Fakultaria FAI UMS Terapkan Zero Kendaraan, Mahasiswa Baru Harapkan Solusi Parkir
ISLAMIKAONLINE.com, UMS – Fakultaria Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi digelar di Gedung Induk Siti Walidah UMS sebagai rangkaian penyambutan mahasiswa baru tahun 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Fakultaria Membentuk Generasi Kritis, Berintegritas, Solutif, Berlandaskan Nilai-Nilai Islam.”
Pada hari pertama, Mohammad Ali selaku Dekan Fai memberikan sambutan tentang pentingnya mahasiswa memiliki kemampuan berpikir kritis.
“Kalau kita tidak menggunakan seperangkat ilmu untuk melihat realitas, kita itu akan mudah terombang-ambing oleh situasi. Maka kita perlu menancapkan sudut pandang apa, positioning apa yang harus saya lakukan,” ujarnya.”
Mohammad Ali juga menjelaskan sebagai mahasiswa berpikir kritis harus diimbangi dengan pemahaman normatif dan empiris.
“Kalau kita berpikir secara normatif sekaligus berpikir secara empirik, nanti kita bisa memberikan solusi atas banyak masalah. Tapi kalau untuk ke situ, kita harus belajar sungguh-sungguh,” ujarnya.
Selain itu Mohammad Ali juga menyoroti pentingnya integritas.
“Integritas itu secara sederhana antara yang diucapkan dengan apa yang dilakukan itu menjadi satu kesatuan. Itu yang namanya integritas,” jelasnya.
Selanjutnya, Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua Panitia Fakultaria Zidan Muhammad Navis, jumlah mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan tercatat sebanyak 304 orang, sementara jumlah yang terdata dalam sistem sebanyak 279 mahasiswa ditambah delapan peserta lainnya.
Persiapan kegiatan telah dilakukan sejak sekitar dua bulan sebelum pelaksanaan, dimulai dari pembukaan volunteer hingga koordinasi dengan berbagai organisasi mahasiswa.
“Menjelang acara, panitia telah melaksanakan lima kali rapat, terdiri atas empat rapat secara luring dan satu rapat daring,” ujar Muhammad Zidan Navis saat di wawancarai, senin (07/09).
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa baru juga diarahkan untuk tidak membawa kendaraan bermotor. Sebagai bagian dari kebijakan kampus untuk mengurangi kepadatan area parkir karena rangkaian kegiatan Fakultaria dilaksanakan secara serentak.
“Kampus ini zero kendaraan kecuali untuk mobilitas panitia,” ujarnya.
Sebagai alternatif, panitia menyarankan mahasiswa baru menggunakan layanan ojek daring atau diantar oleh orang tua. Bagi mahasiswa yang tetap membawa kendaraan bermotor, panitia menyebutkan adanya sanksi berupa evaluasi dan pemberian poin pelanggaran yang dapat memengaruhi pertimbangan kelulusan fakultaria apabila melebihi batas yang telah ditentukan.
“Untuk mahasiswa baru yang membawa motor, nanti sudah ada sanksinya dan ada tim yang akan mengevaluasi,” jelasnya.
Pada hari kedua, Fakultaria menggelar Parade Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang menjadi wadah pengenalan berbagai organisasi kemahasiswaan kepada mahasiswa baru. Parade tersebut menghadirkan sejumlah organisasi, di antaranya Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP), Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Islamika, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FAI, serta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAI. Kemudian dilanjutkan diisi materi oleh masing-masing ketum LPM Islamika, ketum DPM FAI, dan Ketum BEM FAI.
Selanjutnya pengenalan dari setiap Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) yang disampaikan oleh setiap HMP masing-masing.
Pada hari ketiga pelaksanaan Fakultaria, panitia menggelar kegiatan outbound yang diikuti oleh seluruh mahasiswa baru. kegiatan berlangsung meriah dengan antusiasme peserta yang aktif mengikuti setiap rangkaian acara, setelah itu dilanjutkan dengan penutupan Fakultaria 2026.
Dari hasil wawancara dengan salah satu mahasiswa baru IQT, Exel Risky Ramadhan,Di sisi lain, salah satu mahasiswa baru Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT), Exel Rizky Ramadan, menilai kebijakan pembatasan kendaraan merupakan hal yang wajar mengingat keterbatasan lahan parkir di lingkungan kampus. Namun, ia berharap kebijakan tersebut tetap disertai alternatif yang dapat memudahkan mahasiswa baru.
“Menurut saya itu wajar, Soalnya kita terbatas parkirannya juga. Bagus sih kalau tidak boleh bawa motor, tapi kalau tidak, dikasih alternatif,” ujar Exel.
Menurutnya, persoalan parkir perlu menjadi perhatian karena tidak semua mahasiswa memiliki kemudahan dalam mencari tempat parkir. Ia berharap kebijakan mengenai kendaraan pada pelaksanaan Fakultaria berikutnya disertai solusi yang jelas.
“Kalau misalnya dikasih peraturan tentang parkiran, dikasih solusi, parkir gimana. Soalnya susah juga kalau masalah parkir, apalagi kalau maba-maba yang perantauan,” ungkapnya.
Rangkaian Fakultaria FAI UMS 2026 kemudian ditutup setelah seluruh agenda, mulai dari Grand opening kemudian pengenalan organisasi mahasiswa hingga kegiatan outbound, selesai dilaksanakan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pengenalan lingkungan akademik dan kemahasiswaan bagi mahasiswa baru Fakultas Agama Islam UMS.
Reporter: Muhammad Jundullah & Muhammad Gibran
Editor: Redaksi

