Deprecated: Fungsi WP_Dependencies->add_data() ditulis dengan argumen yang usang sejak versi 6.9.0! Komentar kondisional IE diabaikan oleh semua browser yang didukung. in /home/isla3269/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Degradasi Adab Generasi Muda : Sistem gagal atau Minim Teladan

DEGRADASI ADAB GENERASI MUDA: KEGAGALAN SISTEM ATAU MINIMNYA KETELADANAN?

ARTIKEL

Fenomena degradasi adab di kalangan generasi muda kian mengemuka dalam ruang publik. Berbagai peristiwa yang mencerminkan menurunnya etika, mulai dari komunikasi yang tidak santun, lemahnya penghormatan kepada orang tua dan guru, hingga maraknya perundungan di ruang digital menjadi indikator bahwa persoalan ini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apakah kemerosotan adab ini merupakan kegagalan sistem pendidikan, atau justru cerminan dari minimnya keteladanan dalam kehidupan sosial?

Jika ditinjau dari sudut pandang sistem pendidikan, terdapat kecenderungan bahwa orientasi pembelajaran saat ini masih berfokus pada pencapaian akademik. Data Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa sistem pendidikan di banyak negara, termasuk Indonesia, masih berupaya mengejar ketertinggalan dalam aspek literasi, numerasi, dan sains. Dalam upaya tersebut, perhatian terhadap pembentukan karakter sering kali belum mendapatkan porsi yang seimbang. Pendidikan cenderung diarahkan pada penguasaan materi, sementara internalisasi nilai belum sepenuhnya terintegrasi dalam praktik pembelajaran.

Padahal, dalam kerangka pendidikan nasional, pembentukan karakter telah ditegaskan sebagai tujuan utama. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menekankan pentingnya nilai-nilai seperti integritas, religiusitas, dan gotong royong. Namun, dalam implementasinya, nilai-nilai tersebut kerap berhenti pada tataran konsep. Pembelajaran yang berlangsung di kelas masih didominasi oleh pendekatan kognitif, sementara pembiasaan nilai dalam kehidupan sehari-hari belum terbangun secara sistematis.

Kondisi ini diperkuat oleh hasil survei nasional yang menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan moral dan perilaku aktual. Banyak peserta didik memahami pentingnya sikap jujur, disiplin, dan santun, tetapi tidak selalu mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem pendidikan belum sepenuhnya berhasil mentransformasikan nilai menjadi karakter yang melekat.

Namun demikian, menempatkan seluruh beban pada sistem pendidikan tentu tidaklah cukup. Generasi muda tidak hanya belajar dari sekolah, tetapi juga dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam konteks ini, keteladanan memegang peranan yang sangat penting. Teori pembelajaran sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura menegaskan bahwa individu belajar melalui observasi dan imitasi terhadap perilaku orang lain. Artinya, apa yang dilihat oleh generasi muda dalam kehidupan sehari-hari memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan sikap dan perilaku mereka.

Sayangnya, realitas menunjukkan bahwa krisis keteladanan juga menjadi persoalan serius. Tidak sedikit orang tua yang menuntut anak untuk bersikap santun, tetapi tidak memberikan contoh yang konsisten dalam komunikasi sehari-hari. Di lingkungan pendidikan, masih ditemukan praktik-praktik yang kurang mencerminkan nilai kejujuran dan integritas. Bahkan di ruang publik, figur-figur yang seharusnya menjadi panutan kerap menampilkan perilaku yang kontradiktif dengan nilai-nilai moral.

Situasi ini diperparah oleh perkembangan teknologi digital. Laporan We Are Social (2024) mencatat bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 77 persen populasi, dengan mayoritas pengguna berasal dari kelompok usia muda. Media sosial menjadi ruang interaksi utama, tetapi juga menjadi arena di mana nilai-nilai sering kali terdistorsi. Fenomena seperti ujaran kebencian, budaya saling menghina, dan normalisasi perilaku tidak etis semakin mudah ditemukan.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat peningkatan kasus perundungan, termasuk yang terjadi di dunia maya. Data ini menunjukkan bahwa persoalan adab tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Tanpa literasi yang memadai dan keteladanan yang kuat, generasi muda rentan terpengaruh oleh konten yang tidak sejalan dengan nilai-nilai moral dan keagamaan.

Dalam perspektif ini, perdebatan antara kegagalan sistem dan minimnya keteladanan seharusnya tidak diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain. Sistem pendidikan yang baik membutuhkan dukungan keteladanan yang nyata, sementara keteladanan yang kuat memerlukan sistem yang mampu menginternalisasikan nilai secara konsisten.

Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan perlu bersifat integratif. Pertama, sistem pendidikan perlu direorientasi dengan menempatkan adab sebagai inti pembelajaran. Hal ini dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan berbasis pengalaman, di mana peserta didik tidak hanya memahami nilai, tetapi juga menghayati dan mempraktikkannya. Pembiasaan sikap, refleksi diri, dan penguatan budaya sekolah menjadi langkah penting dalam proses ini.

Kedua, penguatan keteladanan harus menjadi agenda bersama. Orang tua, guru, dan tokoh masyarakat perlu menyadari bahwa perilaku mereka merupakan cerminan nilai yang akan ditiru oleh generasi muda. Keteladanan bukan sekadar wacana, tetapi praktik nyata yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, keluarga memiliki peran strategis sebagai lingkungan pertama dalam pembentukan karakter.

Ketiga, literasi digital berbasis nilai perlu ditingkatkan. Generasi muda perlu dibekali kemampuan untuk menyaring informasi, memahami etika komunikasi di ruang digital, serta menyadari dampak dari setiap tindakan yang dilakukan. Pendidikan tidak lagi cukup hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga harus mampu menjangkau ruang digital yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Selain itu, peran media dan figur publik juga tidak dapat diabaikan. Dalam era keterbukaan informasi, apa yang ditampilkan di ruang publik memiliki pengaruh yang sangat besar. Oleh karena itu, diperlukan komitmen bersama untuk menghadirkan konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga mendidik dan mencerminkan nilai-nilai yang positif.

Pada akhirnya, degradasi adab generasi muda merupakan persoalan kompleks yang tidak dapat disederhanakan pada satu faktor tunggal. Ia merupakan hasil dari interaksi antara sistem pendidikan, lingkungan keluarga, masyarakat, dan perkembangan teknologi. Oleh karena itu, upaya perbaikannya juga harus melibatkan semua pihak secara sinergis.

Lebih dari sekadar mencari siapa yang salah, yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran kolektif untuk membangun kembali fondasi adab dalam kehidupan bersama. Generasi muda tidak hanya membutuhkan ilmu pengetahuan, tetapi juga teladan yang nyata dan sistem yang mendukung. Dengan demikian, mereka dapat tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat dan berakhlak mulia.

Penulis : Zulfikar

Editor : Ikhwan M Situmorang

redaksi

Islamika Media Group merupakan Lembaga Pers Mahasiswa yang berada di bawah naungan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *