2018, 468). Kedua, idgham bighunnah, yaitu memasukkan nun sukun atau tanwin ke huruf sesudahnya dengan dengung, yang hurufnya dihafal dengan kata yanmu (ي ن م و), seperti pada مَنْ يَقُولُ (Mardani 2018, 468–69). Ketiga, idgham bilaghunnah, yaitu peleburan tanpa dengung pada huruf ل dan ر, seperti pada مِنْ رَبِّهِمْ. Keempat, iqlab, yaitu mengubah bunyi nun sukun atau tanwin menjadi mim kecil yang disamarkan dengan dengung sebelum huruf ba, seperti pada مِنْ بَعْدِ (Mardani 2018, 469). Kelima, ikhfa haqiqi, yaitu menyamarkan nun sukun atau tanwin, antara izhar dan idgham, dengan dengung pada lima belas huruf sisanya, seperti pada مِنْ دُونِ (Mardani 2018, 470). Setiap hukum disusun dengan urutan yang sama agar mudah diikuti, yaitu nama hukum, definisi, huruf pemicu, contoh bacaan, dan cara membaca.

Produk akhirnya terdiri dari tiga kartu yang saling melengkapi, yaitu kartu soal bertajuk “Tebak Hukumnya”, kartu jawaban sisi depan yang memuat nama hukum, dan kartu jawaban sisi belakang yang memuat penjelasan lengkap. Kartu soal dan kartu jawaban dicetak bolak-balik sehingga dapat dipakai dalam permainan mencari pasangan, sebagaimana permainan serupa yang dijelaskan Mardani (2018, 473).

Seluruh kartu dirancang menggunakan Canva, aplikasi desain yang mudah dipakai, kaya elemen grafis, dan dapat diakses lewat ponsel maupun komputer. Kartu berukuran portrait yang pas di genggaman, mirip kartu permainan, dengan bagian tengah dikosongkan seluas mungkin untuk teks utama dan ornamen diletakkan di tepi dan bagian atas. Tulisan Arab memakai huruf naskh yang jelas dengan harakat lengkap, berukuran besar dan berwarna gelap di atas latar terang agar sukun, tanwin, dan tasydid tetap terlihat. Keterangan berbahasa Indonesia memakai huruf sederhana berkontras tinggi, sedangkan judul hukum memakai huruf lebih tebal. Pola geometris dan bingkai lengkung mihrab menjadi ciri visual kartu, dibuat tipis di pinggir agar area teks tetap bersih dan keterbacaan terjaga.

Cara belajarnya sederhana. Pelajar mengambil satu kartu soal, membacanya dengan benar, lalu memilih kartu jawaban yang menurutnya sesuai. Setelah itu ia membalik kartu jawaban untuk memeriksa apakah huruf setelah nun sukun atau tanwin termasuk huruf pemicunya, memisahkan kartu yang masih salah, dan melatihnya lagi pada sesi berikutnya. Kartu juga dapat dimainkan berpasangan, ketika satu orang membacakan ayat dan temannya menyebutkan hukum beserta alasannya, atau dalam lomba kelompok, ketika guru mengacak kartu dan tiap kelompok berlomba mencocokkan sebanyak mungkin dalam waktu tertentu (Mardani 2018, 472–73).

Bahan yang diperlukan meliputi hasil desain Canva dalam bentuk PDF atau PNG, kertas art carton atau kertas foto tebal, printer berwarna, gunting atau cutter dan penggaris, lem kertas untuk menggabungkan sisi depan dan belakang kartu jawaban, serta kotak kecil untuk penyimpanan. Laminasi bersifat opsional agar kartu awet dan tahan air.

Belajar tajwid tidak harus selalu berupa hafalan yang berat. Dengan media yang tepat, hukum nun sukun dan tanwin dapat dipelajari secara lebih ringan: dilihat, dipegang, ditebak, dan dimainkan. Flashcard tajwid membuktikan bahwa media sederhana pun bisa menarik, praktis, dan mendukung kegiatan belajar Al-Qur’an, asalkan materinya benar, desainnya jelas, dan penggunaannya kreatif.

Penulis: Sholikhatun Khonitah

Editor: Redaksi

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *