Memahami Khilāf I‘rābī melalui Dua Ayat Al-Qur’an

ARTIKEL

Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab yang memiliki aturan tata bahasa tersendiri. Salah satunya adalah nahwu, yang membahas i‘rāb, yaitu perubahan harakat akhir kata sesuai kedudukannya dalam kalimat. I‘rāb membantu menjelaskan kedudukan kata dan hubungan antarkata dalam Al-Qur’an sehingga makna ayat dapat dipahami dengan lebih tepat (Nurrohim, 2026). Pemahaman terhadap i‘rāb penting karena kedudukan kata dapat mempengaruhi hubungan antarkata dan penafsiran ayat (Bahri, 2024).

Analisis i‘rāb penting dalam penafsiran karena perbedaan struktur gramatikal dapat menghasilkan perbedaan pemahaman ayat (Sofwan et al., 2024). Kajian tafsir Al-Qur’an sendiri telah dilakukan melalui beragam fokus dan pendekatan. Misalnya, mengkaji perkembangan studi tafsir melalui pembahasan mengenai revolusi digital dalam studi tafsir Al-Qur’an (Ahmad Nurrohim et al., 2025). Oleh karena itu, artikel ini membahas khilāf i‘rābī dalam QS Al-An‘ām [6]:137 dan QS Aṭ-Ṭalāq [65]:3 untuk menjelaskan kaitan perbedaan gramatikal dengan pemahaman makna ayat.

Perbedaan I‘rāb dalam QS Al-An‘ām [6]:137

QS Al-An‘ām [6]:137 menjelaskan pengaruh sekutu-sekutu kaum musyrik terhadap perbuatan mereka. Dalam bacaan yang umum digunakan di Indonesia, ayat tersebut berbunyi:

وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ

Kata zayyana (زَيَّنَ) berkedudukan sebagai fi‘il (kata kerja), qatla (قَتْلَ) sebagai objek, awlādihim (أَوْلَادِهِمْ) sebagai muḍāf ilaih, dan syurakā’uhum (شُرَكَاؤُهُمْ) sebagai fā‘il (pelaku). Susunan ini menunjukkan bahwa sekutu-sekutu kaum musyrik membuat perbuatan membunuh anak-anak mereka tampak baik.

Selain itu, terdapat bacaan yang dinisbatkan kepada Ibn ‘Āmir:

وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلُ أَوْلَادَهُمْ شُرَكَائِهِمْ

Pada bacaan ini, kata zuyyina (زُيِّنَ) berarti “dibuat tampak baik”. Kata qatlu (قَتْلُ), yang berarti “pembunuhan”, berkedudukan sebagai nā’ib al-fā‘il, yaitu kata yang menggantikan posisi pelaku dalam susunan kalimat tertentu. Kata awlādahum (أَوْلَادَهُمْ) berarti “anak-anak mereka”, sedangkan syurakā’ihim (شُرَكَائِهِمْ) berarti “sekutu-sekutu mereka”. Dalam susunan ini, kata awlādahum berada di antara kata qatlu dan syurakā’ihim.

Perbedaan I‘rāb dalam QS Aṭ-Ṭalāq [65]:3

Contoh kedua terdapat pada bagian akhir QS Aṭ-Ṭalāq [65]:3:

إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

Dalam bacaan Ḥafṣ dari ‘Āṣim yang umum digunakan di Indonesia, kata bālighu (بَالِغُ) berkedudukan sebagai khabar inna dan disandarkan kepada kata amrihi (أَمْرِهِ), yang menjadi muḍāf ilaih. Susunan ini disebut iḍāfah dan menegaskan bahwa Allah melaksanakan ketetapan-Nya.

Terdapat pula bacaan bālighun amrahu (بَالِغٌ أَمْرَهُ). Dalam susunan tersebut, kata bāligh menggunakan tanwin, sedangkan amrahu berkedudukan sebagai objek. Kata bāligh berfungsi seperti kata kerja yang dapat diikuti objek.

Perbedaan kedua bacaan terletak pada hubungan gramatikalnya. Pada bālighu amrihi, kedua kata membentuk hubungan iḍāfah, sedangkan pada bālighun amrahu, kata bāligh berfungsi seperti kata kerja dan diikuti objek. Meskipun susunannya berbeda, makna keduanya berdekatan, yaitu bahwa ketetapan Allah pasti terlaksana. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan i‘rāb tidak selalu mengubah makna secara mendasar, tetapi dapat memperlihatkan perbedaan struktur kalimat.

Kedua contoh tersebut memperlihatkan bahwa khilāf i‘rābī perlu dipahami sesuai konteksnya. QS Al-An‘ām [6]:137 menunjukkan perbedaan bentuk kata kerja dan hubungan antarkata, sedangkan QS Aṭ-Ṭalāq [65]:3 memperlihatkan perbedaan antara hubungan iḍāfah dan fungsi kata yang menyerupai kata kerja. Perbedaan analisis i‘rāb dapat memperkaya pemahaman terhadap penafsiran ayat. Selain itu, perbedaan qirā’at dapat menghasilkan beragam pemahaman tanpa harus menimbulkan pertentangan makna (Nurrohim, 2026).

Secara umum, perbedaan i‘rāb berkaitan dengan kedudukan kata dalam susunan kalimat, seperti sebagai subjek, objek, maupun unsur lainnya. Kedudukan tersebut perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi pemahaman makna ayat. Pembahasan i‘rāb lafẓī dan taqdīrī juga menunjukkan adanya beragam bentuk analisis gramatikal (Nurfazri et al., 2025). Kajian khilāf i‘rābī tidak hanya berfokus pada perubahan harakat akhir kata, tetapi juga memperhatikan hubungan antarkata dan kaitannya dengan makna yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Dengan demikian, kajian ini diharapkan dapat membantu pembaca memahami pentingnya ketelitian dalam menganalisis struktur bahasa Arab. Pemahaman tersebut juga dapat menjadi dasar untuk melihat hubungan antara kaidah nahwu, variasi qirā’at, dan penafsiran ayat Al-Qur’an secara lebih mendalam dan menyeluruh dalam kajian ilmu tafsir.

Penulis: Afina Hasna

Editor: Redaksi

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *