DPM FAI UMS Gelar Sosialisasi Tanfidz KAMA 2026
ISLAMIKAONLINE.com, UMS –Sosialisasi Tanfidz Keluarga Mahasiswa (KAMA) Fakultas Agama Islam (FAI) 2026 digelar oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dengan tema “Mewujudkan Gerakan Aspiratif, Inovatif, dan Berintegritas”. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (09/05/2026) di Ruang A305 dan diikuti oleh jajaran Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) FAI UMS.
Ketua DPM, Mochamad Mumtaz Rais Tamami, menyampaikan bahwa sosialisasi tersebut tidak hanya menjadi ajang pengenalan hasil Konferlub (Konferensi Luar Biasa –red), tetapi juga ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memahami aturan-aturan yang berlaku di FAI.
Sementara itu, Pembina ORMAWA FAI UMS, Istanto, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan pemahaman organisasi di lingkungan FAI UMS. “Tidak usah bermuluk-muluk banyak program tetapi tidak terlaksana, bikinlah satu-dua program tetapi menjadi penciri dan keunggulan dari masing-masing,” ujarnya pada Sabtu (09/05).
Rais menjelaskan bahwa sosialisasi tanfidz penting dilakukan agar seluruh ORMAWA memahami aturan organisasi yang berlaku dan tidak keluar dari garis ketentuan yang telah ditetapkan.
“AD/ART, GBHO, dan rekomendasi perlu dibahas ataupun disosialisasikan karena untuk pemahaman teman-teman terkait undang-undang ataupun aturan-aturan yang ada di KAMA itu sendiri,” ujarnya saat diwawancarai pada (09/05).
Ia menambahkan bahwa pemahaman terhadap aturan organisasi diperlukan agar jalannya ORMAWA lebih terarah dan disiplin dalam menjalankan program kerja maupun koordinasi organisasi.
“Biar tidak keluar dari jalur garis teman-teman ORMAWA, biar terarah dan disiplin untuk menjalankan ORMAWAnya masing-masing,” tambahnya.
Dalam sosialisasi tersebut, turut dibahas sejumlah perubahan pada beberapa pasal organisasi, khususnya mengenai jalur koordinasi ORMAWA terhadap pembina maupun pihak dekanat. Rais menyebut perubahan itu menjadi bahan evaluasi bagi organisasi mahasiswa agar lebih memahami sistem koordinasi yang berlaku di lingkungan FAI.
“Kalau untuk segi perubahan yang ada mungkin terkait jalur koordinasi ke pembina ataupun ke wakil dekan kemahasiswaan,” jelasnya.
Menurutnya, setiap organisasi tetap memiliki jalur koordinasi sesuai struktur masing-masing, seperti Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) yang berkoordinasi dengan program studi, namun tetap harus terhubung dengan pembina dan pihak fakultas. Oleh karena itu, pemahaman mengenai alur koordinasi dinilai penting agar komunikasi organisasi dapat berjalan lebih baik.
Melalui kegiatan tersebut, DPM FAI berharap mahasiswa dan ORMAWA lebih memahami sistem aturan yang berlaku dalam pemerintahan mahasiswa di tingkat fakultas.
“Harapan dari sosialisasi tanfidz ini biar teman-teman melek terhadap jalur hukum ataupun jalur koordinasi yang ada di student government FAI. Jadi tidak sembarang jalan, tetapi ada aturan yang mengikat,” tutupnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAI, Muhammad Arya Kautsar, menilai bahwa GBHO, GBHK serta AD/ART memiliki peran penting sebagai arah gerak organisasi mahasiswa di lingkungan FAI.
“GBHO, GBHK serta AD/ART itu sebagai arah gerak organisasi kita. Sehingga ketika kita punya kegiatan ataupun gerakan, itu tidak keluar dari aturan aturan karena itu merupakan hasil yang sudah kita sahkan bersama,” ujarnya.
Arya juga mengatakan bahwa sosialisasi tanfidz menjadi langkah penting agar seluruh ORMAWA memahami aturan yang telah disepakati bersama sehingga pelaksanaan program kerja dapat berjalan sesuai ketentuan organisasi.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi salah satu upaya perbaikan sistem organisasi mahasiswa di lingkungan FAI.
“Ini salah satu langkah penting untuk memperbaiki dan memahami aturan organisasi dengan baik” ungkapnya.
Selain itu, Arya turut menyoroti menurunnya minat mahasiswa terhadap organisasi dan gerakan mahasiswa. Ia berharap kegiatan sosialisasi tersebut dapat mendorong mahasiswa untuk kembali aktif dalam organisasi kampus serta lebih berani menyampaikan aspirasi melalui gerakan mahasiswa.
“Saya harap mahasiswa umum lebih aktif lagi, karena kita melihat minat organisasi dan gerakan mahasiswa mulai berkurang. Padahal gerakan mahasiswa itu penting untuk menyampaikan aspirasi,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Abduh FAI, Rafa Hanif Maulida, menilai bahwa tantangan yang kerap dihadapi ORMAWA FAI dalam menjalankan program kerja adalah koordinasi antaranggota serta persoalan pendanaan organisasi. Menurutnya, keterlibatan anggota yang belum maksimal dan keterlambatan pencairan dana sering menjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan organisasi.
“Kadang anggota yang agak susah diajak kerja bareng, lalu juga dana, kadang ya terlambat cairnya,” ujarnya.
Rafa berharap setelah diadakannya sosialisasi tanfidz, kepengurusan ORMAWA FAI ke depan dapat berjalan lebih baik dan memberikan dampak nyata bagi mahasiswa. Ia juga menilai konsistensi dan keaktifan anggota perlu dipertahankan agar dinamika organisasi tetap berjalan dengan baik.
“Bisa lebih bagus kinerjanya, lebih mengakar, dan berdampak langsung kepada mahasiswa,” ungkapnya.
Menurutnya, konsistensi dan keaktifan menjadi hal penting dalam menjaga keberlangsungan organisasi mahasiswa di lingkungan FAI. Dengan organisasi yang aktif, kegiatan dan dinamika mahasiswa dinilai dapat berjalan lebih maksimal serta memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa FAI.
“Konsistensi sama keaktifan, menurutku sangat penting. Biar organisasi aktif, dinamikanya berjalan dan berdampak langsung kepada mahasiswa Fakultas Agama Islam,” tutupnya.
Reporter: Zulfa Hasanah & Aryanti Artikasari

