Aliansi BEM Solo Raya Gelar Aksi September Hitam, Suarakan Penuntasan Kasus HAM

WARTA

ISLAMIKAONLINE.com, UMS – Aliansi BEM Solo Raya menggelar aksi simbolik bertajuk “Seruan Aksi September Hitam” di kawasan Tugu Gladak, Solo, Selasa (29/9/2026). Aksi tersebut menjadi momentum untuk mengingat berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) sekaligus menyampaikan tuntutan agar persoalan tersebut segera diselesaikan.

Koordinator Umum BEM Solo Raya, Dimas Muhammad, mengatakan aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk refleksi terhadap berbagai tragedi pelanggaran HAM yang hingga kini belum mendapatkan kejelasan. Ia juga menyoroti masih adanya kasus hilangnya nyawa aktivis maupun masyarakat sipil.

“Banyak mungkin kasus-kasus kehilangan nyawa, entah itu aktivis, entah itu masyarakat sipil, yang rasa-rasanya per hari ini terus terjadi,” ujar Dimas saat di wawancara (29/9/2026)

Kawasan Gladak dipilih sebagai lokasi aksi karena menjadi bagian dari rute yang digunakan Aliansi BEM Solo Raya untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. Dimas menjelaskan, setelah melakukan aksi simbolik, doa bersama, dan pembacaan pernyataan sikap, massa berjalan melalui rute yang telah ditentukan untuk mengenalkan kembali berbagai tragedi yang terjadi pada momentum September.

Aksi tersebut ditandai dengan penggunaan pakaian hitam oleh peserta sebagai simbol September Hitam. Massa juga membawa dua keranda serta foto sejumlah aktivis. Selain itu, rangkaian aksi diisi dengan orasi, doa bersama, penyalaan lilin, dan tabur bunga.

Koordinator lapangan aksi, Kailani Rizqi Pratama, mengatakan September Hitam menjadi momentum untuk kembali mengingat persoalan HAM yang belum terselesaikan.

“September Hitam ini menjadi momentum untuk mengingat kembali persoalan pelanggaran HAM. Hingga saat ini masih banyak kasus pelanggaran HAM yang belum jelas penyelesaiannya,” Ungkap Kailani.

Menurut Kailani, persoalan HAM yang disuarakan dalam aksi tidak hanya berkaitan dengan kasus kekerasan dan hilangnya nyawa, tetapi juga merembet pada persoalan lain, termasuk lingkungan. Ia mencontohkan kebakaran hutan yang turut berdampak terhadap masyarakat.

Dalam pernyataan sikapnya, Aliansi BEM Solo Raya menyampaikan tujuh tuntutan. Di antaranya, menuntaskan seluruh kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, menghentikan represivitas dan kriminalisasi terhadap rakyat, serta mengevaluasi TNI dan Polri atas dugaan pelanggaran HAM.

Aliansi juga menuntut penghentian kekerasan dan perlindungan warga sipil di Papua, jaminan kebebasan berpendapat serta perlindungan bagi pembela HAM, dan terwujudnya keadilan hukum serta pemulihan hak korban.

Kailani mengatakan momentum September Hitam juga ditujukan sebagai pengingat bagi masyarakat bahwa masih terdapat persoalan HAM yang belum selesai. Ia berharap pemerintah segera memberikan kejelasan terhadap kasus-kasus tersebut dan masyarakat tidak melupakan para korban.

“Ternyata ada peringatan September Hitam. Jadi sebagai satu notifikasi kepada masyarakat, bahwa di September ini ada satu duka yang begitu mendalam, yang saat ini coba kita renungkan, yang coba saat ini kita takziahkan,” ujar Kailani.

Dimas menambahkan, aksi tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memahami persoalan HAM sekaligus mencegah terjadinya pelanggaran serupa terhadap masyarakat, aktivis, maupun jurnalis.

“Harapan besar kami pelanggaran HAM tidak terulang lagi di negara Indonesia,” ujar Dimas.

Aksi September Hitam tersebut merupakan bagian dari agenda tahunan Aliansi BEM Solo Raya. Dimas menyebut kegiatan serupa telah dilakukan pada 2024 dan 2025 dan kembali digelar pada 2026 sebagai bentuk pengingat terhadap berbagai kasus pelanggaran HAM yang belum memperoleh keadilan.

Reporter: Zulfa Hasanah

Editor: Redaksi

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *