FAI UMS Perkuat Dukungan Mahasiswa melalui Talkshow Holistic Student Support System
ISLAMIKAONLINE.com, UMS –Talkshow Layanan Kemahasiswaan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) digelar pada Selasa (02/06/2026) di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah. Kegiatan yang mengusung tema “Holistic Student Support System: Integrasi Advokasi, Pengembangan Soft Skills dan Mental Health Mahasiswa” tersebut diikuti oleh mahasiswa FAI, khususnya mahasiswa semester dua dan pengurus Organisasi Mahasiswa (ORMAWA).
Dekan FAI UMS Mohamad Ali, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program universitas untuk memperkuat sistem layanan dan pendampingan mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki pemahaman yang baik terkait kesehatan mental, perlindungan hukum, serta keterampilan sosial yang dibutuhkan selama masa perkuliahan maupun setelah lulus.
“Talkshow ini merupakan upaya universitas maupun fakultas untuk memitigasi hal-hal yang tidak kita inginkan. Baik yang berkaitan dengan kesehatan mental, persoalan hukum, maupun pengembangan kemampuan sosial mahasiswa,” ujarnya pada Selasa (02/06)
Pada sesi pertama, Kepala Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) UMS, Marisa Kurnianingsih, menjelaskan berbagai bentuk pelanggaran yang berpotensi terjadi di lingkungan kampus. Ia menyoroti pentingnya pemahaman mahasiswa mengenai kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, perundungan, hingga pelanggaran yang terjadi melalui media sosial.
Menurutnya, keberadaan Satgas PPKPT bertujuan memberikan perlindungan, keadilan, serta kepastian hukum bagi seluruh sivitas akademika agar tercipta lingkungan kampus yang aman dan nyaman.
“Mahasiswa harus mengetahui hak-haknya dan memahami mekanisme pelaporan ketika mengalami atau mengetahui adanya pelanggaran di lingkungan kampus,” ungkapnya Selasa (02/06)
Sementara itu, Psikolog Student Mental Health and Wellbeing Support (SMHS) UMS, Mahasri Shobabiya, memaparkan pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah berbagai tuntutan kehidupan mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa perlu mampu mengenali kondisi emosional diri, mengelola stres, membangun dukungan sosial, dan mencari bantuan profesional apabila diperlukan.
Menurutnya, kesehatan mental yang baik tidak hanya ditandai dengan minimnya masalah, tetapi juga kemampuan seseorang dalam mengelola emosi, tetap produktif, dan menjalin hubungan sosial yang sehat.
“Kalau merasa kesulitan menghadapi masalah, jangan ragu mencari dukungan sosial atau bantuan profesional. Kampus sudah menyediakan layanan yang dapat diakses mahasiswa secara gratis,” jelasnya pada Selasa (02/06)
Pada sesi berikutnya, Kasubdit Soft Skill dan Layanan Kemahasiswaan UMS, Siti Azizah Susilawati, menjelaskan berbagai program pengembangan mahasiswa yang berkaitan dengan life skill, prestasi, organisasi, sertifikasi kompetensi, hingga persiapan karir.
Ia menegaskan bahwa mahasiswa perlu aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan sebagai bekal menghadapi dunia kerja. Selain kemampuan akademik, pengalaman organisasi, pelatihan, prestasi, dan sertifikasi juga menjadi aspek penting dalam pengembangan diri mahasiswa.
“Mahasiswa perlu mempersiapkan diri sejak dini dengan mengembangkan kompetensi dan pengalaman yang dapat mendukung karier mereka di masa depan,” ujarnya pada Selasa (02/06)
Dalam wawancara terpisah Mohamad Ali menjelaskan bahwa talkshow tersebut merupakan program yang diinisiasi universitas dan dilaksanakan oleh seluruh fakultas sebagai bentuk edukasi kepada mahasiswa mengenai layanan kemahasiswaan yang tersedia. Menurutnya, terdapat tiga fokus utama yang ingin disampaikan melalui kegiatan tersebut, yaitu kesehatan mental, pemahaman hukum, dan pengembangan soft skills.
“Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki kesadaran diri, kemampuan mengadvokasi diri dan lingkungan, serta kemampuan soft skill yang hari ini sangat dibutuhkan oleh dunia kerja dan industri,” ujarnya saat diwawancarai pada (02/06).
Ia juga menegaskan pentingnya kepedulian antar mahasiswa terhadap kondisi teman-temannya. Menurutnya, ketika terdapat mahasiswa yang mengalami kesulitan atau menunjukkan gejala permasalahan tertentu, lingkungan sekitar perlu hadir untuk memberikan dukungan dan bantuan.
“Bukan hanya memitigasi diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap lingkungan sekitar. Kalau ada teman yang mengalami masalah, kita harus membantu dan mendampinginya,” tambahnya.
Salah satu peserta, Muhammad Fitriyanoor, menilai bahwa talkshow tersebut efektif karena menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperoleh informasi sekaligus menyampaikan berbagai aspirasi dan persoalan yang mereka hadapi.
“Menurut saya talkshow ini efektif karena memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan apa yang dirasakan dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan,” ujarnya saat diwawancarai pada (02/06).
Senada dengan hal tersebut, peserta lainnya, Nuha Putri Rahmawati, mengaku memperoleh banyak informasi baru, terutama mengenai mekanisme pelaporan kasus melalui Satgas PPKPT dan layanan kesehatan mental yang tersedia di UMS.
“Dari talkshow ini saya jadi tahu bagaimana alur penanganan kasus di kampus dan layanan apa saja yang bisa diakses mahasiswa ketika membutuhkan bantuan,” ujarnya saat diwawancarai pada (02/06).
Nuha berharap mahasiswa dapat memanfaatkan berbagai fasilitas dan layanan yang telah disediakan kampus, baik yang berkaitan dengan kesehatan mental, advokasi, maupun pengembangan prestasi. Ia juga mengajak mahasiswa untuk lebih aktif mengembangkan diri melalui organisasi dan kegiatan kemahasiswaan.
“Semoga mahasiswa lebih peka terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Selain itu, kesempatan yang ada di kampus, seperti beasiswa, organisasi, dan layanan kemahasiswaan lainnya, bisa dimanfaatkan dengan baik untuk mendukung pengembangan diri,” tutupnya.
Reporter: zulfa Hasanah
Editor: Muhammad Gibran

