Deprecated: Fungsi WP_Dependencies->add_data() ditulis dengan argumen yang usang sejak versi 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/isla3269/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Panduan Memiskinkan Rakyat: Ketimpangan Akses Pendidikan

Panduan Memiskinkan Rakyat: Ketimpangan Akses Pendidikan di Indonesia

OPINI

Di ruang kelas sederhana, harapan tumbuh bersama keterbatasan. Pendidikan tetap menjadi jalan utama untuk memutus lingkaran kemiskinan. (Foto: Simonetta Pugnaghi)

Kebodohan adalah penyakit menular. Di samping itu dalam kemajuan zaman, ilmu pengetahuan menjadi pilar. Dengan kata lain, kemajuan saat ini disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan. Bayangkan. Dulu kuda menjadi alat transportasi. Untuk pergi dari kota ke kota lain membutuhkan waktu seharian. Kini hal tersebut tergantikan oleh mesin. Perjalanan dari negara ke negara lain cukup sehari.

Ilmu pengetahuan membawa perubahan. Bukan hanya dari segi teknologi. Namun aspek aspek lainnya: seperti sosial. Lihat saja pada zaman perbudakan. Manusia seperti barang yang diperdagangkan. Seolah tak memiliki nilai lebih selain menjadi alat. Ilmu pengetahuan mengubah tatanan itu. Menjadi tatanan yang lebih baik bagi semua manusia.

Seperti gambaran diatas. Pengetahuan membawa kepada perubahan yang lebih baik. Namun ada sebuah palu penghancur untuk kemajuan dari pengetahuan. Itu adalah kebodohan. Kebodohan menjadi penghancur pilar kemajuan zaman yaitu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dan kebodohan menjadi lawan. Bak rivalitas Real Madrid dengan Barcelona. Atau Persib dengan Persija.

Namun, rivalitas antara ilmu pengetahuan dengan kebodohan tak sama. Jika rivalitas antara klub bola menjadi ajang persaingan mana yang lebih baik. Mana yang lebih jago dalam sepak bola. Sebaliknya. Rivalitas ilmu pengetahuan dengan kebodohan seperti sebuah musuh dalam perang. Keduanya mencoba saling menghancurkan. Ilmu pengetahuan membawa perubahan. Perubahan dari tatanan diskriminasi menjadi lebih adil. Sedangkan kebodohan menyebabkan kondisi buruk tersebut.

Kekacauan kekacauan yang ada saat ini merupakan buah dari kebodohan atau ketidaktahuan. Orang yang tidak tahu mudah sekali dimanipulasi. Mudah sekali diprovokasi. Bisa dilihat dari pesta demokrasi baru-baru ini. Suara rakyat mudah sekali diarahkan. Pemilihan hanya berdasar sensasi bukan prestasi. Pemilihan hanya berdasar mana yang jago joget. Tapi kali ini kita tidak akan membahas itu lebih jauh.

Bisa disimpulkan, untuk mengubah kehidupan kita membutuhkan pengetahuan. Dimana pengetahuan bisa kita dapatkan dalam sekolah. Riset menunjukkan, banyak orang mampu mengubah ekonominya melalui pendidikan. Lalu bagaimana jika rakyat tak mendapatkan pendidikan. Tentunya adalah kebodohan yang subur.

Kebodohan jika diibaratkan penyakit, seperti virus. Virus jahat penghancur peradaban. Virus jahat yang mudah sekali menyebar.

Lantas, apa obat untuk kebodohan? Obatnya adalah pendidikan. Namun, pendidikan itu mahal. Data dari BPS (Badan Pusat Statistik –red) tahun 2024 menunjukkan bahwa rata-rata anak sekolah hanya sampai umur 15 tahun. Itu artinya kebanyakan anak Indonesia hanya mampu sekolah sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kenapa mereka tak mampu melanjutkan sekolah? Salah satu faktor utamanya adalah ekonomi. Mereka terpaksa putus sekolah karena orang tuanya tak mampu membiayai. Bukan karena mereka tak memiliki keinginan untuk bersekolah. Namun karena keterpaksaan akibat kondisi ekonomi.

Disamping itu, pemerintah belum mampu memfasilitasi secara optimal. Jumlah sekolah negeri yang tersedia masih belum memadai sebagaimana tercermin dalam kebijakan dan data pendidikan nasional. Kita ketahui bahwa untuk masuk sekolah negeri favorit ada seleksi ketat. Bisa dibayangkan. Anak-anak yang sedari kecil tak mendapatkan pendidikan yang layak akan kalah bersaing. Sehingga rakyat dengan ekonomi bawah terpaksa menyekolahkan anaknya di swasta. Padahal di swasta biayanya lebih mahal. Bukankah hal ini justru semakin mencekik rakyat?

Pendidikan yang layak kini menjadi mustahil bagi kalangan bawah. Gaji rata-rata saat ini tiga juta. Dengan biaya kuliah dalam hitungan kasar 90 juta. Katakanlah dia menabung 20% untuk pendidikan anaknya. Maka dalam sebulan bisa menabung 600 ribu rupiah. Kalikan dalam setahun, maka akan terkumpul 7,2 juta rupiah. Maka butuh 12,5 tahun untuk dapat 90 juta rupiah. Ini baru hitungan kasar belum dihitung dengan inflasi.

Beasiswa memang tersedia, tetapi jumlahnya sangat terbatas dan diperebutkan oleh banyak orang. Ada juga beasiswa yang mengedepankan nilai dan prestasi. Bisa ditebak murid dari keluarga berkecukupan akan menang. Karena ia sudah memperoleh pendidikan yang layak sedari kecil.

Hal ini seperti lingkaran setan. Yang miskin akan selalu miskin karena bobroknya sistem pendidikan. Mereka terpaksa putus sekolah untuk bertahan hidup. Lalu menikah dan punya anak. Lagi-lagi dengan gaji yang terlampau kecil. Sehingga anaknya juga terpaksa putus sekolah. Lantas bagaimana kalangan bawah mampu mengubah keadaan mereka?

Sehingga kata yang tepat adalah “mencerdaskan golongan yang berduit.” Karena pemerintah tak mampu memberikan akses pendidikan yang merata. Akses pendidikan makin hari hanya bisa dinikmati kalangan berduit.

Mencerdaskan bangsa menjadi angan semu. Konon katanya mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas negara. Namun dengan realita saat ini menunjukkan sebaliknya. Dengan bukti banyak anak putus sekolah, fasilitas pendidikan yang kurang memadai. Akses pendidikan yang sulit, terutama didaerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

Bagaimana bisa disebut mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau banyak anak putus sekolah. Banyak anak terpaksa putus sekolah karena keterbatasan biaya. Banyak anak tak mendapatkan pendidikan layak. Data dari BPS menunjukkan hanya 61% anak yang sekolah sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sudah seharusnya pendidikan menjadi prioritas utama. Karena memberikan pelayanan pendidikan yang layak adalah amanat negara. Pemerintah harus meninjau kembali regulasi untuk pendidikan. Agar mampu memberikan pendidikan yang layak. Memberikan akses pendidikan yang merata. Bagi semua kalangan ataupun daerah. Sehingga amanat “mencerdaskan kehidupan bangsa” bukan cuma omon-omon.

Penulis: Nurul Fahri Priyanda

Editor: Aryanti Artikasari

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *